I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Zha, Van dan Dinda



Wika mengantarkan zha hari ini mencari gaun untuk datang ke acara itu. Acaranya akan digelar nanti malam dengan dresscode putih dan pria mengenakan setelan jas hitam. Harusya mereka berpasangan, tapi zha tak bilang itu pada om edo karena ia takut justru akan ditarik kembali izin yang diberikan padanya barusan. Toh semua orang juga tahu, pastinya ia akan bersama van disana dan pria itu tak akan mau didekati orang lain selain zha.


Mereka tiba disebuah butik langganan wika. Tak perlu heran, bahwa wika memang seorang asisten rumah tangga disana tapi pakaiannya serba branded. Gajinya besar, apalagi didampingi om yan yang sudah memberikan gaji sepenuhnya pada sang calon istri untuk ia Kelola. Sayangnya memang wika tak suka bergaul dengan para sosialita yang ada diluar sana, dan hanya ketika bersama om yan ia menemui mereka.


"Wuaaah!" Zha terbelalak melihat semua gaun indah yang terpajang disana. Bahkan begitu banyak gaun pengantin yang bahkan mengganggu fokusnya.


"Eh, anak kecil lihatnya baju pengantin," tegur wika, dan zha hanya tersenyum padanya.


"Yang anak kecil aja terkesima, kak wika engga? Ajak om yan nikah sana, zha dukung." Gadis itu justru meledek pengasuhnya.


"Kamu tak tutuk loh zha," balas wika mengarahkan kepalan tangannya. Tapi zha hanya terkekeh, bahkan menggoda wika untuk mencoba salah satu diantara banyaknya gaun indah yang ada.


"Pasti om yan akan semakin terkesima dibuatnya,"


"Udah zha," gemas wika yang tak hentinya digoda.


Zha kemudian diam ketika seorang pramuniaga datang membawa gaun yang ia cari. Rupanya wika sudah membokingnya sejak tadi, hingga ia langsung menyimpannya dan memperlihatkan ketika mereka datang padanya. Bahkan, ada beberapa gadis datang menatap dan berminat pada gaun itu tapi pemilik butik segera menyimpan itu untuk zha.


"Bener ini buat zha? Cantik banget?" kagum zha dengan gaun berbahan sutra itu. Begitu lembut dan indah meski tampak polos tanpa begitu banyak manik atau hiasan disekitarnya. Zha jatuh cinta ketika pertama kali melihat gaun itu didepan mata dan segera meraih untuk mencobanya.


Begitu pas ditubuh mungil zha, seperti memang dibuat untuk dirinya dan untuk acara malam nanti. Wika bahkan tak segan memuji, dan bahkan bergantian meledek dan iseng memotret zha dengan gaun indahnya.


"Kenapa difoto?" tanya zha.


"Biar om edo tahu,"


"Jangaaan!! Zha malu. Lagian kenapa kalau zha cantik? Ngga mungkin langsung dicabut kan izinnya? Alah emboh," ucap zha yang berlenggok ke depan kaca besar yang ada disana.


Foto sampai di tangan om edo, tepatnya dihp yang ia pakai. Pria itu segera membukanya dan seketika membulatkan mata dengan apa yang wika kirimkan padanya.


Om edo memainkan lidah dimulutnya, sesekali memanyunkan bibir melihat foto zha dengan gaun indahnya. Ia bahkan tanpa sadar melengkungkan senyumnya yang begitu indah, begitu jarang ia keluarkan meski didepan zha. Andai zha tahu senyum itu, pasti hatinya akan meleleh dengan ketampanan yang selalu ia debarkan.


Wika segera membayar gaun itu dan mengajak zha pergi dari sana. Ia bahkan mampir sebentar untuk mengambil makanan yang ia pesan di Restaurant langganannya. Ia malas masak, apalagi zha akan pergi mala mini hingga tak ada yang menemaninya makan malam.


"Om beku?"


"Om beku akan pergi bersama om jek untuk sebuah pertemuan malam ini. Mungkin bareng perginya sama zha,"


"Yaaah, masa ke prom dianter om sih."


"Daripada tidak sama sekali,"


"Yaudah, ngga papa." Zha menghela napas pasrah mendengarnya. mereka berdua pulang lagi untuk mempersiapkan zha mala ini. Hells dan beberapa acesoris lain ada milik wika hingga tak perlu membelinya. Wika sendiri juga yang akan mendadani zha hingga siap pergi ke pest aitu.


"Zha, nanti dateng?" Dinda menelponnya saat zha baru saja selesai mandi.


"Jadi, udah dapet izin dari om tadi. Nanti juga mungkin dianter om kesana," jawab zha yang mengeringkan rambutnya.


"Ya engga lah, kenapa masuk? Dia ada acara lain, jadi anter aku aja kesana."


"Ehmmm... Okey, aku tunggu disana ya?"


"Okey, bye..." balas zha padanya. Entah bagaimana disana nanti, karena menurut undangan mereka harus berpasangan tapi dinda tak memilikinya. Yang zha tahu, dinda begitu sulit dekat dengan orang lain dan hanya zha sahabat yang ada bersamanya. Namun, dinda juga tak nyaman dengan van saat ini hingga zha berada ditengah mereka berdua.


Hingga wika datang membuyarkan lamunan zha. Ia datang dengan perlengkapan make upnya untuk mendadani zha agar ia cantik dan sempurna. Dan saat itu zha sembari menceritakan persahabatanya dnegan dinda juga van yang saat ini merenggang. Ia masih belum menemukan titik masalah yang ada diantara mereka berdua.


"Padahal, waktu itu manis banget kami bertiga, Kak. Zha sedih kalau begini, zha jadi penengah tapi seolah tak bisa mendamaikan keduanya, zha bingung..."


Wika hanya diam tersenyum dan terus mendadaninya. Dan saat make up sudah selesai, wika mamakaikan gaun itu kemudian mulai bicara pada zha mengenai pendapatnya.


"Kamu tahu apa yang terjadi antara persahabatan pria dan Wanita? Mereka ngga akan bisa tulus untuk terus bersahabat, Zha. Pasti akan ada hati diantara keduanya,?


"Hati, maksudnya?" Zha memicingkan mata.


"Zha harus cari itu sendiri. Antara van dan dinda, siapa yang harus zha pertahankan dari keduanya."


Zha tak mau itu. Ia ingin mendamaikan mereka berdua hingga tak ada yang terpisah antara ketiganya. Ia tak ingin ada yang pergi dari persahabatan mereka, meski mungkin yang dikatakan wika itu ada benarnya.


Zavan pada zha, dinda pada van, atau ada yang lain yang dinda tak ketahui terjadi diantara mereka. zha bingung jika memikirkan semuanya saat ini, dan ia akan mulai mencari semuanya perlahan.


"Siap..." ucap wika yang baru saja menyelesaikan tugasnya. Zha begitu cantik dengan gaun putih yang ia pakai dan rambut yang dibiarkan tergerai. Make up yang dipakai juga natural sesuai dengan usianya hingga tak terkesan menor.


Wika menggandeng tangan zha untuk turun menemui om edo dan om jek yang sudah menunggunya sejak tadi. Atau mungkin ia sudah menggerutu dalam hati karena waktu yang sudah cukup lama ia buang saat ini. Hingga sebuah Langkah kaki terdengar dan ia menolehkan pandangan ke sumber suara yang tak lain adalah zha.


Om edo mematung seketika, bibirnya seolah terkunci hingga tak bisa mengucapkan apa-apa melihat kecantikan zha didepan matanya. Bahkan ia berdiri hanya ketika om jek meraih tangannya, dan tetap diam seakan tanpa mengedipkan mata.


"Om, kok lihatin zha begitu? Aneh ya?" tanya zha yang kagok melihat tatapan om edo padanya.


"Tidak... Jika jelek, aku akan meminta wika kembali memperbaiki dirimu." Om edo menjawab pertanyaan itu dengan sedikit canggung.


"Yaudah sana pergi. Ini udah jam berapa loh, nanti kak wika yang akan jemput zha kalau acaranya udah selesai." Wika menengahi kecanggungan keduanya, sesekali melempar senyum pada om jek untuk mereka berdua.


Om edo mengajak zha berangkat. Ia melangkah terlebih dulu meninggalkan zha pada awalnya, tapi Kembali lagi karena saat itu zha tak mengikutinya dan seakan tertinggal disana.


"Kenapa tak jalan?" tanya om edo yang kembali didepan zha.


"Gandeng, zha susah jalannya," manja zha mengulurkan tangan pada omnya.


Om edo akhirnya spontan mengagandeng dan menelusupkan jari kemarinya pada jari zha. Lalu ia berjalan kembali dengan gandengan yang cukup mesra itu menuju mobil mereka yang sudah menunggu disana.


"Aaaah... Lihat mereka, kok aku yang jadi kangen sama mamas," gemas wika pada keduanya.