I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Zha bukan anak kecil!!



Mobil om edo tiba di rumah besar itu dan segera ia masukkan ke garasi. Wika yang sadar akan kedatangannya segera menyambut dan memberitahu mengenai kondisi zha saat ini. Ia mengurung diri dikamarnya dan bahkan tak mau keluar sama sekali sekedar hanya untuk makan malam.


“Percayakan dia padaku, dan persiapkan makan malam kami berdua.” Om edo memberi perintah dan langsung ia laksanakan.


Pria itu naik, pertama menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan kemudian berjalan masuk ke kamar zha. Gadis itu benar-benar tampak frustasi saat ini, rebahan dengan posisi terbalik di ranjang dengan kepala yang terngantung dibawah. Ia memeluk bearnya saat itu dan menjejerkan bearnya yang lain diantara mereka semua, hingga ia sadar papa bearnya telah datang namun ia sama sekali tak beranjak dari sana.


“Kau tak menyambutku dan lebih suka bersama bearmu?” tanya om edo yang kemudian duduk di ranjang itu dengan begitu santainya.


“Mama gimana?”


“Mccckk! Padahal aku baru datang,”


“Om kan disini dan ngga akan kemnaa-mana. Tapi zha? mama menvgancam akan bawa zha pergi dari sini,” lirihnya perih.


“Meski dia membawamu, tapi kau akan selalu kembali padaku. Kau ingat, sebulan lagi kita akan menikah dan itu harus.” Om edo menyingkirkan bear besar dan merebahkan diri berlawanan dengan arah zha saat ini. Satu tangan ia bantalkan ke kepala, dan ia terdengar menghela napas dengan begitu beratnya. Semua terdengar ditelinga zha.


“Zha hanya takut kalau mama akan_”


“Hey, bukankah ada van disana. Dia akan menjagamu,”


“Oooom, ngeselin!!” rengek zha yang bukannya dipertahankan namun seperti akan dilepaskan.


Zha menceritakan mengenai sang mama yang tadi pagi datang dan membujuknya untuk ikut. Ia menceritakan mengenai airmatanya, isaknya, dan semua bujuk rayunya pada zha dan bahkan membahas mengenai van yang memang menginginkannya. Zha bahkan tersenyum mengingat air mata palsu itu, dan ia mengatakan jika pertahanannya tak akan goyah hanya dengan itu semua.


“Mama memang ancam akan ambil zha, tapi ngga sangka kalau akan sejauh ini. Mama bahkan bilang akan mengadakan koferensi pers nanti agar om semakin kacau. Zha takut. Takut jika perusahaan akan_”


“Perusahaan tak akan goyah hanya karena itu, zha.”


“Tapi mama bilang, kalau semua alat yang ada itu bekerja sama dengan mereka dan bisa ditarik kapan saja.”


“Kau terlalu polos, dan dia terlalu bodoh. Jika itu semua terjadi, dalam hal ini maka mereka yang akan dirugikan, bukan aku.” Om edo menimpali, dan zha langsung menoleh kearahnya.


Zha menatapnya sembari menyipitkan mata, berusaha mencerna aka napa yang om edo katakana saat itu. Ia memang polos, diancam seperti itu saja ia sudah ketakutan dan membayangkan sesuatu yang tidak-tidak dalam fikirannya.


Wajar saja, dia adalah gadis yang baru tamat SMA dan bahkan belum mendapatkan ijazahnya. Untung saja saat itu diasuh oleh orang yang tepat, hingga ia tak dipermainkan oleh kehidupan yang lebih berat disana.


“Tandanya, om ngga akan_? Jadi mama?”


“Iiiiiih, masih aja bilang kalau zha anak kecil. Nyebelin!!” kesal zha padanya.


“Aku hanya mengucapkan itu dari pandangannya saja, seorang ibu yang bahkan tak ingat usia putrinya sendiri.”


“Jangan bilang zha anak kecil!!”geram zha yang kemudian memutar badannya. Ia merubah posisi saat itu agar om edo berada dibawah wajahnya dan saling berhadapan dan memaksa om edo membuka matanya.


“Mau apa?” tanya om edo dengan mata tajamnya.


“Mau tunjukin, kalau zha bukan anak kecil.” Zha menangkap kedua wajah om edo kemudian mengecupi pipinya berkali-kali secara bergantian sembari tertawa. Om edo yang awalnya tegang menjadi ikut tertawa dengannya, begitu lepas seakan beban itu lepas dipundak mereka berdua.


Om edo yang gemas saat itu langsung meraih tengkuk zha yang masih ada diatasnya, membawanya menautkan bibir mereka berdua. Zha yang merespon lumaatan itu segera membuka mulutnya agar om edo bisa semakin dalam menelusupkan lidahnya kedalam sana.


Mereka saling membelit lidah dan bertukar saliva, dan zha berusaha sekuat tenaga menjaga tubuhnya sendiri agar tak ambruk disana padahal rasanya sudah kehabisan tenaga. Kakinya gemetar dari ujung kepala hingga ujung kaki, semua ia lampiaskan dengan menekan kuat lengan om edo sekuat tenaga yang tersisa.


Cup!! Om edo menyudahi semua aktifitas itu dan kembali membalik tubuh zha rebah di ranjangnya.


“Zha ingin sebulan itu segera berlalu,” ucap zha.


“Andai semua uangku bisa melakukannya,” balas om edo yang mengusap bibirnya sendiri yang basah bekas zha disana. Betapa ia ingin, tapi harus menjaga keduanya agar tak semakin menambah masalah yang ada.


Bagi om edo, masalah masih bisa dihindari agar tak berlanjut lebih rumit lagi dan tak menyangkut banyak pihak lain ikut masuk kedalamnya, karena sejatinya semua permasalahan ini hanya karena mama ana yang terobsesi dengan putrinya. Ingin di akui, dan ingin disegani karena tampak peduli. Dan om edo cukup akan memberi pelajaran padanya saat ini.


“Om, zha laper.” Ucapan itu didukung dengan suara perut zha yang terdengar merdu ditelinga, dan membuat om edo tertawa. Senyum saja setampan itu, apalagi tawa dengan suara baritonnya yang selalu bisa menggetarka jiwa.


Om edo kemudian bangun, membenarkan posisi dan menepuk bahunya meminta zha untuk mengalungkan lengan disana. Zha tak akan menyiaka kesempatan itu dan segera menempelkan diri diatas pundaknya. Om edo menggendong zha turun kebawah, meski zha sedikit ngeri karena ketika itu om edo terasa amat tinggi baginya.


Suara Langkah kaki dan canda tawa mereka terdengar hingga kebawah dan wika segera menoleh pada keduanya,. Rasanya ingin mengomel lagi karena lama, tapi ia tahan karena baru saja melihat senyum zha setelah seharian ini. Ia hanya bisa menghela napas dan memanggil mereka untuk segera makan malam bersama.


“Bgaimana di kantor?” tanya wika padanya ketika makan malam usai.


“Mereka sedang mengawasi semua pergerakan, tapi sepertinya cukup stabil dan tak terpengaruh dengan apa yang terjadi saat ini.” Om edo juga meminta agar wika tak perlu terlalu cemas hingga membebani om yan yang ada disana. Mereka juga harus tetap tenang hingga mama ana tak merasa menang dengan ancaman yang ada.


Makan malam itu akhirnya selesai, Om edo meminta zha agar segera beristirahat di kamarnya dan ia akan mengerjakan semua tugas yang ada. Zha menurut meski mungkin akan berat baginya untuk sekedar memejamkan mata karena masih terngiang-ngiang ancaman sang mama.


“Lalu harus apa? Menyerahkan diri dan mengerjakan apa yang papa bear tugaskan?” tanya zha pada dirinya sendiri, karena itu seperti sebuah misi untuknya memberi pelajaran pada sang mama dengan egoisme dan obsesi terhadapnya.