
Zha masih tidur amat pulas dengan selimut yang masih menyelimuti tubuhnya. Ia tampak amat lelah saat ini, bahkan ia lupa hingga jam berapa sang suami terus menggempurnya semalam. Ia bahkan sudah tak ingat lagi semuanya, yang tersisa hanya rasa lelah dengan sisa kenikmatan di tubuhnya.
“Sayang, bangunlah, ini sudah siang.” Om edo datang dan langsung membujuknya membuka mata. Bahkan zha tidur telungkup saat itu memeluk erat bantal yang semalam ia jadikan pelampiasan dari pelepasannya yang entah ia dapat berapa kali semalam.
“Eeengghhh!” Zha melenguh sembari berusaa untuk membuka matanya. Yang pertama ia lihat adalah wajah sang suami yang paripurna, ia lantas mengulurkan senyum meski matanya masih tampak menahan lelah.
“Udah mandi, mau kemana?” tanya om zha pada suaminya.
“Aku mendapat kabar jika Pak Sam akan melamar lidya pada papanya secara resmi hari ini. Jadi, papa lidya mengundang kita kesana dan bahkan memintaku menjadi saksi lamaran itu.”
“Tapi zha zha capek,” rengeknya manja yang bahkan belum beranjak dari tempat tidurnya.
Om edo tersenyum, menundukkan kepala kemudian mengecup mesra kening, pipi dan bibir sang istri dengan begitu gemasnya. Apalagi ketika zha membalas dan mengimbangi, tapi menjaga diri untuk tak mengulangi semua aktifitas panas mereka pagi ini apalagi om edo belum sepenuhnya memakai pakaiannya dengan rapi hingga bisa ia buka Kembali kapan saja.
“Tapi kalau ngga ikut, ngga enak sama dya.”
“Nah, itu.” Om edo sembari menyibakkan rambut istrinya, ia melihat banyak bekas merahnya disana.
Zha akhirnya berusaha bangun dengan selimut yang ia apit di dada untuk menutupi tubuh polosnya. Ia mencari sesuatu disekitar, namun saat itu ditemukan oleh sang suami dan langsung menyerahkan itu padanya. Sebuah blazer tipis dari gaun tidur yang ia pakai, sedangkan gaunnya sendiri entah kemana atau bahkan sudah robek berantakan. Itu cukup menutupi tubuh zha untuk berjalan menuju kamar mandi yang tak jauh dari tempatnya saat ini.
Zha mengguyur tubuhhnya dengan air shower dingin, terasa begitu menyegarkan merasuk hingga ke seluruh sendi tubuhnya yang lelah. Zha keluar setelahnya mengenakan handuk kimono dan rambutnya yang basah. Handuk itu segera diraih om edo yang menggantikan tangan zha untuk mengusap rambut zha, sedangkan tangan zha sendiri mendekapnya dengan begitu mesra.
Sesekali zha mendongakkan kepala menatap wjaah tampan suaminya, bersyukur bahkan hingga tak dapat ia ucapkan dengan satu atau bahkan ribuan kata-kata. Bahkan sesekali om edo tertunduk Kembali mengecup bibir mungilnya.
Mereka berdua memakai setelan couple hitam saat ini. Warna itu tampak sangat kontras di kulit zha yang putih dan mulus itu, semakin memperlihatkan cahayanya yang begitu mempesona.
“Zha mau kemana?” tanya wika yang mendadak menghubunginya lewat video call.
“Kak wika, hari ini Lidya mau lamaran sama kak van, jadi zha mau kesana.”
“Wah, akhirnya. Tapi, kamu akan ketemu mamamu nanti.” Wika cukup khawatir padanya, dan itu terjadi secara tiba-tiba.
“Ngga papa, ketemu sebentar aja. Lagipula, dia ngga akan berani macam-macam karena ada papa sam disana.” Zha menjawabnya dengan begitu santai sembari memakai beberapa perhiasan ditubuhnya.
Jujur entah kenapa wika merasa belum tenang mendengarnya. Tapi zha terus meyakinkan karena om edo ikut bersamanya, ia berusaha agar tak menambah beban fikiran wika dengan kehamilan besarnya disana. “Baby gimana?” tanya zha mengalihkan semua obrolan yang ada.
“Dia kalau malam maunya diusap sama papanya. Kalau engga, pasti gerak terus nendangin sampai ngga bisa tidur.” Wika menceritakan semua, dan zha tertawa gemas disana.
Zha juga menceritakan bahwa saat ini om edo tengah berusaha mengatur waktu agar bisa membawa zha kesana. Mereka sangat rindu keduanya, terutama zha yang ingin sekali menyapa keponakannya.
Hingga om edo menjemput zha dan mengajaknya untuk segera pergi kerumah lidya. Hari memang sudah semakin siang dan om edo sudah beberapa kali dihubungi oleh papa lidya yang begitu sangat membutuhkannya.
Zha dan om edo berangkat berdua tanpa supir yang mengantar. “Katanya mamamu pergi dari rumah pak sam,” ucap om edo yang lantas mengagetkan zha. “Katanya terjadi keributan semalam, dan ayah van menantang mama mu untuk pergi jika masih keras hati.”
“Dan akhirnya mama pergi?” tanya zha dengan wajah datarnya. Entah kenapa tak ada rasa sedih sekali mendengar itu semua, atau bahkan cemas akan keberadaan sang mama yang entah pergi kemana.
Padahal salonnya bangkrut, dan zha dengar sebelum menikah mereka memiliki beberapa perjanjian yang telah disepakati mengenai herta benda mereka. Mungkin itu yang membuat mama ana begitu ingin zha berada ditangannya dan agar bisa ia andalakan,
Keduanya telah tiba di rumah lidya. Mereka disambut oleh sang tuan rumah dengan beberapa pihhak lainnya dan om edo segera bergabung dengan mereka semua. Sementara zha langsung masuk dan menuju kamar lidya yang tengah anteng di rias didalam sana.
“Sayangnya akuh!” pekik zha langsung memeluk sahabatnya, bahkan tak segan mengecupi pipi lidya sangking bahagianya.
“Kamu semalem aku telponin ngga diangkat! Ndablek ya? Kemaana aja?” omel lidya padanya.
“Ngga kemana-mana, emang mau me time ama om suami aja. Yang penting kan, sekarang aku datang,” balas santai zha sembari merentangkan kembali kedua tangan agar lidya memperhatikannya.
“Bukan itu, tapi mamamu, Zha. Dia pergi,” balas lidya, dan saat itu zha langsung duduk disebelahnya.
“Lalu kenapa? Bukankah dia memang sering pergi seperti itu?” Zha tertunduk dan menjawabnya lirih. Rasanya ia tak ingin mmebahas lagi, ia ingin melupakan semua tentang wanita itu dalam hidupnya sejak saat ini. Toh, ia sendiri yang kabarnya memilih pergi daripada menerima lidya sebagai menantunya. Lantas apa yang ia takutkan?
“Aku ngga tahu, Zha. Saat mendengar kabar perginya mama, aku justru kepikiran sama kamu terus. Aku bahkan rasanya sulit tidur Cuma kebayang sama kamu,” ucap lidya, yang memang dari tangkapan mata zha tampak begitu cemas saat ini. Tapi, zha justru membalasnya dengan canda.
“Cieee… Yang mau jadi kakak ipar, mulai perhatian sama adeknya. Sayang ya?” goda zha menaik turunkan alisnya.
“Zha, serius,” tegur wika yang kemudian menggenggam tangan zha. “Demi apapun, kamu jangan keluar sendirian dulu setelah ini, ya? Kalau mau keluar ajak aku, ajak kak van kalau om edo lagi ngga bisa temenin.”
Deeg!! Ucapan lidya begitu tulus, bahkan bibir dan suaranya ikut bergetar ketika bicara. Saat itu, zha seketika teringat oleh wika yang juga sempat mengucapkan kekhawatiran itu padanya.
“Udah, tenang aja, aku ngga papa kok. Kan kalian selalu ada buat aku,” ucap zha membelai rambut sahabatnya.