I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Tak akan rela



“Sebenarnya apa tujuan anda, Tuan?”


“Hanya ingin menjawab rasa penasaran istri anda terharap putrinya.”


“Saya tahu ada maksud lain. Lagipula, bukankah memang Ana memiliki hak atas putrinya? Mungkin dia akan berubah setelah ini,”


“Anda selalu berfikiran positif, Pak Sam. Tapi semoga memang seperti itu, dan semua tak seperti yang ku duga selama ini,” jawab om edo pada rekan kerjanya itu.


Mereka mengadakan pertemuan berdua saat ini guna membahas zha yang ada di rumah pak sambodo, dan om edo menitipkan zha agar terus di awasi disana. Meski pak Sam juga tampak begitu perduli pada zha.


Pria itu memang sudah begitu tulus pada istrinya, bahkan menerima semua kekurangan yang ada karena mama ana jujur sejak awal tentang wajah dan putrinya. Walau ia juga sadar, jika masih ada yang ditutupi oleh sang istri. Ia juga menegaskan, jika terjadi sesuatu maka ia akan bertanggung jawab atas semua itu, terutama sesuatu yang akan mencelakai zha dan terjadi di rumah nya.


Om edo tak menceritakan mengenai van yang mencintai zha berbeda, ia membiarkan semua mengalir begitu saja dan yakin jika zha tak begitu ambil pusing dengan semuanya. Seperti saat ini, yang zha justru mengirimkan foti selfienya ketika tengah ada di sekolah bersama temannya yang lain. Dan bahkan om edo terkejut ketika zha duduk akrab bersama lidya didekatnya.


“Dia yang sering membullymu?” tanya om edo lewat pesa teks yang ia kirim.


“Iya, sekarang jadi temen zha. Ngga papa kan?”


“Boleh, tapi ingat agar jangan terlalu berharap.”


“Siap Papa Bear,” jawab zha dengan emoticon lovenya yang begitu banyak disana.


Zha saat itu memang tengah menunggu antrean untuk ijazahnya, sementara van sudah masuk terlebih dulu untuk mengurus semua.


Lidya bahkan sudah meminta maaf pada zha akan perlakuannya tempo lalu, yang saat itu hanya termakan ucapan dinda. Ia memang sejak lama menyukai zavan, dan dinda terus saja memanasinya dengan hubungan mereka berdua.


“Lagian zha juga ngga sakit hat ikan, kalau di ledek tentang hubungan sama om?” tanya zha, dan diawab anggukan oleh lidya saat itu juga. Mereka cepat akrab, dan sepertinya bisa saling memanfaatkan dalam hal ini, dan keduanya bahkan saling bertukar nomor hp agar bisa saling menghubungi.


“Zha, ayo,” ajak van yang keluar dari ruangan.


“Lah, nama zha belum dipanggil kok.”


“Udah, aku urus semuanya. Kita ke salon mama karena dia minta kamu kesana.” Meski zha dipenuhi pertanyaan, tapi dia tetap ikut dengan van.


Sebenarnya zha tengah merasa tak nyaman dengan tubuhnya saat ini. Mana mungkin tak nyaman, bahkan biasanya ia paling rajin mandi, tapi sekarang tidak. Ia membayangkan jika wika tahu hal ini, pasti dia akan mengomel dan langsung menyeretnya ke bawah shower, menggosok tubuhnya hingga bersih dan tak ada satu kumanpun yang tersisa.


“Zha?”


“Ya, Kak van?”


“Tadi itu mengganjal,”


“Hah, apanya yang mengganjal?” tanya zha dengan ucapan van.


“Tadi, kenapa kamu langsung sigap memberi penjelasan pada mereka dengan hubungan kita. Sementara ketika untuk om edo, kamu tak menjelaskan sama sekali?”


Zha hanya tersenyum sembari mengulum bibirnya sendiri. “Zha kan benar bilangnya, kenapa malah janggal? Kita sekarang kakak adik, kan?” tanya zha, dan van kembali menganggukkan kepala meski berat rasanya.


“Jangan bercanda, Zha.” Van menegurnya dengan suara yang terdengar parau. Tapi, saat itu zha justru hanya tersenyum miring dan kembali memainkan hpnya tanpa memperdulikan ekspresi van.


Hingga keduanya tiba di salon mama, dan van menggandeng zha untuk masuk kesana. Semua karyawan menatap mereka, bahkan ada yang memuji jika keduanya begitu serasi ketika masuk dengan tangan saling bergandengan.


“Hey, Sayang.” Mama ana langsung keluar menyambut mereka berdua dengan begitu ramah, bahkan mengecup kening zha dan mengusap rambutnya.


Ekspresi mama ana tampak aneh merasakan helaian rambut zha yang terasa begitu lengket dan berminyak ditangannya. Sepertinya ia sadar jika zha tak mandi hari ini, apalagi melihat wajah zha yang tampak kusam dan sama sekali tak segar seperti biasa.


“Mau ngapain zha kesini?” tanya zha pada sang mama.


“Mama hanya ingin kamu melihat usaha mama, Sayang. Dan mama juga akan memberikan perawatan untuk kamu, agar kamu semakin berkilau nanti. Bagaimana?” tawar mama ana.


Sebenarnya zha malas terlalu banyak berinteraksi dengannya, namun ia merasa itu cukup menguntungkan apalagi sebentar lagi ia akan menikah dan butuh perawatan demi calon suaminya. “Ngga papa deh, nanti kalau ketemu papa bear biar makin bening,” tawa zha dalam hati.


Van pamit meninggalkan mereka berdua untuk kembali ke kantor mereka, karena kabarnya akan ada pertemuan penting disana. Tapi ia belum tahu, siapa yang ia temui hari ini dan apakah ia akan terkejut melihatnya?


“Tuan Edo?” tatap van pada rekan bisnis ayahnya itu.


“Van, kamu sudah kenal Beliau, bukan? Dia yang mengasuh zha sebelum zha bersama kita.” Ayah sam kembali memperkenalkan keduanya, dan saat itu om edo hanya tersenyum menatap van yang seperti kurang menyukai keberadaannya disana.


Apalagi mengingat ucapan zha tadi di dalam mobil, yang memungkinkan bersatunya mereka berdua tanpa beban sama sekali dalam ucapan yang ia lontarkan.


Keduanya berjalan bersama menuju ruang rapat, bahkan mau tak mau duduk berdekatan karena semua kursi sudah penuh disana. Bisa dibayangkan bagaimana tak nyamannya van saat ini ketika dekat dengan pria yang mungkin akan merebut zha darinya.


“Bagaimana rasanya menjadi kakak?” tanya om edo pada wajah tegang van disampingnya.


“Kau ingin tahu? Aku penasaran ketika aku bisa mengatur adikku tentang siapa saja yang bisa dekat dengannya,”


“Aku penasaran ketika saat itu tiba. Apa kau juga akan membuat zha menjauh dariku?” tanya om edo dengan senyum manisnya, dan itu seperti tantangan untuk van untuk menjauhkan mereka berdua. Ia tak akan rela jika zha akan bersama om edonya saat ini atau bahkan seterusnya.


“Zha! Astaga, kenapa rambutnya gembel gini sih? Kamu jarang mandi ya? Mana kusem semua,” omel mama ana padanya.


“Zha rajin mandi di tempat yang tepat,”


“Jangan ngawur, Zha. Apa bedanya disana dan sama mama?” tanya mama ana yang mulai menyiram kepala zha dengan shower yang ia pegang.


“Kenyamanan,” jawab santai zha, tapi mama ana justru hanya menghela napas menjawabnya.


“Mama akan buat kamu lebih nyaman bersama kami hingga kamu tak pernah ingin kembali kesana,” ucap mama yang mulai menjalankan pekerjaan memvermak gadisnya sendiri.


“Dengan apa? Dengan semua kepalsuan yang ada?”


“Kamu hanya belum tahu bagaimana kehidupan, Zha. Yang kadang kamu harus menjadi gila hanya karena ambisi yang ada." Zha hanya diam, matanya terpejam menikmati semua pijatan lembut dikepalanya. Ia bhakan seperti sama sekali tak mau mendengar ocehan sang mama padanya.