
Hari sudah sore saat ini, dan om edo bersiap untuk pulang setelah semua pekerjaannya selesai.
“Rani, kabari apapun info yang terjadi dan segera kirimkan melalui email.”
“Siap, Pak.” Rani mengangguk dengan semua perintah yang diberikan bosnya, wajar saja jika ia selama ini di cap sebagai karyawan teladan dan sekretaris terbaik disana dan bahkan ikut kemana saja bosnya pergi. Tak hanya rani, tapi juga ada beberapa sekretaris lainnya.
Om edo melangkahkan kaki menuju mobil dan segera pulang kerumahnya. Terasa tak bernyawa, karena hari ini ia pulang tanpa ada zha menyambut setelah sekian lama. Hanya helaan napas panjang yang akan terus menemaninya hingga beberapa minggu kemudian.
“Woaaa!! Wika, K-kau kenapa?!” kaget om edo yang sampai terlonjak melihat keadaan wika. Ia tampak amat frustasi dengan wajah yang berantakan, tidur diatas sofa yang ia panjangkan dengan kepalanya yang menggantuk kebawah dan kaki diatas. Persis seperti zha yang tengah ngambek padanya.
“Kembalikan adikku,” ucap wika seperti zombie tanpa ekspresi. Ia juga memeluk mini bear zha dengan begitu erat di dadanya.
Om edo mengelus dada dan membuang napas kasar dari mulutnya. Ia kemudian masuk menghampiri wika duduk santai disana. “Kau sakit?” tanaya om edo menggulung lengan kemejanya.
“Tubuhku tidak, tapi hatiku iya. Kenapa kau tega memisahkan kami?”
“Hey, kita tak terpisah. Kau masih bisa bertemu dengannya,”
Wika dengan perlahan membenarkan posisinya kemudian duduk bersandar disofa. Meski om edo mengucapkan semua itu mudah, tapi tidak bagi wika karena zha adalah Sebagian dari hidupnya. Sehari tanpa canda tawa zha, rumah itu menjadi begitu hening tanpa nyawa. Untung saja bekunya om edo sudah sedikit mencair sejak adanya zha. Jika tidak, maka wika akan semakin tersiksa.
“Sudah ku bilang, pergilah menyusul yan jika kau kesepian. Habiskan bulan madu kalian yang sempat tertunda gara-gara kami berdua,”
“Benarkan? Nanti disana malah dia kau buat sibuk,” tatap curiga wika padanya, tapi dibalas senyum miring oleh om edo yang hanya berdiri meninggalkan wika untuk kembali ke kamarnya. “Persiapkan makan malam, aku lapar.”
“Lapar menahan rindu,” ledek wika yang ikut beranjak dari tempat duduknya.
*
Malam ini adalah makan malam pertama zha dengan keluarga Sambodo. Dan malam itu juga untuk pertama kalinya zha bertemu dengan ayah tirinya itu karena Ayah sam seharian di kantor dan zha seharian di kamarnya. Apalagi usai perdebatannya dengan mama yang mamiiki penyelesaian karena mama ana selalu mengalihkan pembicaraan dari zha.
“Zha?” panggil van yang masuk kedalam kamar adiknya. Saat itu zha tengah menyisir rambut dan baru saja membersihkan diri. Andai saja tak ingat papa bear yang mungkin akan melakukan panggilan video, pasti zha malas melakukan apapun saat itu.
“Kak Van, kenapa?” tanya zha. Ia menaruh sisir itu kembali di meja dan membiarkan rambut panjangnya tergerai dengan indah. Entah apa, itu saja seakan membuat van diam dan begitu terpesona pada gadis yang menjadi adiknya saat ini.
“Makan malam, yuk, ayah sudah menunggu dibawah.” Ajak van, dan zha mengangguk padanya.
Zha menyimpan hpnya di nakas kemudian keluar bersama zha menghampiri ayah dan mama yang telah duduk manis di meja makan. Ia melihat mama ana begitu baik dan terampil melayani suaminya dan selalu tersenyum tampak penuh kasih sayang. Apa mungkin itu kata orang, jika uang bisa membeli segalanya? Apa mama ana tulus pada ayah sam?
“Hay, Zhavira. Kau nyaman disini?”
“Enh… Iya, Pak, cukup nyaman.” Zha sedikit canggung menjawab sapaan Ayah van itu.
“Zha, masa pak? Ayah, Sayang. Kita kan udah jadi keluarga, van kakak dan ayah sam jadi ayah kamu,” bujuk mama ana padanya, dan kali ini van mengangguk dan mendukung sang mama. Bisa dibayangkan betapa mama ana bahagia ketika sam menjadi pro padanya.
“Iya, Zha. Sebaiknya kamu ngga usah canggung lagi dengan saya, karena saya adalah ayah kamu sekarang. Meski saya tetap tak akan bisa menjadi wali kamu,” bujuk ayah sam yang terdengar ramah pada zha. Semoga benar-benar ramah dan sayang pada zha.
Zha mengangguk, ia berusaha untuk terus membiasakan diri meski sulit. Ia terus meyakinkan hatinya dengan pesan papa bear agar tak membuat diri zha sendiri nyaman disana. Papa bear sendiri meyakinkan jika rekan kerjanya itu adalah orang baik.
“Ehm, Pak? Bisa ngga, kalau panggilnya jangan ayah?” tanya zha, dan ayah sam mengerenyitkan dahi mendengarnya.
“Mau zha apa? Terserah zha, asal itu membuat zha nyaman sekarang.” Ayah tahu, sulit mengucap sebutan itu untuk pria asing. Zavan contohnya, yang hingga saat ini tak bisa memanggil mama ana dengan panggilan ibu atau bahkan bunda.
“Papa, Papa Sam, gimana?” tanya zha meragu. Tapi, saat itu pria yang disebut papa itu justru setuju dan mengangguk pada putri sambungnya. Mama ana pun tersenyum lega dan bahagia melihat mereka berdua.
“Rupanya tak sulit untuk menaklukan gadis ini. Ku kira sesulit itu,” gumam mama ana dalam hati, lalu mempersilahkan mereka semua makan bersama.
Makan malam itu berlangsung dengan begitu tenang, dan zha mulai nyaman didekat mereka semua kecuali sang mama. Kenapa begitu, zha sendiri tak tahu. Seperti akan banyak kejadian dan perdebatan diantara mereka berdua nanti, terutama ketika Papa sam dan zavan tak ada di rumahnya.
Papa sam tampak begitu perhatian pada zha. Ia bahkan langsung menganggap zha seperti anak kandungnya sendiri saat itu, yang bahhkan papa sam meminta van mengajak zha ke beberapa pertemuan yang akan mereka lakukan. Setidaknya memperkenalkan zha akan usaha yang mereka miliki.
“Wuah, kalau begini zha mau. Kalau pertemuan papa bear ada ngga ya? Kan bisa anu. Hihihi,” tawa zha dalam hati, berusaha mencuri kesempatan dari kedekatan mereka disana.
“Iya, Yah, nanti akan zha ajak kalau ada pertemuan. Tapi zha sendiri kurang berminat untuk bisnis, dan ia maunya jadi perawat. Benar kan, Zha?” tanya van pada adiknya.
“Iya, tapi mau istirahat dulu sekarang. Mau liburan,” jawab zha pada keduanya.
Papa sam hanya mengangguk, ia mengerti zha saat ini dan tak akan memaksa maunya zha. Meski ia sebenarnya ingin agar zha dan van menjalankan perusahaan berdua dan mengembangkannya bersama. Mungkin itu alasan mama ana memaksa zha, agar perusahaan Sambodo juga jatuh ke tangan zha sebagai ahli waris yang diakui oleh suaminya
“Ya, kamu anakku. Aku harus bisa mendapatkan sesuatu darimu, aku tak ingin berakhir tanpa mendapatkan apapun dari sini meski aku juga sangat mencintai suamiku yang sekarang.” Mama ana tetap pada obsesinya.
Acara makan malam itu selesai, dan zha pamit kembali ke kemarnya. Ia bisa saja membantu mama ana dan bibik disana untuk membereskan semuanya, namun ia sengaja untuk tak memperdulikan mereka berdua. Ingin lihat, bagaimana ekspresi sang mama padanya.
“Mau marah? Ayo debat lagi,” gumam zha dalam hati, seolah menantang agar terjadi keributan antara keduanya,.