
“Morning, Zha,” sapa om edo yang kembali video call dengannya. Ia tampak telah rapi dan mengancingkan jasnya saat itu, dan zha hanya tersenyum menatap pemandangan indah didepan matanya yang masih rapat.
Padahal zha menunggu panggilannya semalaman, tapi om edo sepertinya sibuk hingga tak menghubunginya. Untung saja zha sudah paham dan tak terlalu menuntut untuk mendapat perhatian dari sang kekasih hati.
“Om tadi malem sibuk?” tanya zha dengan suaranya yang masih serak.
“Ya, maaf karena tak menghubungimu,” ucap om edo yang masih sibuk memperbaiki penampilannya. Zha yang melihat rasanya ingin sekali membantu, tapi hanya bisa melihat dari kejauhan saat ini.
Zha kemudian beranjak dari ranjang, ia tetap dengan panggilan itu berjalan menuju kamar mandi mencuci wajah dan menggosok giginya. Ia juga melapor, jika akan mengambil ijazah ke sekolah hari ini, mau tak mau ia berangkat bersama van kesana.
“Mama minta zha masuk management bisnis, zha ngga mau.”
“Padahal, kau akan ikut jadi pewaris jika menurut.” Om edo justru meledek zha dengan laporan yang ia terima.
“Ih, ogah… Orang zha maunya jadi perawat kok. Calon suami zha udah kaya raya, ngapain zha berebut warisan sama suami mama?” tukasnya, dan om edo hanya tertawa. Saat itu juga zha menceritakan kebaikan papa sam, ramahnya, dan justru ia yang berusaha untuk memahami semua keinginan zha.
Om edo mengangguk, ia amat tahu bagaimana rekan kerjanya itu karena memang tak hanya dalam beberapa tahun mereka bersama. Bahkan sejak sebelum zha lahir ke dunia, “Lalu, zha harus gimana?” tanya zha di sela obrolan mereka.
“Lakukan sesuai peran disana, seperti kesepakatan kita. Dan ingat, banyak pria muda yang akan menggodamu disana nanti. Mama mu tak akan membirkan kau menikah denganku,”
“Alah emboh, mama makin lama makin ngga jelas buat zha.” Memang dasar zha sudah hilang rasa, ditambah lagi dengan kelakuan sang mama yang semakin menggila. Padahal ia sempat memungkinkan jika mama akan sedikit membaik setelah kedatangannya, namun semua sangat diluar ekspetasi.
“Zha, kamu dimana?” panggil van.
“Dia, sering masuk ke kamarmu?” tanya om edo. Ia langsung menyipitkan mata ketika zha mengangguk dengannya. Cemburu? Wajar karena van adalah pria dewasa yang sejak dulu menyukai zha.
“Yaudah, zha pergi dulu ya, Om. Muaaahh!” Zha memberi kecupan pada yang tercinta.
“Hey, tapi kau belum mandi!”
“Alah, wegah. Zha lagi ngga mood mandi, yang penting udah gosok gigi. Bye, Sayang.” Zha langsung mematikan panggilan keduanya. Ia keluar dan menemui van yang sudah duduk menunggunya.
“Hey, kau sudah mandi?” tanya van. Pasalnya zha sudah berndandan dan tampak rapi dengan make up yang memoles wajahnya. Tapi kekaguman itu sirna ketika zha jujur akan kondisinya yang tak mandi untuk pergi dengannya.
“Tapi, aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Masa tak mandi? Ayolah, perlu ku mandikan?”
“Ih, apaan? Om edo aja ngga pernah mandiin zha kok. Udah, ngga ada yang tahu kalau kakak ngga bagi mereka tahu.” Zha sembari menyemprot banyak parfum ke tubuhnya.
Van hanya menggelengkan kepala, baru ini ia mengetahui fakta mencengangkan soal zha ketika mereka bersama.
Keduanya turun untuk sarapan bersama, dan seperti biasa menyaksikan keramahan mama pada suaminya. Zha hanya diam, berusaha acuh dengan semua pemandangan yang ada bahkan ia menyantap roti tawar didepan mata tanpa di persilahkan terlebih dulu oleh sang mama.
“Zha biasanya bangun jam segini, Pa, kalau di rumah om edo.”
“Mereka sepertinya terlalu memanjakan kamu, Zha.”
“Ya, mereka memperlakukan zha seperti seorang ratu disana,” jawab zha dengan begitu santai, tapi mendapat tatapan tajam dari sang mama. Sepertinya tak suka dengan pengakuan zha didepan mata mereka semua seakan membandingkan dan meminta perlakuan yang sama.
Sarapan tak berlangsung lama karena mereka akan segera pergi ke tempat kerja masing-masing. Mama ana juga rupanya tak menganggur, ia memiliki sebuah salon yang ada ditengah kota. Cukup banyak pelanggannya, mungkin mereka terpancing penampilan mama ana yang begitu sempurna ingin yakin dengan pelayanan mereka.
Zha dan van naik ke mobil lalu berangkat menuju sekolah. Selama perjalanan itu van yang terus aktif bertanya pada zha bagaimana mereka sejak berpisah lama. Zha kadang menjawab seadanya, bahkan kadang hanya dengan anggukan atau gelengan kepalanya saja.
“Kau kenapa, tak nyaman denganku? Atau tak nyaman untuk_”
“Kak van masih memikirkan kenyamanan zha saat ini?”
“Zha?”
“Sudahlah, jangan terlalu difikirkan tentang zha. Mama saja tak pernah memikirkan tentang itu,” ucap zha dengan nada datarnya.
Van menyadari perubahan zha saat ini. Zha yang biasanya ceria dan selalu antusias, saat ini seperti lebih dingin dan begitu pasrah dengan keadaan yang ada. Ia ingin zha yang dulu.
Hingga keduanya tiba di sekolah, bahkan zha turun duluan tanpa menunggu zha van membukakan pintu untuknya. Ia juga tak menunggu van berjalan bersama menuju ruangan yang akan mereka tuju hingga van harus berjalan dibelakangnya. Zha begitu tegap, berjalan dengan tegap dan ia bahkan tak lagi perhatian denga napa yang ada disekelilingnya saat ini.
Kehangatan zha hilang bagi van, tapi pria itu masih belum menyadari atas apa yang terjadi pada gadis yang menjadi adiknya itu saat ini. Walau ia juga tak memungkiri, untuk menjadi kakak bagi zha itu begitu sulit baginya dengan segala rasa yang sudah terlanjur ada.
“Zha, tunggu.” Van langsung meraih tangan zha dan menggenggamnya. Zha hanya melirik, tapi ia tetap ikut van masuk bersama ke dalam ruangan yang sudah ramai itu.
Mereka semua adalah teman se alumni zha yang baru saja beberapa minggu berpisah. Mereka terkejut melihat zha masuk dengan gandengan tangan van yang begitu mesra padanya, terutama lidya yang masih menyimpan rasa untuk van sejak lama.
“Kak Van, sama Zha?” tanya lidya yang perih melihat mereka berdua yang semakin dekat saja.
“Iya, kami tinggal serumah.” Van menjawab dengan jujur hingga semua yang ada disana melirik mereka berdua. Nyaris datang lagi gossip pada zha setelah ini, jika zha tak segera memberi klarifikasi atas semuanya.
“Hay, Lidya… Kamu belum tahu, ya? Aku dan kak van itu kakak adek sekarang,” ucap zha sembari mengangkat tanganya dan van yang masih bergandengan, bahkan menjelaskan dari mana asal mereka menjadi saudara.
Lidya tampak sedikit lega mendengarnya, seakan itu semua memberi harapan untuk dirinya kembali dekat dengan van. Sosok lidya memang begitu sulit lupa jika telah menambatkan hati pada seorang pria, meski banyak yang bilang itu hanya cinta monyet yang belum pantas untuk diperjuangkan oleh gadis seusianya.
Sementara lidya melega, justru van yang saat itu merasakan perih dihatinya. Ia menatap tajam pada zha karena dengan segera memberi penjelasan pada hubungan keduanya.
“Kenapa berbeda? Saat itu bahkan kau tak memberi penjelasan sama sekali mengenai hubunganmu dengannya. Ada apa, Zha?” tanya van dalam hatinya.