
"Hay cantik, sedang apa?"
"Zha lagi istirahat, Om. Om sedang apa?" tanya balik zha. Dan itu jelas bukan om edonya, karena dari panggilan saja itu tak memungkinkan.
"Sama, om juga sedang istirahat. Bagaimana sekolah zha, lancar? Om rindu, mungkin nanti pulang sebentar dan bertemu." Om yan mejelaskan rencananya.
"Mau ketemu zha, apa kak wika?" goda zha yang langsung membuatnya tertawa.
"Keduanya, Sayang..." jawab om yan dengan suara lembutnya. Ia tahu jika ada insiden semlam dan ia harus kembali sebagai penenang dan penengah lagi diantara kedua manusia berbeda usia itu. Ini tanggung jawabnya, yang sulit diambil alih oleh siapapun karena om edo hanya mendengarkannya dan mendiang seto semasa hidupnya.
"Yeeey..." riang zha, bahkan tak perduli jika semua orang menatapnya saat itu. Iya akan menunggu om yan hingga jem berapapun karena om yan sendiri harus menyelesaikan pekerjaan yang ada terlebih dahulu. Bahkan zha janji tak akan tidur malam, karena ia mengaku tak dapat tidur setelah bear disita om edonya. "BAhkan tangannya patah. Zha_Cuma bisa kelonin tangannya doang," isak gadis itu menahan tangisnya.
"Nanti kita beli yang baru, okey?"
"He'emh," angguk zha dengan penuh antusias.
Usai menelpon zha, om yan beralih dengan sahabatnya. "Kabar apa yang sudah kau dapat? Kau pulang karena itu?" tanya datar om edo padanya sembari menatap suasana luar dari kaca di ruangan megah itu.
"Kau fikir hidupku hanya akan mengurusimu? Sudah lah, Do..." balas Om yan. tapi ia menceritakan bagaimana sedihnya zha ketika diajak membicarakan mengenai bearnya yang patah tangan.
"Dia yang menariknya, hingga robek."
"Kalau kau memberikannya, Zha tak akan menarik."
"Ya_" jawab om edo alakadarnya, seakan bosan terus membahas hal yang sama seharian ini. Dan ia merasa saat ini tengah doteror hanya karena bearnya yang terluka. Apa zha perlu ucapan permintaan maaf, karena om edo sama sekali tak merasa bersalah atas apa yang terjadi pada kedunya.
"Sudahlah, sampai ketemu nanti malam dirumah. Besok akan belikan zha boneka yang baru sebagai ganti bearnya yang kau rusak,"
"Hey! Sudah ku bilang bukan aku yang_.. Hallo? Haiss, tak sopan!" geram om edo pada sahabatnya itu.
Kenapa semua orang menyalahkannya saat ini. Apa mereka sama sekali tak melihat bagaimana perjuangannya mendidik zha menjadi gadis dewasa, tapi mereka selalu saja memanjakan zha seperti anak-anak. Padahal itu bukan hal yang diinginkan seti untuk gadis kecilnya yang harus ia tinggal mendadak.
Om edo hanya mendengkus napasnya kasar, kemudian beranjak untuk kembali duduk di kursi kebesarannya. Ia mengadahkan kepala, mengusap rambut dan memejamkan mata. Entah, rasanya ada yang mengganjal dihati saat ini. Entah karena zha, bear, atau rasa bersalah pada kedunya.
"Hanya gara-gara boneka dan gadis kecil itu, seakan aku dikejar hutang trilyunan hingga aku susah untuk tidur. Bahkan seto seperti mendatangiku untuk pertanggung jawaban pada putrinya. Sial!!" geram om edo mengingat semua kesialan yang menimpa hidupnya.
**
"Zha pakai taxi, sebentar lagi sampai." Balas zha.
Zavan kemudian duduk didekatnya, tapi berjarak meski ia sebenarnya ia ingin begitu dekat dengan zha yang masih sangat misterius menurutnya. Ia masih sangat ingin tahu bagaimana zha, sifatnya, hoby dan semuanya. Bahkan zha begitu jarang mencerikan apa yang terjadi pada dirinya saat ini, seperti pandai membedakan situasi antara dirumah dan di sekolah. Benar-benar tak seperti gadis lain yang sering mengumbar hhal itu hanya demi sebuah perhatian dan pengakuan.
"Zha, kamu senang tinggal bersama mereka?" tanya van padanya. Mendengar hal itu, zha pun segera menoleh dengan tatapan penuh tanya. Setelah lama bersama, kenapa van mendadak bertanya sesuatu yang seperti ini, bagai van tengah mengulik kehidupan pribadi zha.
"Kakak nanya gitu, kenapa?"
"Ngga papa. Karena aku tahu, mendadak tinggal bersama orang yang bahkan kita ngga kenal itu sulit. Kadang bahkan kita dipaksa untuk menyesuaikan diri dengannya, dan bahkan menuruti setiap aturan darinya,"
Mungkin van berkata seperti itu karena berkaca dengan dirinya sendiri berdasarkan pengalaman hidupnya yang kadang ia rasa pahit penuh tekanan, tapi begitu banyak orang diluar sana merasakan lebih pahit dan getir dari apa yang ia rasakan.
"KAkak kenapa?" tangkap zha aneh pada ekspresi zavan saat itu padanya, "Kakak ada masalah?"
"Tidak, bukankah aku bertanya padamu? Kenapa justru kau mengulikku?"
"Hanya_ Udahlah, ngga penting. Yang jelas, zha harus tinggal disana sesuai permintaan ayah buat zha. Entah nanti gimana kalau zha udah dewasa. Masih disana atau_"
"Apa?" potong van pada ucapannya. Tapi zha menggeleng, taxinya datang dan ia bersiap untuk pulang. Bahkan ia tak segan meraih tangan van dan mengecupnya, membuat degup jantung dan dunia van terasa berhenti seketika.
"Dah Kak Van, ketemu besok ya," ucap zha yang tanpa sadar sudah masuk kedalam taxinya. Ia melambaikan tangan, dan tanpa sadar van membalasnya.
Hari memang sudah sore, dan jalanan cukup ramai apalagi dijalan utama menuju rumah om edo. Mereka semua juga tengah berpacu dengan waktu agar tak telat pulang kerumah masing-masing untuk bertemu dengan keluarga yang sudah menunggu. Bahkan ketika berhenti di lampu merah, tepat di sebelah zha ada anak bersama ayahnya tengah berbonceng motor bersama. Sang anak yang ada dibelakang tengah seru bercerita meski entah apa, dan sang ayah begitu antusias mendengar dan menjawab apa cerita sang putri padanya.
Zha menatap mereka sembari tersenyum, dan bahkan membayangkan jika itu adalah ia dan ayahnya. "Tapi kenapa malah bayangan om beku yang muncul?" tanya zha setengah menangis meratapi nasibnya. Apakah karena perasaan kesal itu, hingga membuat wajah om beku selalu terngiang dan terus muncul di kepalanya?
Setibanya dirumah, zha segera masuk dan istirahat di kamarnya. Ia sudah taka da tugas lagi selain untuk belajar untuk ujian yang akan di laksanakan beberapa hari lagi dan ia akan bekerja keras dengan itu semua. Tapi sayangnya istirahat zha tak bisa selelap biasa. Ia kehilangan bearnya, dan ia masih tak dapat memejamkan mata.
"Aaaa... Ayaaaah!!" panggil zha pada sosok yang ia rindukan. Apalagi memang bear itu multifungsi baginya. Bisa menjadi ayah yang akan ia peluk ketika mengantuk, tapi bisa menjelma menjadi om beku yang ingin ia ajak bergulat dan melampiaskan segala kekesalan itu padanya.
Dan saat ini zha butuh bear sebagai ayah. Ia seakan tak bisa memejamkan mata tanpanya meski sudah ia paksa berkali-kali hingga rasa perih menghampiri. Dan saat ini ia hanya bisa meringkuk menggenggam dan memeluk tangan bear yang berantakan dengan sisa sia kehangatan yang ada.
Wika yang mendenarnya dari luar ikut perih. Ia bahkan nyaris menitikan air mata karena zha dengan segala kepedihan hatinya. Meringik, kadang terisak sendiri didalam sana. ia tahu, meski zha masih sering seperti itu, tapi wajah ia tenggelamkan pada bear agar orang lain tak pernah tahu akan rasanya.
"Astaga_" Om edo memijat dahi ketika melihat video yang di kirim wika padanya. Sebegitukah rasa sakit zha saat ini, dan seketika membuatnya Merasa amat bersalah dan bertanggung jawab dengan apa yang ia alamin.