
"Jek, bagaimana keadaan disana?" tanya om edo melalui panggilan videonya.
"Semuanya terkendali, pihak Eksportir juga tak terlalu meghiraukan semua berita yang ada karena mereka tahu masalahnya." Om edo sedikit lega mendengar itu semua, dan mereka berjanji akan terus memberikan laporan terkait pengamatan mereka.
"Mengenai Sam Group, bagaimana?" imbuh om edo dengan pertanyaannya.
"Mereka tenang, dan sama sekali tak menyinggung atau membahas semua berita yang ada."
"Tetap awasi dan lakukan semua rencana yang ada," titah om edo dalam tenangnya.
Mereka mengakhiri panggilan itu dan tetap pada pekerjaan yang dipegang masing-masing hingga akhirnya gentian om yan menghubunginya untuk mempertanyakan semua.
"Bagaimana aku tak cemas, Do. Berita itu sudah menyebar dimana-mana, dan ancamannya pada zha_"
"Wika memberitahumu?"
"Zha sendiri," jawabnya. Sebegitu takut zha dengan ini semua, terlebih lagi pada om edo dan perusahaannya hingga ia meminta saran dan pendapat dari orang yang juga bisa ia percaya dalam hidupnya. Bukan berarti ia mengesampingkan ucapan om edo untuknya.
Om edo mengatakan hal yang sama denga napa yang ia katakan pada zha, apalagi om yan juga lebih tahu kondisi yang ada di luar sana.
Seperti apa yang diperbincangkan om edo dan om yan saat ini, ayah sam juga membicarakan semua itu pada istrinya ketika mereka sedang bersama. Ucapan yang sama, dan semua kemungkinan yang sama dengan segala nasehat yang ia berikan dengan begitu lembut pada istrinya.
"Dia tak akan tumbang hanya dengan berita seperti itu, Ana."
"Tapi, Yah... Aku harus berusaha dan terus meraih simpati public demi putriku yang dia tahan disana. Aku tak rela jika zha dinikahi oleh bujangan lapuk yang sempat gagal menikah seperti dia. Masih banyak anak dari sahabat ayah yang lebih kaya dan bisa kita jodohkan padanya," ucap sang mama dengan semua rayuan yang keluar manis dari mulutnya.
"Kau merasa berhak?"
"Ayaaah, dia putriku dan aku yang melahirkannya."
"Untuk membawa zha aku masih bisa mendukung, tapi tidak dengan memaksanya pada sebuah hubungan yang akan dilakukan dengan terpaksa." Sikap Ayah sam begitu tegas dengan istrinya, tapi mama ana tak perduli pada itu semua dan akan tetap melakukan semua keinginannya.
"Sudahlah, ini semua akan jadi urusan mama. Yang jelas, sebentar lagi keluarga kita akan lengkap dan van tak lagi dingin dengan mama. Dia yang begitu menginginkan adiknya selama ini,"
"Ya," angguk ayah sam yang kemudian melepas kaca mata dan membaringkan tubuhnya.
Di usianya yang seperti ini memang harus banyak istirahat dan tak perlu terlalu banyak bekerja. Untungnya semua orang yang ia percaya dapat menjalankan pekerjaannya dengan baik disana, dan andai saja van tak menunda pendidikannya pasti ia sudah pensiun saat ini dan hanya tinggal menikmati masa-masa tenangnya.
**
"Om hari ini mau kemana?" tanya zha yang tengah memasangkan dasi untuknya. Ia sebenarnya ingin agar om edo tetap dirumah bersamanya karena takut jika mama ana akan datang lagi hari ini.
Zha menggelengkan kepala, ia tak siap jika harus berpisah dengan cara seperti ini meski jaminannya aman disana. Ia tak ingin bersama sang mama, bahkan justru takut jika harus dekat dengannya.
Om edo meraih pinggang zha untuk duduk di meja riasnya, "Zha gadis kecil om edo yang kuat. Ingat, jika ada papa bear yang akan selalu melindunginya dari kejauhan," bisiknya lembut ditelinga zha dan dibalas anggukan olehnya.
Zha mengantar om edo keluar hingga menaiki mobilnya. Melepaskan kepergian pria itu hingga benar-benar hilang dari pandangan matanya. Ia kemudian masuk lagi dan duduk malas di sofa itu ketika harus membayangkan semua rencana mereka berdua.
Dan benar saja, saat itu bel kembali berbunyi dan zha langsung tahu siapa yang datang kerumah itu. Wika yang langsung berjalan membuka pintunya, bahkan mama ana saat itu membawa Dua orang polisi yang mengawalnya untuk mengambil zha dari sana.
"Apa-apaan ini?" kaget wika, tapi mama ana meneylonong masuk ke dalam dan menghampiri zha. Saat itu zha mengucapkan pertanyaan yang sama seperti wika.
"Kenapa tanya? Bukankah mama sudah memberitahu sebelumnya? Patuh Zha, agar om edo tak semakin sulit nantinya." Mama ana dengan seringainya mendekat dan membelai rambut zha dengan begitu lembut, namun zha justru merinding merasakannya.
"Zha sebenarnya sudah mau membuka hati untuk mama saat ini. Berfikiran positif dan menuruti semua mau mama untuk tinggal bersama. Tapi_"
"Oh, Zha tak suka begini? Zha mau ikut? Baiklah, kalau begitu mama akan minta agar mereka semua pergi dari sini dan tak mengganggu zha lagi." Mama ana yang tampak semringah langsung menoleh kanan kiri agar pengawalnya itu pergi, dan mereka segera menuruti perintahnya saat itu juga untuk keluar dari sana.
Wika yang justru bertanya-tanya dan mengerenyitkan dahi mendengar ucapan zha dan mamanya, "Zha, apa maksudnya?" tanya wika.
"Kamu ngga dengar? Saat ini zha mau ikut dengan saya, Mamanya. Jadi, kamu tolong bantu dia membereskan semua barang yang akan dia bawa. Mama tunggu disini ya, Sayang." Mama kembali membelai lembut pada zha yang member harapan padanya.
Saat itu wika segera meraih tangan zha dan membawanya ke atas menuju kamarnya. Ia serius mempertanyakan apa maksud zha kali ini untuk ikut dengan sang mama, dan menyayangkan karena om edo seperti tak mencegahnya sama sekali justru pergi dengan semua kesibukan yang ada.
"Kak wika, tenang, ini udah keputusan zha sama om edo. Zha janji ngga akan terjadi apapun disana nanti, dan ini semua demi kita bersama." Zha membujuk Wika agar tak khawatir berlebihan dengan dirinya.
"Bagaimana tidak? Dalam bayangannya saat ini, mereka bahkan akan membela mati-matian atas hak asuh zha meski harus turun ke meja pengadilan. Namun, bayangannya salah dan justru melepaskan zha begitu saja pada mamanya laknatnya. Ia tak habis fikir bagaimana jalan pemikiran om edo saat ini jika ia amat mencintai zha sebagai calon istrinya.
"Anggap saja berpisah agar kami semakin memupuk cinta,"
"Hhh, cinta apanya kalau begini, Zha? Rasanya ingin sekali memukul kepalanya dengan kuat agar_"
"No! Jangan gitu," ucap zha dengan memanyunkan bibir manisnya. Yang pasti setelah ini om edo akan libur mengecas tenaga disana.
"Kata om edo, kalian hanya harus fokus mempersiapkan pernikahan kami nanti,," bisik zha padanya. Tapi itu sama sekali tak membuat wika tenang dan tetap saja cemas padanya.
Mereka berdua turun, Mama ana kembali menoleh dan mengulurkan tangan untuk menyambut sang putri dalam pelukan hangatnya. Tapi zha sama sekali tak merasakan kehangatan itu, justru semua hambar dan tiada rasa sama sekali menyentuh hatinya.
Mau tak mau wika membiarkan mereka pergi saat ini, tapi ia mempersiapkan segala tenaga dan emosi yang membuncah kemudian meluapkannya pada sang tuan yang sudah tiba di ruang kerjanya.
"Kenapa kau biarkan Zhaviraku pergi, KENAPA!!" pekik wika sejadi-jadinya, seolah menghilangkan jarak antara bos dan ARTnya saat ini,.