I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Zhavira Vs Dinda



“Itu bukan dinda, kan? Zha ngga percaya,” tukas zha dengan apa yang ia lihat saat ini.


“Bahkan dia ada didepan mata kamu, Zha.” Van membalas dengan wajah prihatinnya pada zha saat ini. Ia syok, bahkan membungkam mulutnya sendiri dengan telapak tangannya, mungkin berusaha agar ia tak menangis di depan van.


Hati zha teramat sakit dengan semua kenyataan yang ada. Apalagi denga napa yang diungkapkan van padanya yang semakin lama semakin mengungkapkan begitu banyak fakta. Tulisan di meja, di madding, dan foto itu rupanya dinda lah yang mengambilnya untuk meledek zha. Entah kapan dan kenapa dinda ada di Hotel yang sama dengan zha saat itu ketika tengah menemani om edonya sembari jalan disore hari yang indah.


Zha masih bertanya-tanya, apa maksud dinda melakukan semua itu padanya. Padahal, nasib mereka sama. Mereka adalah siswi yang tertindas disana, bahka dinda sempat mati-matian membela zha. Untuk apa dibela dari mereka, jika akhirnya dia yang menghancurkan semuanya. Dan bahkan menyakiti zha lebih parah dari apa yang mereka lakukan pada zha selama ini dengan cara terang-terangan.


“Ini yang kakak maksud saat itu?” tanya zha, dan dibalas anggukan van.


“Dinda hanya ingin menguasai kamu, zha.” Van bahkan menjelaskan kenapa dinda terus saja meminta zha menjauhi van. Yang saat pulang mengantar zha, dinda juga sempat meminta van untuk menjauhi zha dengan alasan zha terlalu polos untuk dimanfaatkan. Padahal van begitu tulus, dan sama sekali tak ada niat lain pada zha kecuali karena menyimpan rasa cinta.


Sejak saat itu van mulai curiga, apalagi dengan obesesi dinda yang begitu menggebu-gebu untuk menjauhkan keduanya.


Zha menatap lagi dinda yang masih menari dengan begitu bahagia disana. Ia justru semakin liar berteriak kegirangan ditemani para pria yang ada didekatnya dan menari bersamanya. Zha akhirnya menangis. Air matanya tak tertahankan lagi untuk ia bendung saat ini. Hatinya sakit ketika membayangkan persahabatan mereka yang ia kira tulus dan penuh cinta.


“Zha… Zha sakit, Kak. Kenapa dia jahat banget sama zha? Kenapa? Apa masih ada yang lain? Apa dia yang hubungi om dan fitnah kita, dan bahkan dia yang_”


“Aku tak tahu apa alasan jika dia berbuat dan merencanakan semuanya. Kau mau tahu, atau kau akan diam saja dan menjauhinya?”


Zha menggelengkan kepala dan terus mengusap air matanya. Rasanya tak bisa berhenti, dan justru semakin deras mengalir membasahi pipi. Semakin ia seka, maka semakin banyak yang membasahi pipinya.


Van menatap zha. Saat itu ia begitu ingin mendekap gadis itu dengan pelukan hangat hingga menghentikan air matanya. Namun, ia menahan diri dan ia membiarkan zha meluapkan segala perasaan sakit di dalam dadanya. Hingga ketika waktunya ia diam dan mengambil Tindakan akan dinda.


Om edo yang merasa tak tenang disana akhirnya masuk kedalam. Ia menatap zha dengan air matanya, dan itu membuatnya sakit. Ia berjalan cepat, lalu meraih lengan zha menarik hingga jatuh kedalam pelukannya. Bukan berhenti, tangisan zha justru semakin kencang dengan segala rasa kecewa yang ada dihatinya. Bahkan zha beberapa kali menepuk dada om edo dan meluapkan semua perasaan kecewa itu disana.


Van hanya bisa melihatnya. Menatap mereka dengan perasaan yang hampa, dan andai dia bisa melakukan hal yang sama. Entah kenapa itu begitu sulit, dan ia tak bisa melakukan apa yang om edo lakukan pada zha.


“Dia jahat! Padahal selama ini zha udah sayang banget sama dia. Bahkan zha anggap dia sebagai saudara. Kenapa jadinya begini, Om? Sakit hati zha dibuatnya.” Zha tersedu sedu di dada om edo saat itu.


“Dia yang selalu bela zha, dan dia yang selalu didepan ketika zha di bully sama mereka. Tapi tenyata_ Kenapa begini, Om? Apa seseorang seperti zha ngga pantas punya sahabat? Zha sakit. Sakit sekali rasanya,” imbuh zha dengan suara yang mulai serak.


Om edo meraih kepala zha dan semakin mendekapnya. Ia sakit melihat zha dibuat seperti ini oleh gadis yang ia anggap sebagai sahabatnya sendiri. Apalagi ia bahkan sempat menahan diri ketika melihat zha dibully beberapa saat lalu oleh mereka disana. Ia segera meraih hp dan menelpon seseorang dan memerintahnya segera datang.


“Apa yang akan Anda lakukan?” tanya van.


“Melakukan apa yang belum kau lakukan. Tapi aku berterimakasih kerena kau telah menunjukkan semua ini.” Om edo mengepalkan tangan menggenggam hpnya dengan wajah datar, tapi begitu menampakkan kemarahan di dalam dirinya.


Hingga tak beberapa lama orang yang ia panggil datang. Bahkan membawa seseorang yang behubungan dengan dina, dan tak lain adalah ayahnya.


Pak han begitu mengenali siapa om edo, dan ia seketika pucat ketika dibawa secara paksa dan berhadapan langsung dengannya di tempat yang bahkan tak layak dijadikan tempat mereka bertemu. Tapi ia tak sempat bertanya kenapa, karena ia hanya melihat ekspresi om edo dengan tatapan mata yang fokus kedepan dan ia mengikuti arah pandangannya.


“DINDA!!!” pekik pak han sekuat tenaga pada anak gadisnya.


Ia mengakui, semua kesibukannya itu membuatnya tak sempat memperhatikan sang buah hati. Tapi ia mempercayakan semua pengasuhan anak-anak kepada istrinya yang fulls sebagai seorang ibu rumah tangga dengan dua anak mereka, dinda dan adik lelakinya. Dan ia juga tak menyangka, jika pengawasan dinda lolos separah ini dari istrinya.


Dinda samar-samar mendengar pekikan suara itu ditelinga. Ia teler, dan bahkan matanya sudah sulit melihat dengan jelas akan siapa yang memanggilnya. Tapi suara itu, tercerna adalah suara ayahnya. Ia terperanjat. Bagaimana ayahnya tahu dia ada disana sekarang, apalagi dalam kondisi seperti itu. Yang bahkan ia tengah dikerumuni para laki-laki. Dan ketika ia mengucek mata, ia justru dikagetkan keberadaan van dan zha yang juga ada disana.


“Astaga! Zha!” Dinda justru seperti tak perduli dengan ayahnya dan justru turun menghampiri zha sat aitu juga. Ia meraih tangan zha dan mencoba menjelaskan sesuatu padanya.


“Zha, aku bisa jelasin. Aku ngga seperti yang kamu lihat, Zha. Pasti_pasti dia yang menjebak aku saat ini, Zha. Dia itu memang ngga suka ketika aku deket sama kamu,” tunjuk dinda pada van saat itu juga. Sangat manipulatif, padahal ia sudah ketangkap basah oleh mereka semua.


“Seperti kau menjebak aku dan zha di kamar Hotel itu?” tanya van dengan wajah datarnya.


“Engga, Zha… Engga. Dia bohong sama kamu, Zha. Dia bohong!!” teriak dinda sejadi-jadinya. Bahkans semua pengunjung memperhatikan mereka semua dari tempatnya.


“Dinda!!” Pak Hans membentak. Ia bahkan mengepalkan tangan dan ingin memukuul putrinya saat itu juga dengan kegeraman yang ada. Akan tetapi om edo menahan lengannya agar itu semua tak terjadi.


Om edo meminta anak buahnya untuk segera memboking sebuah ruangan untuk mereka dan bicara disana termasuk van.


Hingga akhirnya sebuah ruangan yang lebih tenang mereka dapatkan. Semuanya masuk dan duduk bersama disofa yang tersedia disana, yang sebenarnya adalah ruangan VVIP karaoke yang tersedia. Biasanya beberapa memboking para Wanita untuk menemani para pengusaha untuk bersenang-senang disana.


“Urusan kalian selesainkan di rumah, karena sekarang adalah urusan mereka dengan gadisku. Harus diselesaikan saat ini juga,” ucap om edo yang mengenggam bahu zha saat itu juga.


“Zha kira dinda tulus, tapi kenapa seperti ini? Dinda kenapa sama Zha? Dinda benci sama zha?” tanya gadis itu dengan suara seraknya, bahkan nyaris habis efek menangis barusan.


“Ya, dinda benci sama zha. Kenapa? Zha bertanya kenapa? Karena zha sudah merebut perhatian mereka semua dari dinda selama ini. Dinda kira zha orang miskin seperti dinda, tapi rupanya? Dinda jadi semakin terpojok ketika mereka membandingkan kita berdua. Ketika dinda selalu ada dibawah zha.


"Tapi Zha ngga pernah mau kelihatan lebih punya dari Dinda. Zha selalu sederhana dan tak pernah berlebihan."


"Tapi gara-gara itu, mereka selalu membawa dinda ketika membuly zha. Mereka selalu membandingkan kita berdua, dan Dinda akan selalu kalah dari zha."


"Tapi zha ngga pernah mau bersaing dengan siapapun, termasuk dinda..."


"Tidak!! Kamu memang ngga bersaing, tapi keadaan mempersaingkan kita." Dinda lalu tertawa terbahak-bahak didepan mereka semua. Mungkin karena mulai mabuk dengan minuman yang mulai larut di sekujur tubuhnya.