
Waktu beberapa menit sudah berlalu. Atau bahka sudah saru jam lebih mereka melakukan itu semua. Entah sudah berapa kali zha mendapatkan kepuasan, dan kini hanya tinggal menunggu om edo dan keduanya akan mencapai puncak lagi bersama.
Om edo bebraring disebelah zha, membalik tubuh mungil itu agar membelakanginya. Dari sana ia bebas melakukan apapun pada tubuh zha sesuka hatinya, dengan tangan kanan sebagai bantal memainkan dada indah zha dan satu tangan lagi memainkan inti kecil zha sembari terus bergerak brurtal dengan penyatuan keduanya.
“Aaaaahh!!!” Zha memekik sejadi-jadinya, tak ia perdulikan lagi apakah bibik dibawah mendengar atau ia sudah pergi diam-diam karena tahu keduanya akan bergulat sore ini hingga malam.
Tubuh zha mulai menegang, zha menjepit tangan om edo yang semakin menggila di semua titik inti tubuhnya. Tapi om edo sama sekali tak berubah dalam setiap gerakannya, kedua tangan terus bermain ditambah mulutnya yang sesekali mengecupi bahkan menggigit kecil Pundak zha.
Getaran tangan om edo semakin kuat saat memainkan milik zha. Karena sentuhan sang suami semakin gila, zha juga ikut untuk mengimbanginya.
Hujaman demi hujaman semakin cepat. Kadang itu membuat zha berteriak sekuat tenaga. Ia mengeraang memegangi tangan sang suami yang terus saja menggetarkan miliknya.
“Aaah… Zhavira,” desaah panjang om edo pada akhirnya. Zha ingin menangis sangking nikmat dan bahagianya. Zha memeluk erat tangan om edo yanh juga memeluknya saat itu.
Suasana heninh. Tak ada lagi bicara atau berteriak dalam permainan itu selain napas besar jeduanya yang saling bersahutan dan sesak usai permainan keduanya.
Setelah dirasa cukup tenang, anaconda itu dikeluarkan dari sarangnya. Membuat zha melenguh kuat menyandarkan dada didada suaminya. Keringat mereka menandakan betapa panas permainan itu berlangsung barusan, bahkan om edo sesekali melirik jam dinding besar yang ada dikamarnya saat itu juga.
“Jika bersamamu, aku jadi lupa waktu.”
“Tapi belum telat kan? Zha mandi dulu, sebentar.” Zha berusaha berdiri meski sulit, lalu ia berjalan dengan begitu perlahan menuju kamar mandi dan merendam tubuhnya di dalam bathup berisi air hangat yang ia buat dengan cepat. Rasanya begitu nikmat, apalagi dengan segala aktifitas yang baru saja mereka berdua lakukan di ranjang panasnya.
“Sayang, mandilah. Zha siapin bajunya,” panggil zha pada sang suami yang masih bersandar santai di headboard ranjangnya.
Justru ia tampak menelpon seseorang dan berbicar sebentar dengannya dengan tatapan yang cukup serius. Zha hanya belum sempat bertanya karena ia sibuk membenahi dirinya saat itu, berdandan cantik seperti biasa agar menjadi pusat perhatian sebagai Nyonya Lazuardo.
“Sayang, tolong…” panggil manja zha agar sang suami membantu mengikat bagian belakang gaunnya. Dengan punggung dan Pundak yang terbuka memperlihatkann keindahan tubuh zha dan semakin membuat om edo gemas mengecupinya.
“Aaaah… Udah,” lirih zha memejamkan matanya. Apalagi ketika tangan om edo melingkar diperutnya yang rata dan beberapa kali menggerakkan tubuh seolah mereka yang tengah berdansa.
Zha hanya tersenyum, jujur ia kembali menikmati semua moment itu saat ini. “Udah ih, ayo mandi.” Zha terus merayu dengan lembut hingga om edo benar-benar menurutinya kali ini.
Keduanya dengan cepat siap dengan pakaian resmi masing-masing. Mereka juga sudah siap berangkat karena lidya telah menghubungi zha dan sudah menunggunya cukup lama disana. seperti biasa, zha hanya begitu santai untuk menjawab semua ocehan sahabatya iti.
“Ngapain sih, Ay, ngomel mulu. Mereka juga lagi dijalan sekarang,”
“Iya, namanya juga tanya. Entah beberapa hari ini aku tuh protektif banget bawaannya sama dia. Aku juga heran sama diri aku sendiri,” gerutu lidya usai mematikan panggilannya.
Hingga akhirnya yang ditunggu datang. Lidya langsung berdiri ingin meraih zha tapi van mencekalnya. Dya seakan lupa, bagaimana pangkat dan jabatan zha didepan mereka semua yang ada disana, terlebih lagi mengenai kabar jika om edo memberikan lebih dari separuh saham perusahaan pada istrinya. Pada saat itulah, zha harus bisa menjaga diri dari semua orang yang ingin mendekati dan hanya ingin memanfaatkan dirinya.
Untung zha tak lama dengan semua penyambutan yang ada. Ia bergabung bersama van dan lidya di kursi mereka selama om edo menjadi tamu vvip disana. Cukup tahu jika zha hadir dalam pertemuan itu, dan zha bebar bersama siapa saja yang ia mau. Untung saja ada lidya disana.
“Dya, anterin pipis yuk?” pinta zha yang tampak merapatkan pahanya.
“Emang tadi ngga pipis dirumah?”
“Mccckk… Udah, tapa kan kebelet lagi. Tanya mulu ih, nanti aku minta temenin kak van loh,” ancam zha yang semakin merapatkan pahanya.
“Ih, apaan sih. Ayo cepet,” omel lidya lagi-lagi pada zha.
Keduanya tiba di kamar mandi bersama, lidya menunggu zha yang tengah menunaikan Hasrat sembari merapikan make upnya. Hingga ia ketika ia menegakkan kepala, ia membulatkan mata dengan siapa yang saat itu ada dibelakangnya.
“Sepertinya kalian begitu bahagia sejak aku pergi. Tak ada sama sekali yang menghiraukanku saat ini, kemarin, dan bahkan esok.”
“Pergipun atas kemauan mama sendiri, bukan? Padahal lidya juga tak pernah menuntu agar mama
Menerima dya disana. Karena dya sama sekali tak perduli dengan mama.” LIdya membalasnya
Dengan lantang saat itu juga. Ia kemudian menoleh dan mencegahnya dengan berbagai cara agar ia menemukan zha yang ada didalam sana, dan ia akan berusaha melindungi zha dengan berbagai cara.
“Dimana dia?”
“Siapa?” tanya dya pura-pura bodoh, padahal ia tahu benar siapa yang dimaksud oleh mama ana.
“Jangan berkilah, aku melihatnya masuk bersamamu barusan. Aku harus mendapatkannya sekarang juga, karena dia satu-satunya harapanku. Aku Sudah kehilangan semuanya karena kalian berdua!” Mama ana berusaha menghampiri setiap pintu yang ada ditoilet itu dan membukanya. Ia bahkan tak segan mendorong tubuh lidya yang terus berusaha menghalanginya untuk bertemu dengan zha.
“Mama jangan nekat, atau dya akan teriak!” Lidya mengancamnya dengan tegas saat itu, dengan tatapannya yang tajam seolah tak takut sama sekali dengan keberadaan mama ana didepan matanya.
“Pemberani, tapi kau sama sekali tak ku butuhkan saat ini.” Mama ana mendorong tubuh lidya bahkan hingga kepalanya terbentur ke dinding dan mengeluarkan darah cukup banyak.
Mama ana terus melakukan aksinya membuka satu persatu pintu yang ada, hingga semuanya nyaris terbuka dan menyisakan dua pintu yang masih tertutup rapat di depan matanya.
“Kamu tak akan bisa lolos lagi dariku, zha. Setidaknya aku harus mendapatkan sesuatu dari apa yang ku lakukan padamu..” Mama ana menyeringai, lalu perlahan meraih handle pintu dan mencoba membukanya dengan harapan yang begitu besar jika zha ada didalam sana.