
Mama ana terus berjalan dalam diam memikirkan kejadian barusan. Ia tak menyangka jika zha akan menolaknya seperti ini, meski sempat terenyuh ketika mengakui jika ia merindukan mamanya selama ini. Ia mertuki kebodohannya, kenapa tak diam mengalah dan meminta maaf pada zha dan terus mencoba meluluhkan hatinya?
“Kenapa harus aku lawan dengan keras? Jika seperti ini zha akan semakin tak ingin bersamaku nanti,” galaunya pada diri sendiri. Belum lagi ketika menghadapi van di rumah nanti, yang pasti ia akan terus menekan sang mama untuk segera membawa zha pulang padanya.
Kadang mama ana tersenyum bangga mengingat putrinya yang jadi primadona, yang menjadi rebutan pria mapan didekatnya. Andai ia berfikiran mengambilnya sejak awal dari sang mantan suami, pasti ia tak akan seperti ini. Mana dia tahu jika van sebenarnya menginginkan adik, dan bahkan mungkin bisa saja mereka Bersatu karena tak ada ikatan darah antara keduanya.
“Ah, mikir apa aku? Rasanya semua menekan kepalanya dengan begitu kuat membuat sesak didadanya.
Hingga akhirnya ia tiba di rumah besar itu, dan bahkan ia ragu untuk masuk kemudian bertemu dengan van yang pasti akan terus mempertanyakan mengenai zha. Dan benar saja, Van turun ketika mama ana masuk kerumah mereka.
“Van, sudah pulang, sayang? Hari ini ngga ada kuliah?” tanya mama ana. Van memang langsung kuliah dengan mengikuti jalur khusus di kampusnya, dan bisa diperkirakan ia juga akan lulus cepat nanti. Tapi van juga menggunakan kepintarannya sendiri hingga tak hanya bisa memanfaatkan previlage yang ia punya..
“Belum berhasi?”
“Tadi mama hanya datang untuk melihat zha, Hanya ingin memastikan bagaimana zha disana, tapi sedang ada pernikahan sehingga mama tak bisa berbuat banyak.” Mama ana berharap semoga van memahami alasannya saat ini.
“Van harap itu bukan Cuma alasan,” balas van yang saat ini berdiri tepat disebelah mama zha dengan tatapan tajamnya.
“Ji-jika van ngga percaya sama mama, van bisa lihat kesana. Om yan dan wika yang menikah,” balas mama meyakinkan sang putra.
Van hanya mengagguk mendengarnya, lalu ia pergi keluar tanpa pamit entah kemana. Mama ana menghela napas lega, karena setidaknya van tak kembali menuntutnya atas zha hari ini.
Acara pernikahan yang skral disana berganti menjadi pesta meriah. Kantor utama yang ditutup cepat menghadirkan banyak karyawan yang datang ikut meramaikan acara itu. Meski om edo sempat melarang mereka, tapi nyatanya semua tetap datang untuk memberi selamat pada perwakilan bos mereka. Dan saat itu om edo juga tak akan bisa melarang karena om yan dan wika bahagia.
Om edo duduk dikursinya sembari menikmati minuman yang tersedia disana. Ia diam, sesekali melihat wajah zha yang tampak sendu dan tak bisa menikmati suasana sore yang indah itu.
“Zha?” panggil om edo padanya.
“Zha lagi ngga mood, Om. Zha balik ke kamar aja, ya? Om disini nikmatin pesta sama mereka.” Zha benar-benar berdiri dan menyingkir dari tempatnya. Ia berjalan terus masuk kedalam rumah menuju kamar.
Saat itu wika dan om yan menyadari semuanya, mereka datang dan langsung bertanya pada om edo mengenai zha. “Lebih baik kau temani dia, Do. Dia butuh sandaran saat ini atas kegundahan hatinya,” pinta om yan. Karena jika bukan karena mereka yang terlanjur datang, pasti pest aitu sudah berakhir sejak tadi dan akan fokus pada zhavira.
“Kami bisa mengatasi ini, Apalagi, acara hanya tinggal sebentar.” Wika ikut meyakinkannya, padahal ia juga ingin sekali naik keatas dan memeluk zha.
Om edo mengangguk, Ia segera berjalan dengan cepat naik keatas menemui zha. Saat itu ia mencoba mengetuk pintu kamar zha beberapa kali namun tak ada jawaban darinya, hingga akhirnya ia menarik handle pintu itu dan terbuka karena zha tak menguncinya dari dalam. Seperti ia memang sengaja megharapkan seseorang datang untuk memeluk dan menenangkannya saat ini.
“Zha?” panggil om edo padanya. Ia terus berjalan dan menghampiri zha yang tengah memeluk erat bearnya, terdengar pula isak tangisnya disana.
Om edo naik keatas ranjang dan merangkak hingga akhirnya memeluk tubuh zha dengan erat dari belakang, bahkan ia menelusupkan satu tangan dibawah leher zha mempererat dekapannya. Kepala belakang zha tepat ada di dadanya, sesekali ia megecup aroma wangi rambut zha dan ia hirup kuat dengan hidung bangirnya.
“Om tahu, kenapa zha seolah tak sabar ingin dinikahi?”
“Percayalah, dia tak akan bisa mengambilmu dariku kecuali kau sendiri yang datang padanya.” Zha meregangkan dekapan om edo, kemudian membalik tubuh dan menghadap padanya. Ia mendongakkan sedikit kepala agar dapat menatap mata kekasihnya itu dan melihat kesungguhannya.
“Kenapa, kau ragu?”
“Kalau dia nekat, bagaimana? Dia bisa saja melakukan test DNA dan memperkuat tuntutannya,”
“Sepertinya Zhavira belum tahu benar siapa calon suaminya. Atau ia berfikir seorang Edo Lazuardo hanya perjaka tua tak bisa apa-apa dan hanya diam dirumahnya.”
“Tua, tapi zha suka.”
“Dasar, kau benar-benar meganggap aku tua rupanya.” Om edo menatapnya kesal, lalu jari jemari yang tadi memeluk zha berubah posisi untuk menggelitik pinggangnya.
Sontak zha meggeliat kegelian. Yang tadinya menangis tersedu saat ini tertawa terbahak-bahak meski masih ada sisa air mata yang membasahi pipinya. Bahkan ia berteriak minta ampun karena rasa geli yang menjalar keseluruh bagian tubuhnya.
“Kau minta ampun? Katakan lagi kalau aku tua?” tatap datar om edo padanya.
“Ngga tua. Tapi… Tapi… Aaah, geli!!” pekik zha dihadapannya. Ia tak bisa melawan karena kalah tenaga, ia juga sulit melepaskan diri karena bear ada dibelakangnya seolah mendukung tindakan om edo padanya.
Hingga akhirnya zha nekat, ia meraih wajah itu dan langsung mengecup bibirnya. Meski hanya sekilas, tapi benar jika om edo segera mengentikan hukumannya pada zha.
“Nakal,”
“Tapi suka kan? Sini zha cium lagi,” goda zha memanyunkan bibir dan memejamkan matanya.
“Hhh,” tawa kecil om edo dengan bibir yang melengkungkan senyum indahnya. Ia meraih kepala belakang zha dan mendekatkan keduanya, semakin dekat dan semakin tanpa jarak hingga…
“Om… mereka nyalain kembang api! Keluar yuk,” ajak zha secara tiba-tiba, dan saat itu om edo segera menjatuhkan kepalanya kembali dibantal mereka.
“Ayooo,” ajak zha yang berdiri kemudian menarik tangan kekasihnya dengan paksa.
Dengan malas, om edo menuruti zha keluar dan berdiri di balkon kamarnya menatap kembang api yang mereka nayalakan menandakan berakhirnya pesta mereka sore ini.
Zha menatapnya dengan amat takjub, seakan itu semua melebur kegundahan yang ia rasakan hari ini. Om edo kembali memeluk zha dari belakang dengan satu tangannya, sementara tangan lain mengusap kepala dan rambut zha. Begitu mesra hingga mereka tak sadar ada sosok yang menatap nanar keduanya dari kejauhan.
“Kau bahagia, zha? Apa kau tak tahu jika aku sakit ketika melihat semuanya dari sini. Aku juga ingin membuatmu bahagia, zha.”
Zavan ada didalam mobilnya menatap kemesraan mereka berdua, begitu sakit rasanya bahkan saat itu ia ingin menangis hanya karena zha. tapi salahnya sendiri, kenapa harus datang kesana hingga ia harus melihat semuanya.