
Mama ana kecewa dengan balasan zha terhadap apa yang ia ucapkan barusan. Padahal ia sudah berusaha begitu lembut pada anak gadisnya itu hingga harus mengeluarkan airmata agar lebih meyakinkan. Tapi, pendirian zha sama sekali tak goyah dan tetap berpegang teguh pada titah pria yang ia akui sebagai calon suaminya itu.
“Kamu sama sekali tak menginginkan mama dalam hidup kamu, Zha? Dalam tubuh kamu ada darah mama yang mengalir disana,”
“Bisakah zha kembalikan?” tanya zha dengan wajah yang begitu tenang dihadapannya. Seperti memang telah mati rasa terhadap apapun ucapan sang mama.
“Zha? Sudah belasan tahun kita tak bertemu, seperti itukah ajaran ayah sama kamu? Ayah mau kamu membenci mama?” Zha mempertajam matanya mendengar itu semua. Ia tak terima ketika sang ayah yang tertuduh dalam hal ini, dan ia benar-benar ada dipuncak kemarahan hingga ia hanya bisa diam seribu Bahasa.
Zha ingin mengamuk, bahkan mungkin bisa memukul wanita yang ada didepan matanya jika ia tak mampu mengontrol emosinya saat ini. Ia memilih menarik napas, dan mengeluarkannya scara perlahan. “Zha harus belajar, Ma. Zha mau ikut ujian masuk keperawatan seperti yang diinginkan ayah sama zha. Permisi,” ucap zha menunduk kemudian meninggalkannya.
Mama ana tak menyangka dengan jawaban zha padanya. Ia hanya membuang napas kasar dari mulutnya kemudian meraih tas dan memakai kacamatanya untuk melangkah keluar dari rumah itu. Ia bahkan tak permisi pada wika meski telah membukakan pintu untuknya.
Zha yang ada di kamar itu kemudian berdiri diatas balkon dan ia menatap kepergian sang mama. Andai saja ia tak membahas dan menyalahkan ayah atas sikapnya, mungkin zha saat itu juga mempertimbangkan permintaan sang mama untuk ikut meski hanya sebentar saja.
“Menyalahkan orang lain terhadap kesalahan diri sendiri. Jangan seperti itu, Ma, zha tak suka.” Zha lagi-lagi mengepalkan tangan menahan segala emosi didalam hatiya.
Mama ana melaju dengan begitu cepat. Ia menuju sebuah tempat penyiaran di salah satu stasiun televisi yang terkenal dikotanya, dan mereka memiliki acara sendiri dengan rating yang cukup baik. Mama ana kebetulan kenal mereka, karena ia sempat ingin terjun di dunia yang sama.
“Ana, ada apa? Tumbe cari aku?” tanya salah seorang rekan yang datang untuk menemuinya.
“Lis, aku butuh bantuan kamu. Aku butuh acara kamu untuk bawa anak aku balik ke pelukanku,”
“Kamu punya anak?” tanya sang teman padanya, cukup kaget karena ia kira Tuan sam adalah suami pertama mama ana. Maka saat itu ia amat kasihan ketika mama ana berkali-kali kehilangan anak didalam kandungannya.
Mama ana akhirnya menceritakan semuanya, namun dibumbui dengan sebuah berita menyimpang untuk meraih simpati mereka semua hingga mau membantunya saat itu juga. Dengan deraian air mata dan penyesalan palsunya, ia terus menyalahkan mendiang ayah zha dengan semua berita yang ia buat untuk media.
“Ini membawa nama Tuan Edo Lazuardo, Ana. Jangan main-main,” tegur sang sahabat padanya.
“Tapi aku adalah korban, Lis. Dia bahkan akan menikahi paksa anakku yang masih dibawah umur, aku ngga terima karena dia bahkan tak meminta izinku sebagai ibu kandungnya.” Lisdiana hanya menggaruk kepalanya bingung. Ia tak tahu harus berbuat apa karena memikirkan semua resiko yang ada.
“Kamu ada bukti? Akte atau apapun, dan setidaknya kamu harus tes DNA karena_” Lis kemudian menatap wajah mama ana yang memang begitu berbeda sejak keduanya bertemu hampir Dua belas tahun lalu.
“Bukan apa-apa, hanya saja lawan kita kuat. Belum lagi jika, beliau juga memiliki semua bukti wasiat dari mendiang mantan suami kamu. Mungkin kalian akan ke meja hijau setelahnya. Dan maaf, aku mundur jika semua itu terjadi,” balasnya dengan segala perhitungan yang ada.
Angin segar bagi mama ana karena mendapat dukungan atas aksinya. Ia akan mengusahakan itu semua, yang penting zha ikut dengannya hingga keluarga yang ia bina lengkap dan hidup bersama. Awalnya memang zha kan memberontak, tapi ia akan terus membuat zha untuk menurut dengan apa kemauannya.
Ia pulang dengan segala rasa bahagia yang ada. Langsung masuk ke kamar kosong yang ada, kemudian meminta sang ART membereskannya untuk zha yang ia Yakini sebentar lagi akan datang ke tengah mereka semua.
“Ada apa?” tanya van yang kemudian menghampirinya.
“Hey, Sayang, sudah pulang? Mama hanya mempersiapkan kamar untuk zha. Sebentar lagi dia akan datang dan tinggal bersama kita,” ucap mama ana begitu antusias.
“Wow… Benarkah?” takjub van denga napa yang ia dengar, bahkan hingga membuat jantungnya berdebar hanya karena zha akan segera tinggal bersamanya.
“Apa?” Van menelengkan kepala dengan permintaan sang mama padanya.
**
Om edo saat itu baru saja pulang dari pertemuan pertama. Ia masuk ke ruangan pribadinya dan duduk santai meregangkan ototnya yang leah. Dan saat itu ia teringat baby bearnya yang pasti sudah menunggu kabarnya disana. Segera ia raih hp diatas meja untuk menghubungi zha.
“Hay Baby bear, kau sedang apa?” tanya om edo padanya.
“Lagi baring, bosen. Kok nelpon? Katanya sibuk,” balas zha yang berbaring terbalik di ranjang besarnya.
“Tak ingin dihubungi? Baiklah, aku akan_”
“Eh, jangaan…. Baru denger suaranya, masa mau dimatiin.” Zha langsung membenarkan posisinya untuk duduk manis disana. Ia kemudian merubah mode panggilan dengan mode video call agar ia dapat melihhat papa bearnya yang tampan dan rupawan.
“Terlalu rindukah hingga ingin menatap wajahku?”
“IIIh, ge er. Tapi bener sih,” jawab zha dengan wajah imutnya. Rasa gemas om edo semakin membabi buta dibuatnyam, tapi harus kembali terus menahan gejolak rasa.
Zha ingin menceritakan tentang kedatangan sang mama, tapi ia tahan karena takut akan merusak konsentrasi om edo dalam bekerja. Dan ia memilih untuk menunda dan membicarakannya ketika om edo telah kembali kerumah mereka. Saat ini zha hanya mengobrol ringan sembari menemani om edo yang terus berkutat dengan segala pekerjaannya disana. Mode video call itu standby diantara mereka berdua.
Kreekk!! Pintu ruangan om edo dibuka dengan cukup kuat hingga mengagetkannya. Sang sekretaris masuk dengan tergesa-gesa membawa sebuah tab ditangannya, dan ia memasang wajah panik disana.
“Rani, ada apa?” tanya om edo, dan saat itu rani segera mendekat padanya. Ia juga tahu ada zha disana dan menundukkan kepala.
“Pak, maaf mengganggu. Tapi ini sangat penting karena akan mempenagruhi semuanya, bahkan mungkin saham akan turun gara-gara berita ini.” Om edo mengerenyitkan dahi, begitu juga dengan zha yang masih menyaksikan mereka berdua dari videonya. Ia menangkap wajah cemas dari om edo yang sesekali menatapnya.
“Om, ada apa?” tanya zha.
“Demi apapun, jangan keluar sama sekali dari rumah itu.” Om edo memberi perintah, dan tampaknya begitu serius saat ini pada zha. Gadis itu hanya mengangguk, ia akhirnya ikut cemas karena terbawa suasana yang ada dari mimic wajah om edo padanya.
“Aku matikan panggilan ini sekarang,”
“Iya,” jawab zha yang ikut gugup karenanya.
Zha tak bisa tenang. Ia gelisah dan harus mencari tahu apa yang terjadi saat ini, apalagi ia menangkap ketika rani memberi sebuah berita dari saluran tv yang ada. Ia segera meriah hpnya kembali dan ingin mencari berita yang sama dengan mereka. Namun, wika keburu datang kekamar dengan wajah cemasnya.
“Zha?” panggil wika yang langsung menghampirinya. Ia memberitahu berita itu dari tab yang ia pegang, dan zha membulatkan mata melihatnya.
“Astaga, Mama!!!!” geram zha. Siapa lagi yang melakukannya jika bukan mama ana, yang pasti akan menggunakan itu semua untuk mendapatkannya.