
Van menatap nyalang sang mama yang saat itu masih mencengkram adik kesayangannya. Ia berjalan dengan cepat, lantas meraih kepala belakang mama ana sekuat tenaga hingga mama mengadahkan kepala kesakitan karenanya.
“Arrrghh!! Van, sakit, ampun!!” pekik mama meraih tangan van dari rambutnya.
“Beginikah mama mempelakukan zha jika tak ada van dan ayah?”
“Eng-engga, Van. Itu tadi Cuma_”
“Cuma apa?” Cengkraman van semakin kuat padanya hingga mama mengeluarkan air mata. Sedangkan zha masih disana melihat mereka sembari tersenyum meski kepalanya sendiri terasa nyeri.
“Dia! Apa gara-gara dia kau memukul zha?” tunjuk van pada revan yang masih disana dengan wajah takutnya. Ia lantas menatap van, tampak bibirnya gemetar sembari berusaha membuat pembelaan untuk dirinya sendiri.
“Van, dengerin penjelasan mama. Mama ngga kan semarah ini, jika zha tak membuat ulah terlebih dulu sama mama. Dia kabur semalam, dan bahkan… Arrghh! Dia kabur dan mengunjungi omnya disana. Bukankah van juga sudah melarangnya?”
“Tapi mama memaksa zha untuk kencan sama dia!” balas zha, karena ia tahu jika van juga tak mau zha dijodohkan dengan siapapun saat ini. Zha hanya miliknya, dan hanya van yang berhak atas diri zha saat ini.
Van menatap lagi pada revan, pria itu tampak menganggukkan kepala membenarkan ucapan mama ana padanya tapi ia tak menambahi apa-apa. Revan lantas segera pamit pergi dan berlari meninggalkan mereka semua disana.
Begitu juga dengan zha. Ia yang lemas lantas berusaha berdiri dari tempatnya, meski dengan tertatih menahan perih, ia berusaha terus berjalan naik hingga ia tiba dikamarnya saat itu. Ia menutup pintunya rapat meski suara pertengkaran van dan mama ana masih terdengar ditelinganya.
“Van, mama bersumpah tak pernah melakukan apapun pada zha sebelumnya. Mama sudah kadung emosi akibat semua kelakuannya selama ini yang begitu sulit untuk diatur. Zha seperti sengaja memancing mama agar ia bisa segera pergi dari sini. Ini hari ulang tahun zha, Van.” Mama ana melepaskan genggamannya pada van, dan saat itu van juga melepas cengkraman kuatnya secara perlahan.
Mama ana terjatuh ke lantai, meringis myeri tapi berusaha untuk tetap tenang saat ini. Sedangkan van menjatuhkan dirinya di sofa berusaha untuk meredam segala emosi yang ada dalam dirinya, kemudian tertunduk meraup wajahnya dengan begitu kasar.
Tak lama van terjebak dalam kegalauan yang ada, Ia segera berdiri dan melangkahkan kaki menuju dapur saat itu. Ia mencari beberapa es batu dan mencampurnya pada air lantas ia bawa ke kamar zha. Ia sedikit lega ketika mengetahu kamar zha tak dikiunci hingga ia bisa leluasa untuk masuk ke dalam sana.
“Zha?” panggil van, dan saat itu zha yang tengah berbaring langsung duduk bersila dengan kedatangannya.
Zha tak bertanya kenapa, ia sudah tahu semua apa yang akan van lakukan padanya. Benar saja, van saat itu duduk berhadapan dengan zha dan meraih wajahnya yang memar akibat mama. Entah rasa bersalah atau rasa tak ingin melihat adiknya terluka, van hanya diam dan fokus mengompres luka zha yang ada didepan matanya.
“Sakit?”
“Perlu ditanyakan? Bahkan om edo saja tak pernah sekalipun memukul zha meski setegas itu,” jawab santai zha padanya.
“Bisakah… Kau tak selalu membawa Namanya dalam pembicaraan kita? Didepan matamu ada aku, zha.” Dan zha hanya mengedikkan bahu menjawabnya. Seperti hal yang mustahil karena hidup zha memang hanya untuk om edonya saat ini.
“Perbandingannya terasa begitu jelas,” jawab zha yang meraih kompres itu sendiri diwajahnya.
Mereka berdiam diri sejenak disana, van seolah kehabisan kata-kata untuk bicara pada zha dengan segala pembahasan yang ada.
“Iya, yang ke Delapan belas. Keren ya, Kak, ulang tahun malah dapet hadiah istimewa dari mama zha. Yang lain dapetnya kado indah, padahal ini kali pertama zha tinggal dengan mama. Ternyata_”
“Persiapkan dirimu, kita akan pergi setelah ini.”
“Kemana?” tanya zha, tapi van tak menjawab dan hanya berdiri keluar dari kamarnya. Zha hanya berfikir, jika hari ini van akan menghiburnya dengan segala kesedihan yang ada sebagai seorang kakak yang baik.
Usai van keluar, ia membersihkan dirinya saat itu juga. Ia mencari sebuah dress yang indah dan berdandan dengan cantik sembari menelpon papa bear untuk memberitahu kegiatannya saat ini bersama van.
“Berdua?” tanya om edo, tampak kecemburuan dari raut wajahnya saat itu.
“He’em, Sayang. Dia tahu kalau hari ini ulang tahun zha, jadinya mau ajak jalan. Ngga papa kan?” tanya zha yang tengah memakai antingnya.
“Pipi dan bibirmu?” tunjuk om zha yang fokus pada area itu saat ini.
“Ini?” tanya zha, dan ia terdiam sejenak menunda jawabannya. “Zha tadi di pukul mama. Ya, tahu sendiri apa alasannya. Ditambah, ini.” Zha menunjuk beberapa bekas merah dilehernya saat itu.
“Aku tak merasa memberikan itu padamu,” tatap om edo datar padanya. Tapi zha saat itu hanya tertawa terbahak-bahak, ia bingung harus memulai semuanya darimana.
“Ini? Hahhahaa! Ini zha buat sendiri pakai botol air mineral. Sengaja biar mama marah sama zha,” jawabnya. Memang ia melakukan itu semua ketika pulang dari rumah om edo dan sempat mampir ke minimarket untuk membeli minuman botol disana.
Entah fikiran apa yang merasuki zha untuk melakukan itu semua, bahkan supir taxi yang ia tumpangi saat itu hanya bisa menggelengkan kepala melihatnya.
“Hanya karena itu dia memukulmu, Nduk. Aku tak rela melihatnya!” Om edo seakan ingin segera datang kesana dan membawa zha pulang ke rumahnya saat itu juga, namun zha melarangnya dan meminta agar ia tetap tenang disana.
“Zha ngga papa, Om. Tadi diobatin sama kak van, udah mendingan.”
“Kabari aku segera jika terjadi sesuatu lagi denganmu, entah apapun itu.” Zha mengangguk mendengar titah kekasihnya saat itu. Ia tahu, jika sebenarnya hati om edo tengah meradang disana mendengar gadis yang dicintainya di aniaya oleh sang mama.
Zha kemudian pamit, ia akan pergi bersama van sesuai dengan rencana dan om edo sudah memberi izin padanya. tak lupa memberi kecupan jarak jauh untuk sang calon suami. Zha tmpak sedikit ceria, ketika ia turun kebawah dan menghampiri kakaknya disana.
“Zha?” Mama ana menghampiri dan ingin meraih zha, tapi gadis itu menepis tangannya.
“Zha, mama hanya_”
“Ngga sengaja, itu kan yang mau mama bilang? Zha bahkan sudah terlalu skeptis mendengarnya. Yang tak disengaja saja seperti ini, mungkin kalau disengaja zha bisa mati.” Mama membisu mendengarnya, ia tak bisa berbuat apapun karena van ada di dekat mereka dan ia harus mengunci bibirnya rapat-rapat dan menahan tangannya untuk bergerak.
“Dia tak akan bisa menyentuhmu lagi setelah ini, Zha.” Van berdiri sembari melipat lengan kemeja yang ia kenakan saat itu dan lantas menggandeng tangan zha untuk pergi dari sana meninggalkan mama ana sendiri dalam diamnya.