
“Van, Zavan dengerin mama dulu, Nak. Mama kasih alasan buat jelasin semuanya sama kamu,” panggil mama ana pada sang putra yang berlalu pergi meninggalkannya. Ia cemas dengan ekspresi kekecwaan van saat ini, padahal ia baru saja merasa hubungan itu mulai membaik setelah sekian lama.
Tangan mama ana berhasil meraih tangan van, namun seketika itu juga van melepaskannya dengan begitu kasar. “Mau jelasin apa? Mau jelasi alasan meninggalkan anak dan suami demi yang lebih kaya? Bener van ngga tahu kemiripan kalian, karena rupanya wajah itu saja sudah dirombak.”
“Van, mama punya alasan, Nak. Mama memang udah ngga bisa lagi sama ayah zha saat itu. Kami terlalu muda dan tergesa-gesa ketika memutuskan akan_”
“Ayahnya… Anaknya? Apa pantas ditinggal begitu saja? Sekarang van paham, kenapa mama selalu gagal ketika mengandung anak ayah.” Van memperingatkan mengenai karma saat ini, yang tanpa ia ucapkan namun begitu menusuk kedalam hati mama ana dengan begitu dahsyatnya.
“Van, itu menyakitkan.” Mama ana meneteskan air mata sembari memegangi dadanya.
“Sakit? Bagaimana mama fikir perasaan zha saat ini. Dan van? Mama fikir bagaimana perasaan van yang mungkin tak akan pernah mendapatkan zha.” Wajah pemuda itu seketika menunjukkan betapa sakit hati dirinya saat ini. Betapa ia mencintai gadis yang ternyata adalah adik sambungnya itu. Ia tak akan pernah rela jika selalu ada dalam posisi seperti ini, yang tak pernah bisa mendapat cinta zha seperti yang seharusnya.
“Apa ayah tahu tentang zha?” tanya van lagi pada mamanya.
“Sebelum menikah, mama sudah terus terang sama ayah. Dia ngga keberatan, apalagi saat itu zha tak mama bawa bersama.”
Mendengar itu, van menghempaskan dirinya disofa. Ia mengadahkan kepala dan meraup wajahnya kasar dengan penuh rasa kecewa. Andai mama jujur sejak awal, pasti keadaanya tak akan seperti ini. Atau bahkan ia akan meminta mama untuk mengambil zha dari sang ayah untuk menjadi adiknya. Tapi kini, ia bahkan bingung harus bagaimana dengan zha.
“Zha, kenapa bersama omnya? Dimana ayahnya?” tanya mama padanya.
“Ayahnya meninggal beberapa bulan lalu. Sejak saat itu, pengasuhan zha diambil alih oleh om edonya.” Van menjawab dengan semua yang ia ketahui dari zha.
Mama ana menutup mulutnya dengan tangan yang bergetar. Lututnya juga ikut bergetar, hingga ia menjatuhkan diri di sofanya. Ia menangis, baru ia fikrikan bagaimana zha yang selama ini tak ada dalam dekapannya. Tapi itu rasanya percuma, apalagi ketika melihat ekspresi zha ketika tahu jika mama ana adalah mama kandungnya, ia bukan berari merentangkan tangan untuk memeluk bahagia melainkan bersenbunyi dibelakang om dengan wajah ketakutan.
Zhavira yang ia lahirkan itu sudah sebesar itu sekarang. Gadis yang sebentar lagi beranjak dewasa dan akan meriah cita-citanya. Ia ingat sekali bagaimana ketika mengandung zhavira dengan segala keterbatasan yang ada, ketika makan seadanya dan tidur dirumah kecil berkamar begitu sempit. Bahkan hanya untuk ngidam steak sapi saja ayah zha tak bisa menurutinya, padahal ia bisa saja meminta pada bosnya untuk membantu keuangan mereka kala itu.
Hingga usai kelahiran zha, mama ana merasa begitu tersiksa, merasa menyesal dengan keputusannya menikah muda hanya berlandaskan cinta. Padahal semua tak semudah itu, pernikahan dan rumah tangga tak seindah hanya dengan makan sepiring berdua. Hingga akhirnya mama ana memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua, merombak wajah agar menjadi lebih segar dan menarik agar ia bisa dengan mudah diterima di dunia kerja. Bahkan ia sempat ingin menjadi seorang aktris kala itu. Tapi ternyata perjuangannya juga tidaklah mudah.
“Van mau zha.”
“Sayang,”
“Dia anak mama, jadi fikirkan bagaimana cara mengambil zha dari om edo secepatnya. Setidaknya tunjukan tanggung jawab mama sebagai ibunya, meski terlambat.” Van beranjak dari sofa dan segera pergi meninggalkan mamanya. Ia tak perduli, bagaimana cara mama ana untuk membawa zha padanya dan menjadi adik van secepatnya. Entah bagaimana nanti, bisa atau tidak seorang zavan menjaga perasaannya sendiri dari seorang zhavira..
Mama ana tampak cemas dan mulai menggigiti kukunya disana. tangannya gemetaran mendengar tantangan van, tapi baginya itulah yang akan memperbaiki hubungan mereka berdua dan bahkan van akan mencintainya sebagai mama. Ya, mama ana begitu ingin seperti itu dengan keluarga barunya yang bahagia. Apalagi ketika membayangkan zha ikut bahagia diantara mereka.
“Van sayang zha, pasti semua akan begitu indah jika kami bersama.” Mama ana memulai ambisinya lagi dengan segala rencananya kali ini.
“Tuan, bisakan tolong zha untuk makan kali ini? Dia tak menyentuh makananya sama sekali. Saya sudah meminta mas yan datang, tapi dia sangat sibuk disana.” Wika menghampiri om edo yang ada diruang kerjanya.
Om edo kemudian memijat kening, ia beranjak dan mengambil makanan baru yang ada dinampan wika saat itu. Om edo lantas membawanya naik menuju kamar zha dan masuk tanpa mengetuk pintunya. Ia duduk, melihat makanan yang masih utuh tak tersentuh dimeja.
“Apakah, kau akan mengajak seisi rumah ini puasa?”
“Kalau mau makan ya makan aja, ngga usah nungguin zha.”
“Ya, baiklah jika seperti itu. Aku hanya kasihan melihat makanan sebanyak ini akan terbuang, padahal disana banyak orang kelaparan dan butuh makanan.”
“Setidaknya mereka memiliki orang tua lengkap, bisa bermain dan tidur bersama ayah ibunya,” celetuk zha dengan nada datarnya.
“Taka da yang bisa dibandingkan, Zha. Karena mereka juga bisa menangis melihat kebahagiaan kita,”
Terdengar zha menarik ingusnya dengan kuat dalam dekapan bearnya. Hal itu membuat om edo tertawa tipis mendengarnya, tapi zha justru semakin menyembunyikan wajah dalam dekapan bear saat itu juga.
“Hey… Kau tahu aku sibuk, bukan? Aku bahkan sudah datang dan menyempatkan diri untuk menyuapimu kali ini. Kau tak mau mengambil kesempatan langka ini?” bujuk om edo padanya.
“Bener mau suapin, nanti bohong.”
“Ayolah. Aku akan menyuapimu sampai makanan ini habis, bagaimana?” Om edo kembali menawarkan diri padanya.
Zha yang masih tenggelam dalam pelukan bear sebenarnya amat tergiur dengan tawaran langka itu. Tapi, ia ragu dengan bentuknya sendiri saat ini yang pasti begitu berantakan dan tak sedap dipandang mata. Wajahnya lengket penuh air mata, rambutnya acal-acakan, belum lagi dengan semuanya yang memang tak dapat ia lukiskan dari penampilannya. Ia malu jika om edo melihatnya saat ini.
“Om?”
“Ya, ada apa? Kau tak mau? Baiklah, aku akan_”
“Mauuu, Zha mau banget disuapin. Tapi, om balik badan dulu. Zha mau_”
“Baiklah,” jawab om edo yang cukup peka dengan maksud zha. Ia membalik badan, dan bahkan menutup mata dari zha.
Kemudian gadis itu segera bangkit dan beranjak dari ranjangnya menuju kamar mandi. Ia membersihkan wajah, mencucinya hingga bersih hingga sedikit terlihat cerah. Tak lupa gosok gigi dan menyisir rambutnya sendiri. Setelah itu memakai parfum dan segera kembali duduk bersila meminta om edo membuka mata menatapnya.
Om edo tersenyum melihat zha, lalu mulai meraih makanan dalam sendok dan mulai untuk menyuapinya. Seperti hal kecil itu bisa melebur segala rasa perih yang zha rasakan saat ini. Ia tersenyum ketika menikmati suapan demi suapan makanan dari omnya saat itu, apalagi om edo juga memberi senyum yang indah yang seakan bisa mengalihkan zha dari apapun yang mengganggu hatinya.