
“Ayah lihat, beberapa hari ini kalian saling diam. Ada apa?” tanya ayah Van padanya dan mama ana.
Mama ana saat itu hanya diam takut salah bicara, meski sebenarnya ia begitu jujur pada sang suami mengenai keadaannya bahkan Operasi yang telah ia jalani. Dan sebenarnya operasi wajah itu memang untuk ayah van, tapi saat itu demi menjaga imagenya mama ana tak mau meminta dan lebih memilih menggadaikan surat rumah peninggalan ayah zha untuk pergi ke luar negri.
“Bisa-bisanya ayah bertahan dengan rumah tangga penuh kepalsuan,” tukas van disela makan malam ketiganya.
“Van_” Mama ana langsung menatapnya dan memohon agar tak membahas itu semua disaat makan malam mereka yang jarang sekali berkumpul dengan lengkap seperti ini.
Tapi van hanya diam dengan tatapan mama ana, dan justru pergi meninggalkan makanan yang masih tersaji diatas piringnya yang bahkan belum ia sentuh sama sekali. Ia ingat jika ini sudah beberapa hari sejak mama ana berjanji akan memperjuangkan zha untuknya, tapis ama sekali belum ia lihat perjuangan itu ia lakukan.
Van naik tangga dan masuk ke kamarnya, ia membanting tubuhnya sendiri diatas ranjang yang kembali terbayang akan zha. Bahkan ia juga sempat mendengar jika om edo semopat mengatakan pada mama ana jika zha adalah calon istrinya. Van sama sekali belum bisa menerima itu semua, dan van tak bisa terima.
“Itu alasan kau selalu diam jika mereka hina? Sejak kapan kau sadar statusmu?” guman zavan yang terus membayangkan senyum zha terngiang-ngiang dikepalanya. Ia sama sekali tak bisa melupakan zha sebagai cinta pertamanya.
“Van?” panggil mama ana yang membuka pintu kamar itu dan masuk ke dalam dengan membawa makanan van.
“Kenapa kemari? Aku bahkan sudah tak berminat lagi melihat makanan itu didepan mataku, bawalah pergi.” Van masih ditempat dan tak bergerak sama sekali melihat kedatangan sang mama.
“Kamu masih marah sama mama? Kenapa?”
“Masih bertanya? Bukankah mama sendiri berjanji akan memperbaiki hubungan kita?” tegas van padanya.
Ya, mama ana sadar itu dan mama ana ingat benar akan janjinya pada sang putra. “Untuk mengambil zha kembali itu tak mudah, Van. Apalagi om edo yang menjaganya, jadi_”
“Takut?”
“Jangan potong ucapan mama, Van. Rencana kita harus matang apalagi zha itu amanat dari ayahnya,”
“Dan wajah mama sudah berubah hingga mereka tak akan percaya?” Van kembali menyergah sang mama, tapi itu semua memang benar adanya, bahwa mama sedikit ngeri jika om edo melanjutkan semua perkara ke pengadilan dan ia justru tak bisa bergerak sama sekali karena wajahnya sendiri yang sudah begitu berbeda.
“Besok, mama akan kesana mengusahakan semuanya. Mama akan berusaha memenuhi janji mama sama kamu untuk membawa zha kemari,” timpal mama ana yang kembali dengan janjinya.
Saat itu barulah van bangun dari tidurnya. Ia sebenarnya bukan anak manja yang ingin berlindung dibawah ketiak sang mama, tapi untuk saat ini memang sepertinya lebih mudah jika mama ana yang melakukannya. Apalagi mengingat hubungan darah diantara mereka. Dan van akan bergerak jika mama kesulitan melakukan rencananya.
Dan bagaimana yang tengah van perjuangkan saat ini? Justru zha tengah begitu berbunga-bunga hatinya atas resminya hubungan zha dengan om edo. Tapi ia belum memberitahu menganai berita itu pada wika ataupun om yan yang saat ini tengah dalam perjalanan pulang dari tambang.
“Kak wika,” sapa zha padanya yang tengah memasak di dapur untuk makan malam mereka.
“Apa Sayang? Tumben kesini?” tanya wika. Pasalnya memang sangat jarang zha ke dapur, dan memang ia melarang zha agar fokus belajar di kamarnya.
Hingga akhirnya terdengar suara mobil om yan datang. Wika yang mendengar langsung meminta zha untuk menyambutnya keluar, dan zha mengangguk gembira menurutinya.
“Om yan!” Zha memekik lalu berlari memeluknya.
“Apa kabar, Sayang? Maaf karena om telat datang, dan selamat atas kelulusannya.” Om yan meraih pelukan zha dan mengecup keningnya dengan begitu mesra. Hingga zha sadar, om edo rupanya berdiri dibelakang om yan dan mereka ternyata pulang bersama.
Zha segera melepaskan pelukannya ketika mendapat tatapan tajam dari kekasihnya yang ada disana. Tatapan begitu tajam dan membunuh seperti siap menerkamnya kapan saja, tapi zha suka. “Loh, kenapa?” tanya om yan, padahal zha begitu suka dipeluk olehnya.
“Ngga papa, Om belum mandi, kan? Mandi dulu deh, nanti kita makan malam bareng,” bujuk zha padanya, kemudian menghampiri om edo dan mencium tangannya seperti biasa. Hanya saja tatapannya yang tak biasa.
“Apa sih, peluk doang…” lirih zha padanya. Om edo tak menjawab, dan ia hanya berlalu naik ke kamar untuk membersihkan dirinya.
Zha merapikan semua perlengkapan om edo di ruang kerja, setelah itu ia membantu wika mempersiapkan makan malam mereka. Ia baru sadar jika mala mini adalah malam minggu ketika menatap kalender yang ada diatas meja kerja omnya.
“Pantes om yan pulang. Ih, zha gimana?” gumam zha yang juga sebenarnya ingin berkencan seprti mereka berdua. Tapi ia sadar, jika om edo pasti tak mau melakukannya.
Zha keluar melakukan segala tugas yang ada. Usai mempersiapkan semuanya, zha beralasan memanggil om edo diatas untuk makan malam bersama dan wika megizinkannya. Ia juga akan memanggil om yan dikamarnya untuk makan malam bersama mereka.
Zha tiba dikamar om edo, ia langsung masuk ketika ketukan di pintu itu tak dijawab. Apalagi tak di kunci, seakan memang sengaja memberinya akses untuk bebas masuk kedalam menemui penghuninya. Ia mendengar om edo masih ada di kamar mandi, dan ia duduk menunggunya diatas ranjang dan terus memperhatikan seisi ruangan yang begitu rapi dengan ornamen serba abu-abu tua bahkan di seprainya.
Ruangan besar itu juga begitu sejuk, harum aroma ciri khas om edo yang sangat ia sukai dan ia terus menhirupnya tanpa henti merasakan semua aroma itu tarus terserap kedalam tubuhnya. “Zha, sejak kapan disini?” tanya om edo yang keluar sembari mengusap rambut basahnya.
Untungnya saat itu ia memakai calana panjang meski bagian dada belum dibungkus dengan kaosnya. Zha membulatkan mata dan melebarkan mulut melihat pemandangan indah yang ada didepan mata, begitu menggoda jiwa kecil zha yang masih polos akan pria. Apalagi langsung mendapatkan yang dewasa.
“Mau ajak makan malem,” jawab zha padanya.
“Ya, sebentar,” jawab om edo sembari berjalan menuju lemari yang tak jauh dari tempatnya saat ini.
“Om, ini malam minggu loh,” ucap zha sembari memainkan kakinya yang menggantung disan.
“Kau mau apa, Zhavira?” tanya om edo, yang kemudian berjalan menghampirinya. Ia tahu apa maksud zha, apalagi selama ini melihat bagaimana kemesraan om yan dan wika.
Zha meloncat, kemudian berdiri tepat di hadapan om edo saat ini. Ia mendongakkan kepala lalu menatapnya, begitu juga om edo yang seketika mengunci pandangan diantara mata mereka. Pria itu meraih pinggang mungil zha dan mendekatkan keduanya agar semakin erat, hingga zha sedikit canggung padanya.
“Om mau ap?”
“Bukankah aku yang tadi bertanya?” Om edo meraih tangan kanan zha dan mengecupnya, turun terus mendekati lengan bahkan ke pipi mulusnya.
Zha memekik kecil dan tertawa kegelian dengan tingkah yang om edo berikan padanya. Ia berusah menghindar, namun om edo sudah terlanjur menahan tubuh zha dengan tangan besarnya.
“Om, Om … Ampun, geli,” tawa zha menggema di dalam ruangan itu, untung saja pintu ia tutup rapat agar suara mereka tak terdengar hingga kebawah.