I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Belum kapok, Ma?



“Hah, ketemuan lagi? Terus kakak mau aja gitu?” tanya lidya yang pagi itu mendapat telepon dari kekasihnya.


“Ya, mama bilang menemaninya arisan. Tapi tak mungkin ada maksud lain,” balas Van sembari mengancing kemeja didepan kaca.


“Kita kencannya gimana? Dya hanya libur Tiga hari terus bakal pergi lagi loh ini,” rengek gadis itu dengan begitu kesal. Karena ia tahu benar, jika sudah seperti itu pasti ama ana akan menahan van dengan berbagai cara bersama dengannya dan wanita yang ia perkenalkan saat itu.


“Mau kencan ya kencan loh, nanti kita ketemuan disana aja.” Van dengan begitu santai menjawabnya. Sementara disana lidya masih dengan perasaan yang tak karuan kesalnya, bahkan semangat menjalani harinya seakan hilang seketika.


“Mau kan menjemput aku disana, sekalian akan ku perkenalkan kau sebagai calon istriku,”


“Wegah, masa dya yang jemput? Bisa makin jadi mama ana nanti,” tolak lidya padanya. Ia sudah membayangkan bagaimana mulut mama ana atas kedatangannya kesana apalagi untuk menjemput putra kesayangannya. Tapi van terus membujuk, bahkan merayu dengan zha agar ia bawa kesana.


Mama ana tak akan bisa terlalu banyak meracau ketika ada zha dan ia akan memilih diam ketika ada zha didepan matanya. Apalagi banyak teman-teman arisannya disana, yang seharusnya zha ikut dalam komunitas mereka jika ia bisa menyesuaikan diri dengan usianya saat ini.


“Ya, aku hubungi zha agar membawamu kesana?” Van lagi-lagi membujuk kekasihnya.


“Alah emboh, capek dya tuh. Ngga enak dikit-dikit bawa zha.” Perdebatan mereka terus berlanjut disana dan bahkan tak ada kata sepakat dari keduanya. Hingga akhirnya lidya hanya bisa pasrah dan diam, entah bagaimana jadinya nanti.


Lidya justru merebahkan dirinya di ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Ia kesal, jengah dan marah pada van kali ini yang tak bisa tegas pada mamanya yang satu itu. Rasanya jika bertemu, lidya akan memarahinya hingga puas dan bahkan mengacak-acak rambutnya hingga ketampanan itu hilang.


Mama ana memanggil van saat itu, ia masuk sembari membantu sang putra memasangkan dasinya. Van hanya menurut dan diam hingga keduanya bersama turun menuju meja makan. Ayah sam bahkan tak tahu jika mama ana merencanakan sesuatu lagi darinya kali ini. mama hanya pamit pergi arisan bersama para sahabat dan meminta van untuk mengantarnya.


“Ayah dirumah sama bibik, kalau ada apa-apa beri tahu mama, ya?” bujuk manis mama ana pada suaminya itu, dan masih begitu telaten menyuapi sembari memberi obat rutin seperti biasa. Mama ana tampak normal dimata mereka, hanya tinggal menunggu waktu ia bisa menggila kapan saja.


Ayah sam di bawa lagi masuk ke kamar untuk mengistirahatkan diri disana. Mama ana naik ke kamar atas dan mempersiapkan dirinya dengan segera. Memang sejaka ayah sakit, mereka pinda ke kamar bawah meski barang tak mereka bawa semuanya kesana.


Sementara itu van terlebih dulu menuju mobil karena ingin memanaskan mesinnya.


Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah Restaurant mewah yang berada dilantai atas sebuah mall. Mereka memang sering sekali mengadakan pertemuan disana karena selain tempatnya nyaman, spotnya juga indah untuk berfoto ala sosialita macam mereka yang bahkan kadang mau merogoh kocek lebih demi dekorasi baru yang mereka inginkan.


“Hay, Jeng… Ya ampun makin cantik aja,” sapa mama ana dengan beberapa rekan yang sudah menunggunya disna. Meski masih terlalu pagi untuk sebuah acara arisan mak-mak yang biasanya diselenggarakan sore ataupun malam hari.


Mereka saling menyapa dan menghampiri, bahkan saling melempar pujian meski itu benar tulus atau sekedar gimmick semata. Dan itu semua sangat biasa di kalangan mereka, bahkan van yang ada disana begitu geli mendengarnya.


“Ini zavan? Astaga, ganteng banget, makin gagah aja.” Salah seorang dari mereka memuji van saat itu dengan tatapan takjubnya.


“Eh iya, jeng nurul mana?” tanya mama yang sejak tadi memang seperti mencari seseorang diantara mereka. Dan akhirnya yang dimaksud datang, ia membawa anak gadisnya yang manis dan lugu untuk bergabung bersama mereka dengan alasan memperkenalkannya pada semua yang ada disana.


Vang yang sudah mencium aroma itu sejak awal hanya bisa menghembuskan napas panjang melihatnya. Ia berharap kedua malaikat cantik itu datang menyelamatkannya kali ini seperti dua pahlawan yang akan melawan penjahat didepan rumahnya.


Pada mama berkumpul di meja besar mereka, bercengkrama disana memamerkan semua yang dipunya. Itu seperti sebuah tradisi, makanya zha paling anti ikut arisan seperti itu meski ia bisa lebih wah dari mereka semua.


Dan acara berakhir, tinggal sesi mengobrol dimana mama mengajak van bergabung dengan bu nurul dan anak gadisnya disana. Ia kumat lagi, memperkenalkan van dan menceritakan semua kelebihannya seolah van adalah barang dagangan yang tengah gencar ia promosikan saat itu.


“Ini putranya? Wah, cakep. Cocok buat anak saya sepertinya, cantik, berpendidikan.” Bu nurul mulai mencocokkan mereka berdua yang duduk bersebelahan didekat mereka.


“Iya, dong. Jadi gimana, kita jadi_”


“Maaf, Kakak saya Sudah punya calon istri.” Zha mendadak datang, dengan langkah elegannya ia menghampiri mereka semua bahkan meraih sebuah kursi dan duduk diantara van dan gadis yang bernama lita itu.


Zha sejenak memperhatikan mereka berdua, bergantian degan mama dan bu nurul yang ada disana. “Belum kapok, Ma?” tanya datar zha pada mamanya, sementara bu nurul saat itu seketika menelan saliva menlihat kedatangan istri bos suaminya disana