
Hari ini adalah hari yang paling ditunggu oleh zha. Hari dimana ia akan mendapatkan lembaran kelulusan dari sekolahnya, dan mengakhiri Pendidikan disana. Sayangnya, ia tak akan menikmati euphoria seperti yang selama ini ia lihat dari kakak kelas disekolahnya terdahulu. Dimana mereka akan saling berpelukan ketika mendapatkan surat kelulusan bersama para sahabatnya.
Ya, tak ada yang akan zha peluk hari ini sebagai ungkapan rasa bahagianya. Mungkin om edo, tapi juga tak akan seperti ketika ia memeluk sahabatnya yang sampai berjingkrak kegirangan dengan segala rasa bahagia yang ada. Ia ingin seperti mereka semua yang saling peluk dengan teriakan kebahagiaan yang sering ia dengar selama ini dari para kakak kelasnya.
Pagi ini zha tiba disekolahnya. Tak ada lagi sambutan ceria seperti biasanya meski ia tahu semua palsu. Tapi itu saja membuatnya bahagia sebelum tahu semua keberannyya. Bahkan dinda tak ada lagi disana, Om edo mengirim keluarganya pergi jauh dari kota dan memutasi ayah dinda ke tambang miliknya. Memang kejam, tapi itu disetujui oleh ayah dinda agar menjauhkan anak gadisnya dari kehancuran yang semakin parah nantinya. Bahkan zha tak pernah diberi izin untuk melihat dinda untuk yang terakhir kalinya.
Tak ada yang menegur zha saat masuk kekelas, apalagi mereka yang sempat membullynya beberapa waktu lalu. Mungkin mereka sudah terlanjur takut dengan zha, terutama dengan omnya yang tak tanggung memberikan hukuman pada yang menyakiti hati gadisnya. Ia tak segan mengirim keluarga mereka ke luar kota bahkan jauh dipedalaman sana.
“Zha?” panggil van yang menghampirinya dikelas. Ia bahkan sudah tak memakai seragam lag saat itu dan justru memakai setelah jas hitam dan tampak begitu tampan berwibawa dibandingkan siswa lain disana.
“Kak van,” jawab zha yang langsung semringah menatapnya.
“Kelulusan kamu, diambil sama siapa?”
“Ya, Om lah… Siapa lagi? Zha kan Cuma punya om. Kakak?” tanya zha.
“Mama ambil. Sebenarnya aku ngga suruh tadi, karena aku bisa sendiri. Eh, dia maksa. Mau jadi ibu yang bertanggung jawab sepertinya,”
“Kakak jangan gitu. Bersyukur, meski ibu sambung tapi sayang banget sama kakak. Zha, ibu kandung aja ngga tahu kemana.” Zha kembali murung meratapi nasibnya.
“Van… Zavan?” panggil seorang Wanita padanya. Van saat itu segera keluar dan bicara sejenak padanya agar msuk ke aula, dan para wali murid telah menunggu disana.
“Kamu sama siapa?”
“Sama zha, kenapa?” jawab van dengan jujurnya. Saat itu mama segera membulatkan mata, begitu penasaran dengan sosok zha yang telah memikat hati putranya. Ia bahkan menerobos masuk ke kelas itu meski van sempat melarangnya.
“Hey, mau apa bertemu. Nanti dia malu,”
“Ayolah, mama penasaran sama calon mantu. Mana dia?” Mama benar-benar masuk, lalu menatap seluruh ruangan kelas itu mencari sosok zha diantara mereka yang duduk rapi dibangkunya.
Mendengar suaranya disebut, zha segera menoleh dan melihat kea rah sumber suara, “Ya, ini zha. ada apa ya?” tanya gadis itu pada mama van.
Mama ana menatap zha terkejut. Ia melihat gadis itu begitu manis dan tampak lembut dimatanya, kulitnya putih terawatt dengan tatapan hangat. Itu mengingatkannya pada seseorang, tapi juga banyak yang memiliki mata sama seperti zha. mama ana segera menghampiri, tapi van menarik tangannya saat itu juga hingga mamaya keluar lagi.
“Ma, malu. Nanti dia kalau justru takut gimana?”
“Takut apa, Nak? Gadisnya manis gitu. Mama langsung suka sejak pertama bertemu. Perjuangkan hatimu, dan mama akan bantu hingga kalian Bersatu.” Mama ana berusaha memberi semangat pada putranya.
“Udahlah, Ma. Ke aula aja kumpul sama yang lain,” pinta van pada mama ana. Saat itu, melihat wajah van begitu membuat mamanya gemas, hingga akhirnya ia mengalah dan menuruti sang putra.
Mama ana meninggalkan mereka dan menuju aula. Disana rupanya acara telah dimulai dan ia duduk dibelakang bergabung dengan wali murid yang lain. Ia begitu bahagia bisa menghadiri acara kelulusan putranya yang telah ia nanti sekian lama.
“Itu mama kak van?” tanya zha. Ia juga kaget dan bertanya-tanya kenapa mama van sampai mencarinya dan masuk kedalam kelas mereka.
“Dia… Dia penasaran sama kamu, Zha. Penasaran dengan gadis, yang mungkin akan menjadi calin menantunya.” Jawaban van itu membuat zha seketika membulatkan mata. Apalagi banyak teman lain disana yang seketika menatap mereka berdua.
Zha menoleh kekanan dan kekiri melihat ekspresi mereka semua pada keduanya. Wajahnya memerah karena tersipu malu dengan apa yang van katakana padanya, “Kakak, kok gitu?”
“Zha, aku serius. Aku dari dulu sudah_” Ucapan van terhenti. Entah kenapa begitu sulit untuk mengucapkan kata suka dan cinta pada gadis yang ada didepan matanya. Suara van tercekat, “Aku bahkan tak hanya sayang, tapi sudah begitu… Ahh, mungkin cinta?”
“Cieeee!!!!” Mereka semua yang ada disana bersorak untuk keduanya. Apalagi untuk van yang selama ini diam akhirnya mengungkapkan perasaannya. Meski disana ada lidya yang cemberut penuh rasa kecewa.
“Kak, Zha ngga bisa. Zha… Zha belum berfikir kea rah sana, dan zha masih mau_” Zha yang gugup itu berbicara terbata-bata. Ia sendiri beingung harus menjawab apa padanya. Apalagi melihat van yang begitu ingin mendapat jawaban darinya.
“Zha… Zha…” Gadis itu justru beranjak pergi dari kelas itu dan berlari keluar.
Van awalnya diam, tapi ia menganggap zha hanya terkejut dengan ucapannya yang tiba-tiba. Ia hanya tersenyum miring, lalu beranjak untuk pergi menyusul zh.
Sambutan demi sambutan telah di uraikan. Pihak sekolah juga telah memberi selamat pada siswa yang telah berhasil menempuh Pendidikan dengan nilai mereka yang memuaskan. Hal itu disambut tepuk tangan oleh para wali murid yang duduk rapi ditempatnya masing-masing sesuai kelas putra atau putri mereka
Hingga akhirnya amplop berisi surat kelulusan itu dibagikan. Mereka satu persatu naik ke atas podium untuk mengambil surat dari masing-masing murid yang mereka wakili saat ini. Mama ana begitu bahagia dan bangga ketika menerima amplop van ditangannya, dengan nilai yang memang memuaskan.
“Mama bangga sama kamu, van. Coba dari dulu begini, pasti_” Ucapan mama ana terhenti ketika tanpa sengaja melihat siapa yang naik ke podium tak lama kemudian.
Seorang pria yang ia sangat kenal ada disana dan meraih sebuah amplop dari sang kepala sekolah untuk yang ia wakili. Mama ana terdiam, ia terus memastikan pria itu benar-benar pria yang ada dalam fikirannya sejak tadi. Namun, untuk siapa dia datang? Padahal mama ana tahu benar jika pria itu bahkan belum menikah hingga saat ini. Jadi, siapa yang ia wakili?
Mama ana terus bertanya dalam hati. Ia menunggu moment yang tepat untuk menghampiri pria itu dan bertanya langsung padanya. Setidaknya bertegur sapa, karena ia adalah rekan kerja suaminya meski mereka hampir tak pernah bertemu selama ini.
Mereka semua akhirnya bubar. Para siswa menghampiri orang tuanya masing-masing untuk melihat hasil yang mereka peroleh setelah kerja keras yang mereka lakukan. Termasuk zha, yang tadi lari dari van dan kini menghampiri omnya.
“Selamat, Zha. Hasilnya memuaskan,” puji om edo pada gadisnya. Tak lupa meraih kepala zha dan mengusap rambutnya dengan mesra. Bahkan om edo mengecup kening zha dan membuat gadis itu berbuga-bunga karenanya.
Zha tersipu, ia amat bahagia meski juga galau terhadap ucapan van padanya. Namun ia memilih menunda untuk menceritakan itu semua dirumah mereka nantinya. Saat ini ia hanya ingin menikmati euphoria yang ada ditengah sorak sorai para sahabatnya disana. Walau sebenarnya ia masih merasa begitu sepi ditengah segala keramaian yang ada dan memilih tetap menggandeng tangan om edonya.
Hingga mama ana datang dan menghampiri keduanya. Ia semakin penasaran, karena yang dipeluk om edo saat itu adalah gadis yang dicintai oleh putranya. Mereka tampak begitu akrab, saling sayang seperti telah lama bersama.
“Edo, ini benar-benar kamu?” tanya mama ana ketika menyapanya.
Om edo seketika membulatkan mata, lalu memutar kaki untuk menoleh padanya. Melihat mama ana, ia langsung meraih zha dan meraih gadis itu agar berada dibelakang tubuhnya. Meski sedikit penasaran dan penuh tanya, tapi zha menuruti apa yang dilakukan omnya. Ia juga gemetar sebenarnya, ketika melihat kembali mama Van didepan mata saat ini. Ia takut jika mama van nekat melamar dirinya didepan om edo secara tiba-tiba.
“Sudah lama tak bertemu, Anastasia.” Om edo menjawab semua dengan deep voice dan wajahnya yang begitu dingin. Tatapannya juga begitu tajam saat itu seperti tengah bertemu dengan seorang yang tak pernah ia sukai selama ini.