
Sarapan pagi ini terasa amat hening. Bukan lagi karena zha dan om edonya yang saling diam, melainkan wika dan om yan. Mereka biasanya yang paling sering menampakkan kemesraan, karena om edo masih menjaga jarak antara dirinya dan zha.
“Mereka kenapa?” bisik zha yang mendekatkan bibir pada telinga om edo. Tapi om edo hanya mengedikkan bahunya, ia takt ahu dan seperti tak ingin bertanya mengenai urusan pribadi mereka berdua.
“Habiskan saja sarapannya, sebentar lagi wika akan mengantarmu untuk mencari kampus.”
“Iya,” jawab pasrah zha padanya. Tapi memang masih begitu mengganjal jika tak ditanyakan, ia suka suka mereka diam tanpa kemesraan seperti biasanya. Hingga akhirnya sarapan selesai, wika masih tetap diam merapikan semua peralatan makan yang ada di meja, dan zha dengan sigap membantunya.
“Kak wika?” panggil zha.
“Jangan bertanya, kakak sedang tak ingin menjawabnya.” Wika langsung tegas pada gadisnya itu seperti tahu apa yang akan ia pertanyakan padanya.
Zha langsung terdiam mengatupka mulutnya, lalu meraih piring kotor untuk segera ia cuci karena bibik mereka tengah cuti beberapa hari ini. Zha mulai belajar mengurusi dapur, dan mungkin nanti akan belajar masak seperti keinginannya selama ini.
“Kalian kenapa?” tanya om edo yang akhirnya bertanya.
“Biasa, perempuan. Mereka selalu merengek agar pria menuruti maunya, tanpa mau mendengar alasan apapun yang ada.” Om yan menjawab semuanya.
Takkk!! Wika menaruh gelas dengan kasar diatas meja yang seharusnya ia susun saat itu. Zha yang ada didekatnya langsung tersentak, untung saja piring basah yang ada ditangannya tak meloncat atau bahkan jatuh ke lantai. Ia langsung menatap lusi dengan wajahnya yang marah dan napasnya yang berat tersengal.
Sepertinya ia mendengar jelas apa yang tengah para pria itu bicarakn, dan ia emosi karena lagi-lagi ia yang selalu disalahkan.
“Kak wika, kenapa?” tanya zha padanya.
“Zha, pastikan hubungan kamu dengan seorang pria. Pastikan dia serius atau tidak dengan kamu, jangan sampai seperti kakak nantinya. Sudah berhubungan sekian lama, menunggu dan menjaga, tapi belum juga menemukan akhirnya.”
Wika menyahut dengan modus menasehati zha saat itu. Sontak saja om edo yang mendengar itu ikut tersinggung mendengarnya. Ia memutar tubuh untuk menatap para gadis yang ada didapur sana dengan tatapan tajamnya.
“Kalian sudah dewasa, selesaikan masalah ini dengan baik dan jangan membawa orang lain kedalam masalah yang kalian alami.”
“Oom, iiih. Hsssst!!” Zha menunjuk bibirnya sendiri agar om edo tak ikutan dalam masalah mereka saat ini.
Tapi bagaimana tak ikut, bahkan nama mereka dicatut sebagai alasan untuk saling sindir diantara mereka berdua yang ada disana.
“Taka ada masalah, hanya ego.” Om yan kembali menjawabnya.
“Ego apa!” akhirnya wika membentak, dan itu membuat zha tersentak kaget karena kerasnya suara yang ia keluarkan.
“Kak wika,” lirih zha. Baru kali ini ia mendengar wika mengeluarkan suara sekeras itu, apalagi selama ini ia begitu lembut apalagi ketika bersamanya.
“Jawab, Mas, ego apa aku sama kamu? Kurangnya apa aku selama ini udah nunggu kamu, Mas. Padahal tuan sendiri mempersilahkan kita menikah meski harus melangkahi dia,” ucap wika pada akhirnya, seperti ungkapan yang sejak tadi tertahan dan akhirnya lepas meski belum bisa lega seperti keinginannya.
“Sudah ku bilang, Wika, jika semua tak sesederhana yang kau fikirkan. Aku sudah berjanji jika_”
“Memag kamunya aja ngga niat! Kenapa, karena ada banyak gadis lain yang kamu temui diluar sana? lebih cantik, lebih pandai dengan karirnya yang bagus. Sementara aku, aku hanya menjadi kepala rumah tangga dan pengasuh disini.”
Wika mulai membandingkan dirinya dengan perempuan yang ada diluar sana, yang mungkin lebih lebih baik darinya. Dan ia juga tahu, jika diluar sana begitu banyak Wanita karir yang cantik dan menarik yang pasti om yan lebih sering temui dari dirinya, yang hanya seminggu bahkan beberapa seminggu sekali bersama.
“Padahal Kepala rumah tangga dan pengasuh dengan gaji setara atau lebih besar dari managerku,” celetuk om edo dari tempatnya pada wika. Sontak mereka semua meliriknya, “Apa?” balas om edo.
Om yan hanya mencebik kesal menatapnya. Dan kemabali menceritakan semua alasan yang ada dan menghalangi mereka. Janji pada ayah edo, yang saat itu ia tak akan menikah sebelum kakak angkat seklaigus bosnya itu menikah terlebih dulu dari dirinya.
“Kau sudah tahu itu, tak akan mungkin aku terus menjelaskan alasan yang sama ribuan kali, Wika.” Om yan lagi dan lagi menjelaskan alasan yang sama pada kekasihnya itu, yang selalu menjadi perdebatan.
“Aku sudah bilang, menikahlah tanpa harus menungguku dan zha. Aku tak mungkin menikahi zha yang bahkan belum genap 18 tahun saat ini. Mereka bisa mengira aku ini pedofil,” sambung om edo berusaha menengahi keduanya.
Akan tetapi, saat itu justru zha tersenyum sendiri mendengar penuturan om edo ditelinganya, bahwa om edo memang benar-benar akan menikahinya paling cepat ketika ia genap berusia 18tahun. “Berarti sebentar lagi.... Aaah, nikaaah!” Zha meracau sendiri dalam hati dengan perasaan yang begitu berbunga-bunga.
Wika mengeluarkan air mata mendengarya. Bahkan om edo sendiri Sudha ikhlas jika harus dilangkahi, tapi kenapa om yan yang justru mempersulit semuanya. Wika memang tahu jika kekasihnya itu adalah pria yang amat memegang janji terutama pada ayah angkat dan kakaknya.
“Itu hanya alasan kamu, Mas!” tukas wika lagi padanya. Jujur om yan mulai tak nyaman dengan segala cecaran wika padanya, dan ia memilih berdiri untuk segera pergi dari mereka semua. Ia ingin keluar dan menenangkan dirinya saat ini, pergi jauh entah kemana menghindari semua tekanan yang ada.
“Masalah diselesaikan, bukan dibawa kabur. Atau…”
“Atau apa wika? Kamu jangan macam-macam,” balas om yan padanya.
“Kita putus,” ucap wika dengan suara berat dan deraian air mata yang membasahi pipinya. Saat itu zha dan om edo kompak membulatkan mata dan meliriknya, mereka juga saling lirik berusaha berdiskusi untuk menyelesaikan masalah keduanya.
Om yan mengusap kasar rambut dan wajahanya. “Kalian… Masuk ke dalam ruang kerjaku, sekarang!” mode tegas om edo mulai terlihat lagi, wajah datar dan rahangnya menegang hingga zha hanya bisa menelan salivanya dalam-dalam.
“Astaga, ini masih pagi. Ada saja masalah yang datang,” gumam zha dalam hati sembari menggigiti kuku jarinya.
Om edo tampak berdiri kemudian menatap mereka bergantian hingga keduanya kompak menganggukkan kepala. Ia kemudian berjalan menuju ruang kerja dan kedua orang itu segera mengikutinya masuk dari belakang. Bahkan zha juga melihat keduanya belum bertegur sapa hingga hilang dari pandangan matanya.
“Zha ngga diajak? Gini nih, nasibnya kalau masih dianggap anak kecil. Tapi, yaudahlah, yang penting bakalan nikah. Ihiikk!!” Bahagia zha dalam khayalan indahnya.