
“Kok ada disini?” tanya zha yang masih seakan tak percaya bertemu dengan kekasihnya disana. ia terlampau bahagia, karena sudah Tiga hari sama sekali tak bertemu dengannya.
“Apa yang tak kau tahu tentangmu, Nduk. Bahkan aku tahu dengan siapa saja mamamu itu berusaha mencari jodoh untukmu,” jawab om edo dengan wajah kesalnya. Bahkan saat ia dengar hal itu, om edo segera mencari tahu mengenai mereka dan memperingatkannya tentang siapa zha.
“Pantes ngga ada yang mau sama zha. Kirain karena apa? Apa zha ngga cantik, atau_” Zha bergaya centil memperhatikan diri didepan kaca dengan dress pendeknya, dan saat itu om edo langsung melepas jas dan mengikatnya di pinggang mungil zha.
“Dia mengajakmu bertemu dengan banyak pria dan berpakaian seminim ini?” geram om edo melihatnya. Andai ia tahu atau melihat, saat itu juga ia akan menarik zha dan membawanya pulang meski mama ana akan mengamuk karenanya.
Zha hanya diam dan tersenyum bahagia mendengar ocehan cemburu dari kekasihnya. Rasanya, ia ingin membuat om edo diam dengan menyumpalkan bibirnya disana, tapi itu tak mungkin terjadi karena ramai dan ada lidya. Dan zha akhirnya tahu, jika lidya yang memberitahu om edo jika mereka akan keluar bersama beserta tempat yang akan mereka tuju.
Om edo salah satu teman dekat papa lidya, dan bahkan tak lama ini membantu menjadi donator di perusahaan papa lidya yang hampir kolaps gara-gara ditipu investornya. Maka dari itu lidya berterimakasih dan akan berusaha mempertemukan atau bahkan mempersatukan mereka meski tak lagi begitu banyak berharap tentang perasaan van.
“Kamu jadi mau cincin itu, Nduk?” tanya om edo padanya.
“Mau, boleh? Buat cincin pernikahan,” ucap zha yang kemudian menggelendot manja pada keaksihnya.
“No, aku sudah memilihkanmu sebuah cincin berlian yang lebih bagus dari ini.”
“Wuaa! Serius? Zha jadi penasaran deh, mana?”
“Rahasia,” colek om edo di hidung bangirnya.
Tampak jika lidya sudah menemukan apa yang dicari dan langsung membayarnya. Ia menghampiri zha dan om edo, tak lupa memberi hormat padanya seperti biasa.
“Apa kabar, Om?” tanya lidya padanya.
“Baik, Dya. Kamu dan mamamu baik?’” tanya om edo, karena saat nyaris bangkrut mama lidya bahkan sempat drop dan di rawat intensif di Rumah sakit saat itu, dan lagi-lagi om edo dan zha adalah penolongnya.
“Baik, Om. Apa om mau bawa zha pergi? Ngga papa, nanti dya akan_”
“Kamu ikut. Nanti kalau kak van hubungi, gimana?” ajak zha menegrucutkan bibirnya.
“Ngga enak jadi kambing congek, Zha.” tatap tajam lidya padanya, yang kesal jika harus terus menatap kemesraan mereka berdua.
Zha hanya tertawa melihatnya, gemas karena sahabat barunya itu menjadi manis meski kadang masih judes dan suka bicara blak-blakan serta spontan. Tapi setidaknya lidya jujur, dan zha sudah amat terbiasa dengan spontanitas yang lidya berikan padanya. Hubungan mereka terasa begitu renyah tanpa banyak rahasia dan kebohongan di dalamnya.
Zha menggandeng tangan om edo dalam perjalanan mereka, dan lidya dengan santai berjalan dibelakamg keduanya. Mereka tak kemana-mana, hanya menghabiskan waktu untuk makan siang bersama dan menuju sebuah butik untuk memesan sebuah gaun untuk zha, terutama untuk pernikahan mereka.
Zha hanya melihat dan mencobanya, karena semua sudah di handle wika dari kejauhan, darimana lagi jika tak dari lokasi tambang karena sudah hampir seminggu ia disana menemani suaminya.
Zha yang mencoba gaun itu tak lupa memotret dan memberitahu wika dengan gaun yang tengah ia coba disana. Wika sampai gemas, gaun itu begitu pas seperti memang ditakdirkan untuk zha pakai dalam pernikahannya nanti, bahkan wika memberi emoticon sedih karena ia tak bisa menemani gadisnya itu dalam moment sibuknya disana.
“Zha aku ke toilet dulu, ya?” pamit lidya yang telah membantu membuka gaun zha, dan ia hanya tinggal mengganti dengan dressnya semula.
Usai dengan semua itu, zha langsung menghampiri om edo yang duduk santai di ruang vvip dengan tab ditangannya. Ia tak bisa meninggalkan pekerjaan begitu saja dan harus membawanya kemana-mana. Zha duduk tepat disampingnya, bahkan meneguk segelas the yang terhidang disana.
“Sudah, Nduk?”
“Sudah, gaunnya cantik, pas di badan zha. Sayangnya om ngga bisa lihat,” jawab zha.
“Wika bahkan sudah puluhan kali memperingatkan semuanya. Tapi tak apa, karena pada akhhirnya nanti aku yang akan melihat dan bahkan membukanyya,” celetuk om edo yang seketika membuat zha membulatkan matanya.
“Ih, apaan?? Kok ngomongnya gitu?” kesal zha memukuli tubuh besar itu dengan tangan mungilnya. Namun, om edo hanya meraih dan menggenggam tangan mungil itu kemudian mengecupnya dengan mesra, meski tatapan tetap berfokus pada tab yang ia pangku diatas pahanya.
Hingga lidya akhirnya datang lagi, ia mengajak zha untuk pulang karena hari sudah mulai sore saat ini. Meski berat, zha harus ikut dengannya dan kembali pada mama ana untuk sementara. Sebentar lagi, dan zha harus tahan semuanya demi kebahagiaan mereka.
“Zha, sudah pulang, Sayang?” tanya mama ana yang menyambutnya dan lidya.
“Tan, maaf lama karena susah cari kadonya. Dan tadi, dya sempet cari gaun juga buat pesta besok.” Lidya memberi alasan yang mudah diterima oleh mama ana saat itu, dan meyakinkan karena zha juga membawa sebuah paper bag berisi gaun ditangannya.
Lidya langsung pulang setelahnya, dan zha segera masuk kedalam kamar untuk membersihkan diri. Namun, saat itu van masuk dan menghampiri zha dengan tatapan tajamnya.
“Bertemu siapa kau barusan?” tanya van, seperti tahu pertemuan antara om edo dan zha.
“Kakak tahu? Jadi zha ngga perlu rahasiakan lagi dong, dan bahkan mungkin om edo akan bebas menjamput zha kesini jika ingin bertemu,” jawab santai zha padanya, yang mengeluarkan gaun dan cincin yang dibelikan oleh kekasihnya.
Begitu pas ketika ia pakai, seperti memang tercipta untuk dirinya. “Aku berhak melarangmu, Zha. Kau adikku, dan kau tinggal di rumahku.”
“Zha bukan anak kecil lagi, Kak. Bahkan zha berhak memilih dengan siapa zha akan ikut saat ini. Atau, perlukah kita bersama ke pengadilan untuk memutuskan semuanya? Tapi zha rasa itu tak perlu, karena kak van sendiri akan tahu keputusan mereka.”
Van dengan amarahnya langsung mengepalkan tangan dan memukul tembok yang ada disampingnya saat itu juga. Zha benar-benar berubah, tak seperti dulu yang selalu van banggakan sebagai gadis manis yang ceria dan bisa membuatnya bahagia.
“Kakak tanya kenapa zha seperti ini? jawabannya ada pada kakak sendiri.” Zha meraih handuk dan segera masuk ke kamar mandi, tak perduli lagi dengan van yang masih disana dengan segala emosinya.
"Kakak ngga berhak melarang zha, karena larangan itu adalah alasan untuk zha bisa segera pergi dari sini."