
"Zha, pulang sama aku aja." Van mendadak menawari zha untuk pulang bersama. Zha membulatkan mata, berusaha sebisa mungkin untuk menolaknya.
"Zha, naik taxi. Nanti kalau_"
"Bukannya, om kamu udah titipin kamu ke aku? Jadi aman dong? Bila perlu aku telepon om kamu sekarang_" Van meraih hp dan akan menghubungi sebuah nomor disana. Entah itu nomor om edo atau bukan, tapi mmebuat zha cukup gugup dan segera menghalanginya.
"Eh, jangan... Om beku... Eh, om edo itu biasanya sibuk kalau jam segini. Kadang hp dia sama sekretarisnya jadi_"
"Okey, yuk ke mobil..." Van dengan semangat kemudian menarik lengan zha untuk keluar dari kelas. Ia melaju begitu cepat hingga zha kesulitan untuk menyesuaikan langkah panjangnya. Yang bahkan, zha melewatkan dinda yang seperti akan datang menjemput zha di ruangannya.
" Aku pulang duluan! Sampai ketemu besok," ucap zha melambaikan tangan satunya pada dinda.
Sedangkan dinda hanya menatap keduanya diam. Ia mencengkram tali tas yang ia pakai dengan kuat, dan bahkan hingga urat tangannya terlihat. Apalagi kulitnya yang begitu putih bersih, hingga
perubahan warnanya tampak jelas disana.
"Kakak tumben bawa mobil?" tanya zha, heran.
"Seperti sebuah takdir, bukan? Om edo menitipkan mu padaku, ketika aku membawa mobilku. Jadi, aku bisa mengantarmu tanpa perlu kepanasan da. Berantakan terkena angin." Van tersenyum membukakan pintu mobil mewahnya. Ia memperlakukan zha seperti seorang tuan putri baginya, begitu lembut dan menuruti apa yang ia inginkan, yang bahkan belum ia katakan.
Van berlari memutar menuju kursi setirnya, dan ia duduk disana."Siap?" tanya Van pada zha.
Zha mengangguk. Tapi sebenarnya ragu bagaimana respon om edo ketika zha sampai dan diantar oleh zavan kerumah. Tak mungkin ia berbohong dan tak mungkin om edo tak tahu jika ia tak bersama taxinya hari ini.
"Sesekali, masa ngga boleh?" fikir zha dalam diamnya.
Sepanjang jalan mereka berdua diam. Tapi van menangkap rasa lapar dimata zha, hingga mengajaknya ke sebuah tempat untuk makan siang bersama. Baru saat itu zha berusaha menolak dan mengajaknya bicara. "Kak, anter zha pulang aja. Nanti om marah,"
"Dia tak akan marah, karena aku mengajakmu makan siang. Dia akan marah jika kau lemas hanya karena kelaparan," kilah van pada gadis itu.
Mereka berhenti. Memang tak di restaurant mewah, tapi cukup nyaman. Dan bahkan saat itu van tak mengajak zha duduk didalam, melainkan hanya memesan makanan dan mengajaknya duduk di atas balkon restaurant itu. Makan berdua duduk di pinggiran sembari menikmati suasana kota dan angin segar yang berhembus mengenai wajah keduanya.
"Makan sambil berdiri, ini ngga sopan!" tegur zha padanya.
"Lalu, kau mau duduk disini?" Van justru menepuk paha, membuat zha mengedip-ngedipkan mata.
"Apaan sih?" lirih zha yang tertunduk dengan wajah merah merona. Lagi-lagi van tersenyum gemas melihatnya. Ingin sekali mencubit pipi cuby penuh makanan itu, bahkan ingin sekali ia mengecup bibirnya. Tapi ia masih sadar dengan semua halangan yang ada.
"Zha?"
"Iya Kak?"
"Omongan om mu tadi, mengganggu fikiranku."
"Omongan... Omongan yang mana?" tanya zha menelengkan kepalanya.
"Dia bilang, bagaimana jika nanti kau menikah dengannya. Apa hubungan kalian?" tegas van padanya.
Zhavira tertunduk. Jujur saja ia tak paham apa maksud itu semua, dan ia hanya menganggap itu tadi ucapan untuk membuat bobi diam semata. Tak menyangka, jika justru akan mengganjal di hati van.
"Dia serius. Tatapan matanya, rahang tegasnya, dan suaranya. Dia sama sekali tak main-main dengan ucapannya." Van kali ini berbicara dengan getaran suaranya, menunjukkan jika ia sedikit perih memikirkan ucapan tadi. Hanya ucapan tapi begitu dalam meski ia ucapkan pada anak SMA.
" Kau... Akan menikah dengannya?"
" Zha ngga tahu. Zha ngga pernah tahu bagaimana besok, dan apa yang akan terjadi. Zha_"
"Baiklah... Kita lupakan. Yang penting aku sudah bertanya dan kau menjawabya." Van seakan tak ingin membuat zha canggung, dan memilih tetap seperti ini sementara waktu. Ia masih belum memiliki celah untuk zha dan hatinya, apalagi dengan genggaman tangan om edo yang begitu sempurna untuk zha seakan begitu sulit dilepaskan.
Van kemudian mengajak zha mengobrol santai. Membicarakan sesuatu yang berhubungan dengan cita-cita usai keluluasan. Hanya zha, karena van sudah pasti akan meneruskan perusahaan ayahnya dibidang alat berat. Yang bahkan bekerja sama dengan perusahaan om edo untuk pengangkutan batu baranya.
Sementara itu zha menceritakan cita-cita dan semua alsan ketika ia memilih itu untuk hidupnya. Terasa begitu mulia bagi van, bahwa ada seorang gadis yang bercita-cita menjadi perawat padahal gajinya tak seberapa. Tapi sifat penolong memang sudah terlihat dari diri zha sejak lama.
Sementara itu disebuah gedung dan disebuah ruangan mewah, om edo dengan beberapa klien lain tengah mengadakan sebuah rapat. Begitu banyak pembahasan mereka mengenai usaha, kerjasama dan bisnis lain yang menguntungkan bersama. Bahkan mereka sempat makan siang disana, dan istrirahat sejenak kembali mengumpulkan materi pembicaraan lain untuk keputusan yang akan diambil.
"Saya dengar, Anda mengasuh putri seto? Benar?" tanya seorang rekan disana.
"Ya, saya bawa dia kerumah. Anda tahu, bahkan mamanya saja entah kemana. Bahkan, jika mungkin kembali kita tak kenal dengan wajahnya." Om edo menjawab cukup panjang kali ini.
"Benarkah rumor itu?"
"Maybe... Karena nyatanya kami masih belum bisa mencarinya hingga saat ini. Hanya ingin ia menyelesaikan semua hutangnya." imbuh om edo padanya. Meski sebenarnya hutang itu sudah selesai ditangan ayah zha, tapi tetap ia harus membayar uang sebanyak itu karena itu semua adalah hak zha untuk masa depannya.
Obrolan berlangsung, hingga salah seorang kolega membahas tentang putranya yang meminta ia membelikan sebuah teleskop untuk hoby barunya. Ya, bahkan ia bawa karena dibeli saat perjalanan pertemuan mereka barusan.
"Boleh aku pinjam?" tanya om edo, yang tampaknya tertarik akan benda itu. Ia bahkan begitu lihai membuka dan memasang semuanya. Ia arahkan ke jendela dan melihat seluruh keindahan kota dari mata tajamnya. Hingga ia menangkap sesuatu diujung sana, yang tak jauh dari tempat ia berdiri saat ini.
Om edo segera meraihn hp, dan menghubunginya. "Kau dimana? Kenapa belum pulang?"
"Hah? Zha, itu... Ehmmm_'
" Pulang, atau ku rontokkan bulu bear sekarang juga!" ancam om edo padanya.
Zha menoleh kanan kiri, ia mencari sesutu yang mungkin om edo sengaja kirim untuk mengawasinya saat itu.
" Aku melihatmu dengan mata kepala sendiri, bersama brandal itu."
Zha seketika mematikan hp dan menaruhnya di tas. Ia segera lari untuk turun kebawah dan meninggalkan van ditempatnya. Dan saat itu juga van segera menyusulnya.
"Zha, kenapa?"
"Zha harus cepet pulang, Kak. Kalau kakak ngga bisa antar, zha naik taxi aja ngga papa."
"Iya, tapi kenapa? Kamu panik begitu, ada apa?"
"Alah emboh, Kak. Ini mepet, jangan banyak tanya." Zha tampak begitu tegang dan cemas saat ini. Tapi ia juga penasaran darimana dan bagaimana om edo dapat mengetahui lokasinya dan bersama siapa.