
“Om, kangen,” rengek zha mengalungkan lengan ke leher kekasihnya itu dan menggelendot manja digendongannya. Mau tak mau om edo menopang belakang zha agar tak melorot dari gendongannya, dan ia segera membawa zha masuk kedalam rumah.
“Kamu kesini dengan siapa, apa mamamu tahu?” tanya om edo, berjalan terus membawa zha menuju ke sofa besar yang ia duduki santai sejak tadi. Ia duduk dengan zha yang ada diatas pangkuannya.
“Zha sendiri, kabur barusah. Masa mama suruh zha kencan sama cowok yang ngga zha kenal,” curhatnya membelai rambut tebal sang kekasih, dan sesekali memastikan jika belum ada uban tumbuh disana.
Om edo hanya tersenyum mendengar cerita kesayangannya itu. Ia tak mengira jika mama ana begitu gencar berusaha untuk menjodohkan zha dengan pria lain dan menjauhkan mereka berdua. Tapi ia juga menangkap jika van tak menyetujui semua rencana itu. “Van kemana hingga kamu lolos pergi dengan dia, Nduk?” tanya om edo.
Zha langsung turun dari pangkuan om edo dan merapikan posisi duduknya, menceritakan keberadaan van yang saat itu memang tengah sibuk diluar kota bersama ayahnya. Maka dari itu mama ana bisa seenaknya dan smeena-mena terhadap zha yang tak memiliki pembela. Padahal biasanya, sebelum om edo memperingatkan pria yang dekat dengan zha, van lebih dulu menarik zha pulang dari pertemuanya.
“Bagaimana jika mamamu mengamuk dan datang kemari untuk menjemputmu pulang? Hmm?” colek om edo dihidung bangir zha.
“Jemput ya pulang lagi, nanti kabur lagi. Segaja bikin dia marah dan balikin zha kesini, tapi rupanya dia bertahan. Emang ngga ada yang sekuat papa bear dalam menjinakkannya zha,” ucapnya cengengesan.
Mereka memutuskan menghabiskan waktu bersama dirumah itu berdua, bahkan zha mematikan hp sementara agar tak ada yang bisa menghubungi dan mengganggu moment indah mereka saat ini.
Zha bahkan membuatkan kopi untuk menemani om edo bekerja dan coklat panas untuk dirinya sendiri. Ia duduk disamping om edo, bersandar di sisi ujung sofa yang satunya sembari memainkan hp om edo yang ia pegang saat itu. Zha mempertanyakan tentang wika yang sepertinya betah disana dengan suaminya.
“Ya, tumpah!” pekik zha ketika coklat hangatnya tumpah dimulut.
“MInum jangan sambil tidur, Zha. Berantakan jadinya,” omel om edo yang langsung meraih tisu untuk menyeka lelehan coklat yang merambat ke lehar zha saat itu.
“Zha duduk kok, ngga tidur. Cuma ape aja. Ini, Om, tolong.” Zha meraih tangan om edo agar mengusap yang ada dibibirnya saat itu. Tapi bukannya tisu yang mendarat, melainkan bibir om edo yang meluumat sisa coklat itu di bibir zha dengan tangan masih mengusap yang ada dilehernya.
“Manis,” ucap om edo membersihkan sisa yang ada dibibirnya saat itu.
“Nakal!” tatap nyalang zha padanya, dan om edo hanya membalasnya dengan lengkungan senyum di bibirnya.
“Sini, zha aja yang lap sendiri.” Zha meraih tisu sendiri dan membersihkan yang ada di bagian tubuh lainnya. Leher jenjang itu terpampang nyata didepan mata om edo yang bahkan sulit berkedip meperhatikannya. Ia hanya bisa menelan saliva, berusaha menghindar meski itu rasanya amat sulit dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Greep!! Om edo menangkap tangan tangan mungil itu dengan genggaman tangan besarnya. Zha yang terkejut langsung meluruskan pandangan dan melempar mimik wajah penuh tanya.
Om edo menghela napasnya cukup panjang. Telapak tangan zha ia kecup cukup lama, turun terus hingga ke leher dna berujung kembali pada bibir mungil zha yang saat itu tepat didepan mata dan seakan melambai padanya.
Cup! Satu kecupan mendarat disana, bahkan beberapa kali om edo menggigit bibir zha dengan bibirnya. Saat itu zha hanya bisa memejamkan mata dan membalas sebisanya. Bukan karena tak bisa, tapi untuk kali ini seperti haw aitu berbeda dari biasanya, terasa lebih dalam dan tajam.
Zha mengalungkan tangan dileher om edo saat itu untuk memperdalam aktivitas mereka yang terasa semakin luar biasa, degup jantung om edo bahkan terasa oleh zha yang menempelkan dada mereka berdua sangking eratnya.
Kecupan om edo tak lagi dibibir saat ini, mulai merambat menuju pipi, bergeser ke telinga dan bahkan turun ke leher jenjang zha yang penuh goda. Entah karena perawatan itu atau bagaimana, membuat zha semakin penuh pesona dimata papa bearnya.
“Om, geli!” Tubuh zha bergidik, jemari kakinya serasa terkunci dengan segala umpan yang ia rasakan disekujur tubuhnya saat ini. Ia bahkan mendongakkan kepala, dan tubuhnya perlahan rebah diatas sofa dan berada dibawah kungkungan om edonya.
Kecupan itu semakin lama semakin menjalar disetiap inci tubuh mulus zha. Om edo seakan tengah menikmati sisa coklat manisnya disana, membuat zha semakin gelisah dan tak karuan rasanya. Ia hanya bisa merintiih ketika sesekali om edo seolah menghisapnya kuat di ceruk lehernya.
Tangan om edo semakin lama semakin turun, ia menaikkan dan melipat sisi satu kaki zha dan membelainya hingga dress yang ia pakai saat itu tersingkap memperlihatkan paha mulusnya untuk ia raba. Namun, saat rasanya semakin intens dan panas ditubuh zha, om edo justru menghentikan semua aktivitasnya disana. Ia langsung memejamkan mata dan seakan tak mampu untuk menatap mata zha .
“Om, kenapa?” tanya zha yang mulai panik melihatnya. Bukan karena ia kecewa akibat tertundanya semua kenikmatan yang mulai ia rasa disekujur tubuhnya.
“Maafkan aku, Zha. Aku tak seharusnya melakukan ini semua padamu. Ini, ini belum waktunya dan aku tak boleh melakukan itu semua. Maaf.” Om edo membuang muka, dan saat itu zha langsung meraih rahang itu dengan kedua tangannya.
“Ini hari ulang tahun zha, om lupa?”
“Aku ingat. Tapi, maaf. Aku harus menahanya hingga saat indah itu tiba,” sesal om edo yang menjatuhkan tubuhnya disamping zha. Untung memang sofa itu besar hingga muat untuk mereka berdua.
Ia rebah, dan saat itu menutup mata dengan pergelangan tangannya yang besar. Sementara saat itu zha merubah posisi miring, mengecup pipi lalu memeluknya dengan erat hingga mereka memejamkan mata bersama hingga pagi tiba.
**
“Aaaah…. Welcome Home! Akhirnya pulang juga kerumah tercinta, meskipun bukan rumah sendiri.”
“Ngga usah nyindir gitu, Wika. Aku bisa saja membelikan rumah sekarang juga, tapi tugasmu masih begitu banyak disini untuk mereka berdua,” ucap om yan yang saat itu menyeret masuk koper istrinya.
Mereka membuka pintu rumah dengan kunci cadangan yang mereka bawa, kemudian masuk kedalam untuk segera masuk ke kamar mereka berdua dan merapikan rumah yang sudah cukup lama ia tinggal.
“Whhuuoo Astaga!!” Wika terlonjak kaget denga napa yang ia lihat dengan mata kepalanya saat itu. Ia bahkan membelik badan menghadap suaminya, dan meminta om yan memeperhatikan apa yang ia lihat barusan.
“Zhaviraaa!!!” pekik wika membangunkan mereka berdua, sementara zha yang mendengar panggilan keras mengguncang dunia itu dengan begitu santainya sembari tersenyum bodoh menyapa wika yang ada disana.
“Hay kak wika, Hay om Yan.”