
Van ternyata membawa zha ke Bandara Internasional. Zha digandeng erat seakan tak pernah mungkin untuk ia lepaskan sedetikpun disana hingga mereka benar-benar pergi dari negaranya.
"Kak, ini ngga bisa main-main. Bahkan zha sendiri belum punya paspor," elak zha padanya. Tapi dengan santai van mengeluarkan dua buah paspor yang tak lain adalah miliknya dan zha.
Rupanya selama ini van diam-diam mengurus paspor untuk zha berbekal semua data dan foto yang ia ambil dari sekolah mereka. Dengan beberapa bantuan dari kenalan ayah sam, akhirnya kedua paspor itu tercetak hingga dapat van manfaatkan untuk membawa pergi zha dari sana.
"Kak!" pekik zha yang melepas genggaman itu dengan paksa. Dan saat itu van langsung menatapnya dengan tajam berusaha meraih tangannya kembali agar tak pernah lepas lagi.
"Tak ada yang bisa menolongmu saat ini, bahkan pesawat sebentar lagi berangkat." Van tampak begitu datar dengan segala obsesi yang ia miliki. Kali ini, bahkan zha seperti kehabisan cara untuk berfikir bagaimana cara agar kabur darinya.
Sementara itu, sensor dari GPS di hp zha masuk ke hp om edo yang ada disana. Om edo yang terkejut, berusaha setenang mungkin untuk mengambil rencana mengambil zha dan kakaknya. Ia bahkan bertanya pada salah seorang penanggung jawab maskapai mengenai keberangkatan pesawat yang paling dekat dari jam sekarang.
"Tuan, pesawat yang setengah jam lagi akan terbang adalah keberangkatan ke London," jawabnya dengan segala informasi yang ada, dan benar ketika menemukan nama Zavan dab Zhaviranya disana.
"Bisa kau tahan mereka?"
"Itu nyaris tak mungkin, Tuan. Tapi saya akan berusaha sebisanya. Apakah tuan akan datang?" Om edo lantas melirik jam, dan nyaris tak mungkin juga dia akan tiba sesuai waktunya kesana. Perjalanan pasti ramai, apalagi dengan lalu lintas yang padat merayap saat ini.
"Bukan aku, tapi akan ada seseorang yang datang." Om edo meyakinkan mereka untuk ikut berjaga disana mengawasi zha, yang bahkan baru saja ia kirim foto terbarunya.
"Tuan, bagaimana dengan Zha?" tanya wika yang masuk kedalam ruangannya setelah mendengar semua kabar berita yang ada. Sedangkan om yan dengan sigap segera pergi kerumah mama ana dan menahannya disana untuk meminta penjelasan dengan semua situasi yang ada.
"Aku-aku tak tahu apa-apa. Bahkan mereka pergi kemana pun, aku tak tahu? Aku hanya membiarkan mereka pergi bersama tadi siang, hingga nyaris malam." Mama ana tampak begitu ketakutan dengan semua serangan yang mendadak kerumahnya. Apalagi papa sam tak ada karena masih diluar kota, hingga tak ada yang membelanya saat ini.
"Kami akan disini, siapa tahu van menghubungi dan mengabari kepergiannya." Om yan duduk dengan santai menahan hp mama ana dan semua telepon yang ada disana saat ini. Mama ana pasrah, dan ia tak dapat berkutik sama sekali denga napa yang terjaid.
"Zavan, kenapa jadi begini?" geram mama ana pada putranya itu, yang rupanya sudah begitu terobsesi pada zha_putrinya. Ia tertahan disana entah hingga kapan, bahkan ia mungkin akan jadi tersangka utama jika terjadi sesuatu pada zha oleh van.
Sementara itu di rumah utama om edo, terdengar suara wika yang masih terisak mengingat gadisnya disana. Ia belum bisa diam sebelum tahu kabar zha baik-baik saja atau bahkan memastikan zha selamat dari kakak sambungnya itu. Ia masih tak menyangka kemalangan zha, ditinggal mama, ditipu, dipaksa, dan bahkan menjadi obsessi kakak sambungnya. Begitu malang nasib zha, padahal sebentar lagi ia akan menikah dengan pujaan hatinya.
"Sudahlah, Wika. Tak perlu menangis seperti itu," ucap om edo padanya, karena suara tangisan itu merusak semua konsntrasinya untuk mengurus zha disana. ia berusaha menghubungi zha, tapi gadis itu tak kunjung menjawabnya. Zha hanya bisa mengirim beberapa pesan wa berupa emoticon seadanya dari sana.
"Dia pasti tak melepasmu sejak tadi," geram om edo, memikirkan bagaimana tertekannya zha saat ini.
"Jadinya, zha gimana?" tanya wika lagi pada tuannya. Om edo hanya bisa menghela napas panjang sembari memijat dahi, dan mengusap tengkuknya yang terasa begitu berat saat ini.
"Wika," panggil om edo.
"Hah! Yakin?" kaget wika dengan bisikan om edo padanya. Ia ragu, tapi hati kecilnya mengatakan jika ia harus melakukan semua yang diperintahkan. Hingga akhirnya wika mengangguk dan bersiap untuk pergi dari sana sesuai perintah tuannya.
Om edo dirumah itu, ia terus mengawasi semua perkembangan dari zha dengan semua kode yang diberikan padanya.
"Permisi, Tuan, Nona. Berhubung masih dalam keadaan siaga Kesehatan, saya disini bertugas untuk memberi masker pada semua orang yang ada." Seorang petugas datang dan memberikan masker pada keduanya. Setelah yakin zha memakai itu, lantas ia pergi untuk tugas yang lainnya.
"Kak,"
"Hmmm? Ada apa?"
"Zha kebelet pipiis, ke toilet dulu boleh?" tanya zha mengapit tangan diantara kedua pahanya.
Van hanya menatapnya tajam, seolah begitu berat meski hanya untuk melepas zha menunaikan hajatnya. "Ayolah, please. Zha bisa infeksi saluran kemih kalau begini. Bahkan zha juga ngga tahu tujuan kita kemana dan berapa lama waktu yang dibutuhkan." Zha terus menggerakkan kakinya dengan begitu gelisah.
"Tahan nih, hp zha. Atau ikut aja yuk, ke toilet daripada ribet, Ih!" kesalnya yang sudah ngempet.
Akhirnya van berdiri, dan ia benar-benar mengikuti zha hingga ke depan pintu toilet yang ada disana. Van terus menunggu meski cukup lama dan tak perduli dengan siapapun yang menatap jijik padanya. Hingga akhirnya zha keluar, van segera menggandeng tangannya lagi untuk segera masuk ke ruang chek in, pertanda mereka akan segera berangkat menuju tempat baru untuk hidup bersama disana.
Semua pemeriksaan dilakukan, mereka masih menunggu sejenak hingga akhirnya nanti akan masuk ke pesawat. Mereka duduk berdampingan, cukup lama hingga menjelang waktu terbang sesuai dengan jadwal yang ada, dan bahkan terasa begitu lambat bagi van yang sudah tak sabaran.
"Zha, akhirnya kita akan berangkat ke tempat baru dan memulai hidup disana. Akhirnya aku bahagia bisa memenangkanmu darinya," bangga van yang kemudian mengusap tangan zha dengan mesra. Bahkan tak tergambar perasaan van dengan jantungnya yang berdebar kencang saat ini.
Namun, ada sesuatu yang mengganjal van ketika memperhatikan zha yang ada didekatnya. Sesuatu yang sempat membuatnya ribut dengan mama, tapi saat ini sudah tak ada.
"Siapa kau?"
"Ini zha, kenapa kakak tanya?" jawab gadis itu padanya. Tpi firasat van tak dapat dibohongi saat ini, ia lantas membuka masker gadis itu dengan paksa hingga justru menemukan lidya yang ada didepan matanya.
"Dimana Zhavira?!!" geram van, yang bahkan menarik kerah dress yang lidya pakai sekuat tanaga. Meski saat itu leher lidya tercekat, namun ia masih bisa tersenyum karena bisa membebaskan zha dari van yang terobsesi pada sahabatnya itu.
"Hentikan pesawat ini! Hentikan!!" amuk van di dalam pesawatnya, bahkan ketika ia merasa peswat itu mulai berjalan dan sebentar lagi akan terbang tinggi membawanya pergi dari sana.
Sementara itu di bagian luar bandara, seorang gadis dengan celana jeans pendek dan hodie hitamnya tengah menunggu taxi. Ia langsung naik ketika taxi itu datang dan membawanya pergi entah kemana, bahkan ia sendiri tak tahu arah tujuan akan membawanya.