I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Aku tak mau menjadi kakakmu



“Kak Van, kita mau kemana?” tanya zha dalam perjalanan mereka bedua.


“Kemanapun zha mau, kakak akan turuti asal zha bahagia hari ini. Kakak akan buat hari ulang tahun zha berkesan, sebagai kali pertama kita bersama,” balas van, menoleh sebentar pada zha lalu Kembali fokus pada setirnya.


Tak banyak yang zha inginkan pada van saat itu, ia hanya meminta van mengantarnya ke makam ayah kemudian mengajaknya bermain seperti biasa, ke mall, makan dan segala aktifitas menyenangkan lainnya.


Zha tiba di pemberthentian pertamanya, di makam sang ayah ia rindukan setelah sekian lama. Om edo sempat mengajak, namun waktu mereka yang belum bisa mewujudkannya. Zha membawa sebuah bunga mawar putih dan ia taruh disana sebagai tanda cintanya.


“Ayah apa kabar? Pasti rindu sama zha. Tapi zha hanya ingin bilang, jika sekarang zha baik-baik saja,” ungkapnya. Dan ia hanya berbicara dalam hati untuk segala rasa bahagaianya tatkala sebentar lagi akan menikah dengan om edo sesuai amanat ayahnya. “Tapi bukan sekedar amanat, zha cinta om edo seiring berjalannya waktu. Ayah pasti bahagia mendengarnya,”


Van sebenarnya begitu penasaran dengan arti tangisan zha saat ini, tapi bibirnya seolah begitu kaku untuk bergerak dan bertanya padanya. Ia memilih diam, sesekali menghadap zha untuk membantunya mengusap air mata yang mengalir deras di pipinya.


“Maaf, zha hanya terharu karena selalu rindu sama ayah,” jawab gadis itu, tapi kemudian ia tersenyum Kembali pada van. Lagipula ia tak sedih, melainkan bahagia saat ini.


Zha mengajak van untuk memenuhi janjinya. Kebetulan ia lapar, dan mereka harus makan siang terlebih dulu untuk mengumpulkan tenaga untuk bermain sepuasnya. Rencana tak muluk-muluk, ia hanya ingin mengajak van bermain seperti ketika ia bersama papa bearnya. Dan itu sama sekali tak membuat van curiga dan menurutinya.


Mereka tiba di mall dan langsung menuju sebuah café langganan van, mereka makan bersama sembari terus bersenda gurau menghilangkan semua masalah yang ada. Bahkan van dengan segala perhatiannya tak segan menyuapi zha dengan makanannya.


“Zha masih ingin menjadi perawat?” tanya van membuka percakapan serius mereka berdua.


“Pengen, tapi nanti aja. Om edo sudah mendaftarkan semua, jadi zha tinggal ikut tes dan masuk ke kampus itu. Mungkin beberapa bulan lagi,”


“Kau tinggal bersamaku, Zha.”


“Inget perjanjian, Kak Van sayang. Zha dirumah mama hanya sebulan, dan setelah itu zha akan Kembali pada wali sah zha sesuai amanat ayah.” Zha Kembali menengaskan isi perjanjian mereka semula, meski tak ada hitam diatas kertas antara keduanya.


“Eeeugghh!” Zha bersendawa, dia kekenyangan saat itu dan cukup membuat van yang tegang itu tertawa.


“Tuh kan cakep kalau tertawa gitu. Jangan tegang terus makanya,” ledek zha.


“Kau bilang aku tampan? Tapi kau sama sekali tak tertarik denganku, kenapa?”


“Mulai?” tatap tajam zha padanya.


Gadis itu lantas meraih tangan van dan beranjak dari café itu untuk memulai permainan mereka. Di sebuah wahana, mereka seperti sepasang kakak adik yang lama tak bermain bersama. Ya, begitu beda ketika zha bermain dengan papa bearnya yang lebih suka menunggu dan mengawasi baby bearnya bermain.


Tawa van begitu lepas disana. Benar kata zha, jika van begitu tampan ketika bahagia apalagi penuh tawa seperti itu. Tapi zha menyayangkan jika tawa itu hanya ada ketika bersamanya.


“Kakak ngga mau buka hati buat gadis lain?” tanya zha, dan saat itu keduanya tengah duduk ditaman menikmati hari yang menjelang senja. Tanpa sadar, waktu berjalan begitu cepat untuk keduanya.


Duduk di kursi berdua dengan eskrim ditangan masing-masing. Suasana taman juga begitu indah dengan sebuah danau yang ada ditengahnya, disana ada beberapa angsa yang tengah berenang bersama anak-anaknya yang lucu.


“Belum ada yang bisa membuka hati ini sepertimu, Zha. Yang bahkan kau bisa membuka tanpa mengetuknya,”


“Bahkan sama sekali tak ada rasanya,” jawab van dengan wajah datar dan terus menatap kearah danau.


Mendadak zha menunduk, ia mendekatkan telinga tepat di dada van dan bahkan mengusapnya, “Kamu harus membuka diri, jangan sampai yang tadinya berharap justru pergi.” Zha berbisik disana, meski van juga mendengarnya. Dan bagi van tak akan semudah itu untuk bisa membukahatinya seperti ucapan zha.


“Kau ingin pulang?”


“Seebenarnya males karena ada mama disana. Tapi, ayuk deh.” Zha dengan eskrim ditangannya kemudian berdiri, begitu juga van yang membawa zha masuk kedalam mobil mereka disana.


Perjalanan van buat lambat seolah ia ingin menikmati semua waktu yang tersisa bersama zha. Tapi, gadis itu justru menguap dibuatnya dan bersandar lelah di bahu sofa. Ia meraih hp, lalu sesekali mengambil foto wajah bantalnya disana. Untuk siapa lagi jika bukan untuk papa bearnya, sebagai laporan perjalanannya hari ini.


“Lelah? Sepertinya dia membawamu bermain cukup lama.” Om edo mengusap foto zha dengan segala kerinduan yang Kembali merajai hatinya.


“Zha?” panggil van lagi, sepertinya ia akan bicara serius kali ini. Zha langsung menyimpan hp ditas kecilnya untuk menghormati dan mendengar perkataan van kali ini.


“Ya, Kak, ada apa?”


“Kau benci mama?”


“Ngga benci, hanya saja… Mama yang zha harapnkan, justru seperti itu.”


“Aku sudah berjanji, bukan, bahwa setelah ini aku tak akan membiarkan mama menyentuhmu lagi selamanya.” Zha menoleh pada akhirnya, ia menangkap sesuatu yang aneh pada ucapan van kali ini dan bahkan memiliki perasaan tak enak dengan suaranya yang berat.


Zha menoleh kanan kiri, ia baru sadar jika van membawanya kearah yang berbeda dan bukan menuju jalan pulang kerumah mama atau ke rumah om edonya. Wajah zha muali terpantau cemas, apalagi ketika van mengunci otomatis pintu agar zha tak bisa membuka atau bahkan kabur darinya.


“Kak van mau bawa zha kemana? Jangan main-main, Kak.”


“Aku Sudah merasakan dan berusaha menjadi kakak yang baik untukmu hari ini zha, dan aku bahagia. Dan saat ini, aku tak mau menjadi kakakmu lagi, aku tak bisa membohongi diriku sendiri lebih lama dari ini.”


“Kak Van!!” Zha memekik, ia berusaha melawan, tapi saat itu ia tahu jika sulit untuk melakukan perlawanan. Van akan nekat, atau bahkan akan membuatnya terluka demi semua keinginannya.


“Tenang, zha. Lihat dulu dia akan bawa kamu kemana,” gumamnya dalam hati, sembari menekan tombol darurat yang ada dihpnya, yang tombol utama langsung terhubung dengan om edonya.


Van diam, ia benar-benar tak bicara lagi setelahnya atau membujuk zha untuk menurut dengannya. Apalagi zha juga tak melakukan perlawanan, hanya memegangi sabuk pengaman yang ia pakai karena vanyetir dengan begitu cepat kala itu.


“Kak van mau ajak zha kemana, Kak, sebenarnya?”


“Ketempat yang tak ada seorangpun bisa kejar kita, Zha. Kita akan tinggal bersama disana, aku akan membuatmu melupakan om edomu itu selamanya.”


Mata Zha seketika membulat mendengarnya, seketika rasa takut datang menghanpiri apalagi dengan wajah serius van dengan ucapannya.