
“Hay, zha. kamu cantik sekali hari ini,” sapa mama ana padanya. Tapi zha tak menjawab, tubuhnya seakan membatu melihat sosok itu hadir lagi didepan matanya. Ingin rasanya zha berlari atau bahkan berteriak mengusirnya dari sana, namun ia menghormati pasta yang berjalan bahagia dan meriah dibelakangnya.
Om edo yang sudah selesai dengan urusannya kemudian mencari zha, hingga menemukan gadis itu diam dihadapan seorang Wanita. Ia langsung menghampiri tanpa rasa curiga, tapi akhirnya ikut diam setelah melihat siapa yang ada didepan mata. Ia segera menggandeng tangan zha dan kembali menyembunyikannya dibelakang tubuh besarnya.
“Om,”
“Tetap disana,” balasnya menenangkan sang kekasih.
Mama ana tampak melirik zha, ia bertanya-tanya kenapa harus seperti itu ketika bertemu dengannya. Tapi ia sementara akan fokus pada tujuan utamanya saat ini.
“Aku kira kau yang menikah,” ucap mama ana sedikit meledeknya.
“Bagaimana aku menikah jika calon istriku ada disini?” tatap om edo datar padanya.
Mama ana lantas melirik sedikit kearah pelaminan, ia tersenyum karena melihat om yan dan pengantinnya ada disana. Mama ana seperti tahu alasan mereka menggelar pesta kecil hari ini.
“Aku tak mengundang siapapun kemari. Katakan, apa alasanmu datang?”
“Tak bolehkah seorang ibu menjenguk putrinya? Bahkan masih berhak jika memintanya kembali.”
“Kau masih anggap dia putrimu?” sergah om edo, tapi masih menahan suara karena takut merusak pesta yang ada.
Zha menggandeng lengan besar om edo kemudian memintanya masuk kedalam rumah. Biar masih dianggap kecil tapi zha tahu bagaimana untuk menghormati pesta mereka tanpa mau ada gangguan seperti ini. Apalagi hanya karena zha, yang bahkan sempat gagal juga gara-gara dia.
Om edo meminta mama ana masuk, sementara zha pamit sejenak pada wika dan om yan yang masih sibuk dengan tamu mereka.
Mama ana melenggang masuk ke dalam rumah besar itu. Tak asing karena dulunya ia juga sering kesana sejak masih menjadi maid seperti wika, dan beberapa kali datang ketika sudah menikah dengan ayah zha. tak ada perubahan dimatanya, tetap megah dan indah persis seperti rumah impiannya selama ini.
“Bukankah kau Sudah mendapat yang lebih besar?” tanya om edo yang tahu mama ana masih mengagumi istananya.
“Manusia itu memiliki sifat tak pernah puas, Do. Kau tahu itu,”
“Ya, aku belajar itu darimu.” Om edo kemudian duduk santai disofanya. Jika tidak karena pernikahan om yan dan wika, pasti ia sudah menyuruh penjaga rumah itu untuk segera mengusirnya dari sana secara tak hormat.
Mama ana ikut duduk, ia seperti masih menunggu zha berada ditengah mereka dan mengajaknya bicara. Tapi om edo sudah tak sabar, ia ingin segera bertanya, menyelesaikan semuanya dan Wanita itu pergi dari rumahnya.
“Katakan tujuanmu datang?”
“Kau tak sabar sekali rupanya. Padahal aku menunggu zha agar kita bicara bertiga."
“Aku walinya, dan aku calon suaminya.”
“Kau terobsesi dengan putriku, Edo. Bagaimana jika aku tak mengizinkan kau menikahinya?” tatap nyalang mama ana padanya.
“Kau tak berhak, bahkan ayahnya sendiri yang sudah menyerahkannya padaku.” Om edo tampak tenang, sama sekali tak terbaca emosi dari raut wajahnya yang datar saat ini. Ia benar-benar sudah tak perduli lagi pada pendapat mama ana bagi dirinya dan hubungan bersama zha.
“Jika kau tanya hak, mungkin kau lupa jika aku yang telah susah payah mengandung dan melahirkan dia. Dengan semua yang serba pas-pasan, dan bertaruh nyawa karena harus melahirkan dengan cara normal Dua hari dua malam,”
“Jelas, aku ingat segala rasa sakit yang aku alami demi melahirkan dia,”
“Tapi kau saat itu tak mau tahu bagaimana dia hidup tanpamu. Bagaimana dia tumbuh dibesarkan tanpa Wanita yang ia panggil mama disampingnya. Bahkan sempat berharap, seorang yang ia panggil mama itu datang menjemput ketika ayahnya meninggal. Kau tak perduli itu, Ana,”
Mama ana langsung gugup mendengarnya. Ia masih berusaha tenang mendengar cecaran om edo akan semua kesalahan yang telah ia perbuat selama ini pada zha. dan ia masih tetap akan menuntut zha untuk ikut dengannya.
“Bahkan kau hanya mengasuhnya beberapa bulan. Kau lebih tak berhak dariku!”
“Amanat seto yang memberiku hak lebih besar darimu,”
“Tapi zhavira itu masih kecil, Edo, dia masih dibawah umur! Bagaimana kau bisa mengatakan dia sebagai calon istrimu, bahkan kalian tak pantas_ untuk…”
“Berapa usia zha sekarang?” tanya om edo, yang langsung membungkam mulut mama ana. Ia tampak langsung kebingungan dan menghitung usia anaknya sendiri dan mengingat tanggal lahir sang putri, Dan saat itu om edo hanya tersenyum miring melihatnya.
“Bahkan kau lupa tanggal lahir zha? Bahkan kau tak tahu, kapan ia membuat KTPnya,”
Mama ana terdiam, ia merasa kalah telak dengan semua kenyataan yang om edo berikan padanya.
“Tetap aku ibunya. Aku akan berusaha mengambil zha meski kau tak mengizinkannya. Bahkan, meski kita harus naik ke meja hijau nantinya.”
“Zha bukan anak dibawah umur, Ma. Bahkan mama sendiri tak hafal usia zha?” tanya zha yang mendadak datang dan menghampiri keduanya. Ia duduk didekat om edo dan saat itu langsung menggenggam tangan besar kekasihnya dengan begitu erat seakan ia sama sekali tak mau dipisahkan dengannya meski sebentar saja.
“Zha tak rindu mama?” tanya mama ana dengan wajah melasnya. Begitu meyakinkan, karena memang ia sempat ingin menjadi seorang aktris selama ini.
“Zha pernah begitu rindu sama mama, rindu sekali bahkan zha sempat menabung untuk mencari mama ketika dewasa nanti. Tapi, semuanya luruh ketika bahkan mama tak datang ke pemakaman ayah. Mama ngga tahu, betapa zha sakit saat itu.” balas zha yang berusaha menahan deraian air matanya.
“Dan kenapa baru sekarang setelah sekian lama? Jika mama lupa rumah ini, bahkan mama bisa meminta kak van untuk mengantar mama kemari? Apa rencana yang mama fikirkan saat ini?”
Mama ana merasa tak bisa berbuat apapun saat ini. Ia diserang oleh dua orang yang bahkan tampak saling mencintai dan sulit dipisahkan. Ia sendiri ingat ketika dulu ia begitu ingin menikah dengan ayah zha hingga akhirya berpisah karena kehidupan rumah tangga tak semata hanya karena cinta.
“Kamu harus berfikir lagi, Zha. Tak semudah yang kamu fikirkan untuk menikahi pria yang lebih dewasa, bahkan mama rasa kamu hanya berambisi menjalankan amanat konyol ayahmu saja.” Tangan zha mengepal lagi ketika mendengar ucapan mama ana yang menghina ayahnya, tapi om edo menenangkan zha dengan mengeratkan genggaman mereka berdua.
Mama ana dengan gaya elegannya kemudian kembali memakai kaca mata hitam yang ia punya. Dengan helaan napas yang cukup berat kemudian ia hembuskan lagi agar tak memperlihatkan wajah panik pada mereka berdua disana, “Ingat, biar bagaimanapun darah mama mengalir dalam tubuh kamu, Zha. Jadi mama bisa menuntut kapan saja atas hak kamu yang seharusnya bisa mama miliki.”
Wanita itu lalu meraih tasnya dan melangkah pergi dari sana dengan Langkah kakinya yang penuh wibawa ala sosialita. Saat itu kebetulan om yan masuk, dan berpas-pasan denganya namun tanpa tegur sapa.
“Hey, dia siapa?” tanya om yan pada om edo dan zha.
“Dia_ Mama zha,”
“Hah? Dia?”
“Ya, dia Ana dengan wajah barunya,” jawan om edo menyambung jawaban zha pada om yan.