I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Perhatian semua orang



“Nduk, Baby?”


“Ya, Sayang? Ada apa?” Percakapan itu mereka mulai ketika sarapan pagi bersama. Saat itu masih om edo yang begitu telaten melayani istrinya.


“Apa kau tak merasa pusing, mual, atau lemas?” tanya om edo memperagakan semua rasa ketika hal itu terjadi. Tangannya berputar dikepala, mengelus perut dan bahkan bergaya seperti orang yang tengah menahan sesuatu keluar dari mulutnya.


Zha menatapnya dengan fokus kemudian menggelengkan kepalanya. “Ngga ada. Zha ngga ada rasain itu semua sekarang. Kenapa?” tanya zha yang mulai menyantap sarapannya.


“Maukah kita periksa ke_Dokter?” Om edo bahkan sejenak menghentikan ucapannya karena ragu. Ragu jika zha akan sedih dengan permintaannya kali ini yang tampak penasaran dengan keadaan dirinya.


Tapi zha kembali menggelengkan kepala. Wajahnya tampak sendu menundukkan kepala menghindari tatapan mata suaminya. Om edo mengerti, pasalnya memang sudah setahun ini ia rutin chek up tapi belum ada hasil sama sekali dari apa yang ia inginkan. Ia selalu kecewa ketika harapannya begitu tinggi hanya karena telat haid, masuk angin, atau bahkan sedikit lelah.


“Tunggu nanti, ya? Takutnya gejala yang ada hanya karena mau datang bulan atau seperti biasa, zha kelelahan.” Zha berusaha bicara dengan begitu lembut agar tak mengecewakan suaminya saat ini.


“Tapi, kita harus tunda menjenguk wika. Bagaimana?”


“Sayaaaang,” keluh manja zha, karena jujur ia amat menginginkan menjenguk kakak dan omnya disana. Tapi om edo dengan begitu kuat memberikan pengertian pada sang istri karena harus menjaga kesehatannya sendiri saat ini.


“Sebelum pernikahan van, kita akan kesana. Aku janji,” ucap om edo menggenggam tangan istrinya.


“Tapi dipastikan babynya udah lahir lah!”


“Lalu apa bedanya? Bukankah kita memang sudah menunggu itu semua?”


“Beda! Iih, ngga ngerti sih, ah.” Zha tampak begitu kesal, jengkel dan marah saat ini. Serasa om edo yang berjanji, tapi ia juga yang kemudian mengingkari dengan segala harapan yang ia beri. Napsu makan zha jadi terhenti karenanya.


“Hey, Sayang. Aku melakukan ini demi dirimu, aku melihat kau memang begitu cepat lelah, wajahmu pucat, dan_”


“Zhavira?” tatap tajam om edo ketika mempertemukan kedua mata mereka. Hingga akhirnya zhavira hanya bisa mengangguk untuk menuruti perintah suaminya.


Om edo akhirnya tersenyum, ia mengusap wajah zha yang mendung agar kembali ceria dan bahkan beralih menyuapinya hingga makanan itu habis tak tersisa. Barulah saat itu zha bisa kembali mengulurkan senyum padanya.


“Tapi zha harus ikut kemanapun sayang pergi diluar dari kantor.” Zha mulai lagi dengan permitaan anehnya.


“Bukankah memang kau selalu ikut? Kapan aku pernah meninggalkanmu?”


“Ngga pernah, hehehhe.” Zha cengengesan menjawabnya, pertanda jika mood zha sudah berubah menjadi baik-baik saja seperti biasa.


Hingga om edo menyelesaikan sarapan dan zha mempersiapkan semua alat yang harus dibawanya ke kekantor. Zha menggandeng tangan sang suami dan melambaikan tangan ketika ia pergi. “Ya, di rumah lagi. Kemana enaknya hari ini? mana dalam pengawasan ketat lagi.” Zha ingat pesan wika dan lidya kala itu, ketika mereka memberi wejangan dengan hal yang sama.


Tapi zha juga tak mungkin mengajak lidya pergi sepagi ini. Ia yakin jika sahabatnya itu belum bangun karena kelelahan pesta semalam dengan segala rasa bahagia yang ada. Bahkan zha enggan menghubungi karena takut mengganggu istirahat lidya saat ini.


Namun tanpa ia duga, lidyalah yang saat itu menghubunginya.


“Iya, Dya?”


“Kok kamu ngga ada hubungi aku daritadi? Aku cemas tauk!”


“Lah, cemas kenapa loh? Aku di rumah daritadi ngga ngapa-ngapain kok.” Zha melirik tajam pada sahabatnya itu.


“Ya… Pokoknya cemas lah. Aku bahkan susah tidur lagi mikirin kamu,” omel lidya dengan segala keanehannya.


“Ini orang-orang pada kenapa sih?” gumam zha dalam hati. Baru saja akur dengans suami, justru sahabatnya yang berulah lagi. Belum wika yang menyusul aneh kemdian setelah ini.