
Kandungan Zha kini semakin membesar dan sudah membuat tingkahnya tak karuan karena serba salah melakukan apa saja. Saat itu juga, Papi sudah berusaha menjadi suami yang siaga atas ajaran Om Yan yang sudah berpengalaman, tapi sulit karena yang mereka hadapi adalah dua wanita dengan generasi yang berbeda.
Lidya juga sering main saat ini untuk menemani Zha ketika di rumah sendiri, bahkan menginap ketika om edo tengah ada di luar kota untuk pekerjaannya. Lidya yang sudah berpengalaman, memberi semua info pada Zha bagaimana baiknya dan apa saja yang tak boleh dilakukan selama hamil besar.
“Mau normal apa Caesar?” tanya Lidya.
“Sama aja, kan? Sama-sama sakit juga. Tapi kata Kak wika enak normal, beberapa hari sembuh. Aku serem bayangin ketika kamu Sc kemarin,” jawab Zha yang tengah mempersiapkan perlengkapan bayinya. Sudah dicuci dan ia susun rapi dilemari, menggambarkan kesiapannya menyambut sang bayi.
“Iya, ini aja masih kerasa nyerinya.” Liyda sesekali mengelus pingang bekas biusnya beberapa bulan lalu. Ia juga sesekali menatap Vanya, si bayi yang Ia lahirkan buah cintanya dengan Zavan yang kini mulai begitu aktif merangkak kemana-mana dan perlu pengawasan ekstra. Apalagi Opa Sam tak bisa begitu aktif mengurusnya yang luar biasa.
Delapan bulan lebih kandungan Zha saat ini. Hanya tinggal menunggu waktu maju atau mundurnya persalinan nanti dan ia harus siap semuanya, bahkan mungkin jika resiko tak sesuai bayangannya.
Hari sudah semakin sore, Van menjemput istri dan anaknya untuk pulang bersama ke rumah mereka. Melihat papnya, Vanya tampak girang dan langsung mengejarnya merangkak dengan begitu kencang. Van juga menggora dengan merentangkan kedua tangan menyambut anaknya disana.
“Yey! Hebat cantiknya Papa.” Van bersorak untuk putrinya dan langsung dibalas tawa.
“Kak Van ngga bareng papi?” tanya Zha menghampiri.
“Engga, Zha. Seharian Kakak ngga ketemu dia,” jawab Van dengan jujur, apalagi memang tak ada pertemuan saat ini.
“Kenapa? Mau ditemenin sampai papi pulang?” tawar Van pada adiknya. Ia paham benar bagaimana Zha saat ini karena ia terlebih dulu mengalaminya bersama Lidya. Untung saja di rumah ada Ayah Sam yang cukup bisa perhatian pada menantu dan menggantikan posisi anaknya sementara.
“Ngga usah, ngga papa pulang aja. Kasihan Vanya kecapean,” balas Zha.
“Yaudah, kami pulang ya? Jaga diri di rumah, perbanyak istirahat.” Lidya meraih Zha mengecup pipi kanan kirinya lalu pamit pulang.
Selepas kepergian mereka berdua, Zha menutup pintu lalu naik masuk kedalam kamarnya yang ada diatas. Rasanya seperti itu saja sudah terengah-engah, dan ia ingin mencapai ranjang lalu membaringkan tubuh dengan segera. Tapi juga tak dapat berbaring lama-lama karena setelah itu akan miring lagi.
Hingga tak berapa lama kemudian terdengar mobil papi pulang. Terserah, Zha Sudah terlanjur nyaman diatas ranjang dan enggan beranjak dari sana hingga papi sendiri yang menghampirinya saat itu.
“Hey, Sayang, Vanya sudah pulang?” sapa papi ramah pada sang istri.
“Papi, tolong…” rengek manja zha mengulurkan tangan agar papi membantunya duduk kembali.
“Belum lama pulangnya, Zha baru aja rebahan.” Zha sedikit melebarkan kaki agar sedikit lega, apalagi saat itu papi berjongkok menciumi perut untuk menyapa putranya.
“Yasudah, kalau lelah istirahat aja lagi. Aku mandi dulu,”
“Boseeen, pengen jalan.” Zha merengek lagi pada akhirnya.
“Jalan kemana, sudah lemah begini?”
“Jalan aja, cari jajan apa gimana?” ujar Zha.
“LIhat pipi, Mam.”
“Papi!! Iiiih… Jahatnya,” rengek Zha sembari tertawa, dan saat itu juga Papi membalas tawa Zha dengan begitu gemasnya.
“Yasudah, bersiplah. Kita makan diluar sore ini, mau?”
“Mau,” angguk Zha dengan semangatnya.
Papi masuk ke kamar mandi, dan saat itu Zha mempersiapkan pakaian ganti untuk papi dan untuknya sendiri. Ia tampak begitu semangat meski kesulitan memakai gaunnya yang cukup panjang apalagi harus menarik resleting bagian belakang. Untung saja papi segera datang dan membantunya saat itu.
“Terimakasih,” ucap Zha mencolek dagu suaminya. Ia gemas, bahkan sepertinya sang calon putra benar-benar memfotocopy wajah papi diwajahnya. Semoga saja tak ikut dengan sifatnya.
Semua sudah siap. Papi meraih kunci mobil dan Zha menggandengnya menuruni tangga. Rambut Zha sengaja dicepol agar tak ribet untuk melakukan segala aktifitasnya terutama ketika makan nanti. Sepanjang jalan juga Zha tak henti menggelendot pada sang suami.
“Gimana Mam, tadi ngajak keluar. Giliran diluar malah lemes begini?”
“In ikan bawaan hamil, Papi. Nanti kalau Restaurant, juga semangat lagi. Janji deh,” ucap Zha padanya, hanya dibalas gelengan kepala.
Hingga keduanya tiba di Restaurant dan memesan makanan yang membuat Momy selera. Ketika menunggu, Mami Zha justru berbaring disofa berbantal paha suaminya.
“What! Kenapa begini? Hanya ingin pindah tempat tidur kah?” tanya papi, tapi Zha tak menghiraukannya sama sekali. Ia hanya semangat ketika makanannya datang menghampiri.