
Makan siang terasa begitu nikmat. Zha makan dengan begitu lahap karena memang sang suami memesankan menu favoritnyya saat itu, dan lagi karena zha seperti kehabisan tenagan akibat pertempuran singkat nan begitu nikmat yang barusan mereka lalukan. Bahkan sampai zha harus memesan dress baru secara online karena kebrutalan om edo yang merobek semuanya.
“Padahal itu dress kesayangan zha,”
“Tak usah menggerutu, aku sudah membelikan yang lebih indah dan lebih mahal dari itu.” Zha memanyunkan bibir mendengarnya dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
“Terimakasih untuk hidangan pembukanya, Nduk.” Om edo mengecup pipi zha yang saat itu ada disebelahnya.
Usai dengan makan siang itu zha menopang dagu menatap ke jendela kaca yang ada disebelahnya. Ia memperhatikan anak-anak yang bermain diluar sana begitu riang dan gembira, sesekali tersenyum tapi sesekali pula menampakan raut wajah sedih pada mereka disana.
“Apa karena zha masih belum dewasa, hingga sepertinya sulit?
“Apa menurutmu aku yang terlalu dewasa, hingga kita kesulitan mendapatkannya?” sambung om edo dengan pertanyaan balik pada zha.
“Sayaaaang, ngga gitu. Maaf kalau zha buat sayang tersinggung. Zha Cuma ngga enak aja, karena belum menjadi istri yang sempurna dan memberikan keturunan seperti yang lain.” Zha bersandar manja di dada bidang suaminya.
Padahal sering kali om edo menenangkan, tapi sepertinya itu hal itu masih mengganggu fikiran zha. Apalagi terkadang mama masih iseng menggodanya, memamerkan keberhasilannya yang juga menikah dan hamil di usia yang sama seperti zha saat ini. Itu tanpa sadar juga mempengaruhi fikiran zha.
“Baru setahun. Mungkin Tuhan masih mengizinkan kita untuk pecaran dan bermesraan, bulan madu sesuka hati seperti tadi. Hmmm?” goda om edo. Zha yang tersipu dengan spontan menepuk dada bidangnya dengan kuat.
Kadang ucapan itu menenangkan, tapi namanya manusia pasti akan menerima begitu banyak penilaian diluar sana secara tak terduga. Apalagi zha mulai aktif ikut kemanapun suaminya pergi, dan kadang ada saja orang yang bertanya dengan nada sindiran padanya. Ia terima jika dirinya sendiri dihina, tapi jangan sampai membawa nama ayah atau suaminya dengan tuduhan yang macam-macam. Andai tak ada om edo, pasti zha sudah menghajarnya saat itu juga.
“Tuan Edo, Anda sedang makan siang disini?” sapa salah seorang rekan kerja yang datang bersama istrinya. Yang kebetulan, saat itu tengah mengandung anak kedua mereka. Zha menatapnya gemas, bahkan ia segera mempersilahkan duduk wanita itu agar ia bisa mengelus perutnya.
“Kak, ini sudah berapa bulan? Udah gede,” gemas zha.
“Sudah Delapan, tinggal menunggu waktu saja antara normal atau caesar. Soalnya sedikit ada masalah kemarin,” jawabnya dengan ramah. Zha mengangguk, ia sesekali mengelus perut itu dan bergantian mengelus perutnya sendiri dan wanita itu tahu benar apa maksud zha.
“Semoga cepet ketularan, ya? Aku dulu juga nunggu Dua tahun supaya hamil, bahkan sempet periksa kemana-mana. Tapi, katanya semua sehat, jadi kami hanya tinggal menunggu.” Wanita itu mengusap punggung tangan zha untuk menyabarkannya.
Obrolan mereka terdengar begitu renyah, hingga wanita itu pamit menuju mejanya sendiri yang juga telah ia pesan sejak tadi. Zha kembali menggelendot suaminya dengan begitu manja, “ Apalagi?” tatap tajam om edo padanya.
“Ih… Nethink mulu sama istri. Yaudah, pulang aja deh.” Zha ngambek kemudian berdiri dari sana berniat meninggalkan suaminya. Om edo bangun, menaruh uang di meja lalu menyusul dan menggandeng tangan istrinya mesra.
**
Hari menjelang malam, zha yang baru saja mandi karena tidur sore tadi, kini mencari suaminya yang entah dimana. Ia megganti pakaian lalu keluar bmluntuk mencarinya hingga ke ruang kerja namun tak kunjung ia temukan.
“Sepertinya di teras belakang, Nyonya.” Dengan santai bibik menjawabnya, dan zha segera menyusul kesana.
Om edo terdengar sedang menelpon seseorang dengan wajah yang begitu serius, zha sampai tak berani mengganggu dan memilih duduk diam menunggunya hingga selesai. “Semua urusan sudah beres, tinggal pesankan tiket dan kami akan berangkat secepatnya. Bila perlu besok,” ucap om edo seperti tengah memerintah seseorang disana.
“Baik, Tuan, kami akan segera melakukan perintah itu secepatnya.” Telepon dimatikan, dan om edo menyimpan hpnya di saku celana.
“Whoo astaga!” Om edo terlonjak kaget melihat kehadiran zha yang begitu tiba-tiba dibelakangnya. Bahkan, nyaris saja ia terpeleset dan jatuh kebelakang jika zha tak segera bangun dan menarik tangannya. Zha bagkan meraih pinggang sang suami seperti adegan mesra kebanyakan, tapi dengan posisi yang terbalik saat ini.
“Kuat juga,” smirk om edo pada istrinya.
“Zha lepas biar jatuh, mau?” ancam zha, lalu om edo berdiri kembali dari dekapnya.
“Sayang telelpon siapa, kok serius banget?”
“Ingin tahu? Jadi, biarkan itu semua menjadi rahasia kita hingga tiba saatnya.” Om edo hanya tersenyum, bahkan tertawa gemas dengan wajah penasaran zha padanya. Ia berjalan meninggalkan sang istri sendirian disana seolah tak perduli pada panggilannya.
“Nyebelin!!” Zha langsung berlari cepat mengejarnya saat itu juga. Mereka berdua tiba di ruang makan dan menikmati semua santapan yang ada dengan saling diam, tapi om edo seakan tak bisa berhenti menatap sang istri dengan terus melengkungkan senyumnya.
“Apaan sih?” ketus zha padanya. Hingga makan malam selesai mereka masih saja terus bersikap aneh seperti itu, bahkan bibik yang ada disana hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Zha kini telah memakai gaun tidurnya, ia duduk diranjang meraih selimut yang ada dan kembali menggelendot manja pada suaminya. Hanya itu yang ingin ia lakukan saat ini, bermanja dan memadu kasih berdua dengan suaminya tercinta.
*
“Van, sayang, besok tolong antar mama arisan, ya?”
“Van akan langsung pergi jika mama ingin menjodohkan van lagi.” Dengan lantang van mengancamnya.
“Ayolah, van. Begitu banyak pilihan diluar sana, cobalah sesekali melihat betaap cantik wanita yang ada diluar sana. Yang baik dan lebih bisa menghormati mama.
“Hmmm… Atur saja semuanya,” jawab pasrah van padanya.
Mama ana tersenyum puas, ia tak kapok meski beberapa kali van berhasil menolak dan lari darinya. Entah apa yang van rencanakan kali ini, ia hanya diam padahal besok ada rencana untuk kencan dengan sang kekasih hati.