I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Kalian kenapa sih?



Plaaak!


"Heyy!" tatap nyalang lidya pada siapa yang menyentuh wajah mulusnya dengan kasar.


"Dinda_" tegur zha saat itu juga. Ia langsung meraih tangan sahabatnya itu dan membawanya duduk kembali.


"Dya ngga papa?" tanya Zha yang mencoba menyentuh dan melihat kondisi pipi zha. Meski memang tampak langsung merah hanya karena sekali pukulan dari dinda.


Lidya menepis tangan zha dengan begitu kasar, hingga tangan itu terhempas di meja. Sakit, tapi zha berusaha tak merintih hanya gara-gara hal kecil yang ia rasakan. Dirumah lebih menyebalkan dari ini, dan masih bisa ia atasi.


"Ngga usah sok perhatian!"


"Aku cuma_"


"Udah zha... Emang sesekali dia perlu dikasih pelajaran. Gimana rasanya sakit. Dia kira dia siapa? Bahkan papanya ngga ada apa-apanya dibandingin om kamu. Sekali om kamu bertindak, bisa abis perusahaan papanya."


Dinda menatap tajam lagi pada dya, dan mereka terus seperti itu hingga beberapa saat. Zha meraih dinda, mengusap dadanya agar menyabarkan diri dan tak melawan lagi setelah ini.


Van yang tengah duduk bersedekap memejam kan mata itu mendengar perdebatan semua yang ada dibelakangnya. Wajar saja, antara kelas van dan kelas zha hanya berbatas tembok, dan van duduk paling belakang hingga dapat mendengar kericuhan yang terjadi disana.


"Lanjutkan_" ucap Van dengan nada datarnya.


Entah kenapa setelah mendengar ucapan dinda mengeni om zha, dya tak bergeming lagi. Hanya mengepalkan tangan satu dan satunya lagi mengelus pipi yang masih sangat perih. Ia membalik badan dan duduk tenag di depan, sesekali sahabatnya mengusap pipi dya dan mengompresnya dengan tisu basah yang ia bawa..


"Kamu kok gitu sih? Nanti dia makin dendam loh," bisik zha pada dinda.


"Harus dikasih pelajaran. Nanti kalau masih begitu juga, aku kasih tahu siapa om kamu itu. Seenaknya aja merasa paling kaya," balas dinda dengan geramnya.


"Udah ih..." Zha terus mengusap bahu dinda saat itu. Untung saja miss lola segera masuk ke ruangan mereka hingga semua diam seketika.


Om edo saat itu tengah fokus dengan laptopnya. Akhir bulan semua laporan masuk, dan bahkan ia dibantu sekretaris bahkan asisten yang lain untuk memerksanya bersama. Sayangnya, Om edo tampak tak begitu fokus dengan apa yang  ada didepan mata.


"Pak?"


"Ya, sofi?" toleh om edo padanya..


"Bapak melamun?"


"No... Hanya saja_" Ucapan om edo terpotong sejenak, "Sofi. Kalau kau atau ibumu marah, apa pelampiasan kalian?" tanya om edo sedikit berbisik pada sekretarisnya itu.


"Hah? Kok nanya itu?" tanya kaget sofi padanya. Bos besarnya itu seakan tengah memperdalam ilmu memahami wanita saat ini.


"Hanya tanya. Kalau kau tak mau jawab, tak apa." Om edo merapikan duduknya kembali.


Sofi menjawab seadanya seusai dengan apa yang ia amati dalam keluarga. Menceritakan mengenai papa mamanya dengan segala tingkah absurd mereka. Tapi bukan mamanya saja, karena ia tahu kebanyakan ibu akan melakukan hal yang sama. Mencuci piring dengan sesekali membanting panci, menyusun piring dengan kuat di rak. Dan masih banyak lagi, dan om edo semakin ternganga mendengarnya.


"Sedangkan saya sendiri, lebih ke makan. Jadi kalau ada masalah, dari kantor, pacar, atau keluarga... Saya akan keluar me time dan makan sepuasnya."


"Udah, itu saja?" tanya Om edo memicingkan mata seakan tak percaya. "Jadi, mood setiap wanita itu berbeda. Kenapa zha menggajar bonekanya, itu mungkin karena hal yang sama?"


"Ya, mungkin saja. Apalagi kadang ketiika merasa marah, kesal, kecewa, tai sema sekali taka da yang bisa membantu meringankan beban itu meski sedikit saja. Jadi, harap maklum jika nona mencari dan memiliki pelampiasan tersendiri." Jawaban sofi panjang lebar, apalagi ia menegrti zha yang pasti masih belum bisa mengontrol dirinya saat ini. Masih dengan bear saja masih mending, daripada zha mendadak keluar dan mencari pelampiasan diluaran sana.


Sofi seakan paham benar derita zha. Ia paham karena bekerja bersama om edo sudah Lima tahun, bahkan ia juga akrab dengan ayah zha selama ini. Jadi, ia tahu betapa sepi hati zha meminta perhatian dari omnya. Bahkan, sofi merasa baru kali ini om edo cukup banyak bicara padanya sejak sekian lama bersama. "Biasanya irit banget," batin sofi menatap kegalauan bosnya.


Mereka tak mengobrol lag, dan langsung kembali fokus pada semua pekerjaan yang menanti.


Siang datang dan zha beranjak dari kelas dan berjalan menuju kantin bersama dinda. Ia menoleh kanan dan kiri, mencari zavan yang bahkan belum menghampirinya saat ini. Hingga keduanya tiba dikantin, dan zha bahkan mencari ke balkon siapa tahu van sudah terlebih dulu duduk dan tidur disana.


"Cari siapa?" tanya dinda yang baru saja memesan makanan untuknya.


"Ngga ada," jawab zha, lalu kembali menggandeng tangan dinda untuk duduk dikursi kosong yang ada.


Cukup lama mereka duduk disana. Menghabiskan makanan dengan begitu nikmatnya dengan minuman segar yang tersedia, hingga tuntas dahaga mereka. Meski nanti akan Lelah lagi karena aka nada pengambilan nilai untuk mata pelajaran lainnya yang pasti akan menyita waktu dan tenaga.


"Zha," panggil van yang langsung datang dan duduk disebelahnya. Ia santai, bahkan meraih minuman zha yang ada dimeja lalu meneguknya dengan penuh dahaga.


"Ih, Kak Van... Itu bekas mulut zha," tegur gadis itu ketika van bahkan tak mengganti pipet yang ada disana. Padahal tersedia didepan mata.


"Kenapa? Sama saja. Bahkan aku tak keberatan jika aku meminumnya langsung dari mulutmu," tatap van gemas pada zha. Seakan tak perduli jika dinda saat ini ada dihadapan mereka berdua.


"IIh, jorok..." jawab polos zha yang kemudia menutup mulutnya. Tapi van hanya tertawa, dan masih saja jahil menikmati makanan zha yang masih setengah dipiringnya.


"Pesen sendiri bisa kan? Kenapa harus gangguin makanan zha?" tanya datar dan sinis dinda padanya. Dan jujur, baru kali ini mendengar dan melihat dinda seperti itu. Bagai ada sisi lain dalam diri dinda yang selama ini ia sembunyikan dari zha.


"Masalah?" tatap santai van padanya yang terus mengunyah makanan yang ada. "Zha akan lapar, dan nanti ngga fokus belajar. Kakak mau kalau nanti_"


"Dinda, udah yuk... Zha bisa ambil makanan lagi kok," tegur zha pada sahabatnya. Yang entah kenapa, hari ini terlihat begitu pemarah dan begitu mudah tersulut emosinya. Meski ia tahu jika dinda sering curhat masalah keluarga, tapi sepertinya tak akan selebay ini untuk pelampiasan pada orang yang ada disekitarnya.


Apalagi dengan van, yang juga zha sadari sedikit beda pada dinda. Padahal kemarin, Van memperlakukan mereka nyaris sama hingga bisa akrab dan bahkan membuat iri yang ada disana. Kemarin dinda masih berdiri dan berjalan dibelakang zha dan Van, tapi saat ini dinda seakan ingin terus menelusup diantara mereka berdua dan berjalan bersama.


Ya, masuk ditengah dan bukan di sisi lain keduanya. Yang dulu mendukung, tapi saat ini seakan ingin memisahkan mereka berdua bagaimanapun caranya. Bahkan melihat dari kejauhan ketika sesekali mereka saling tatap penuh kebencian.


"Kalian kenapa sih?" resah Zha sembari menunggu makanannya.