
Bagaikan bayi kehausan, itulah om edo sekarang yang tak henti menyesap seluruh inci tubuh zha. baik bibir dan lidahnya bermain disana bahkan tangannya ikut tak mau diam dengan segala aktifitas yang bisa ia lakukan. Ia membenamkan wajah, hidungnya yang mancung dan bibirnya yang basah di puncak indah nan ranum itu. Ia kalap terus melahapnya.
Zha sama sekali tak keberatan. Justru setiap sarafnya saat ini tengah kegirangan dengan sentuhan sang suami ditubuhnya yang tiada henti membuatnya berteriak penuh kenikmatan. Napas om edo terus memberi sensasi tersendiri pada tubuh zha saat ini.
“Aahh… Hmmmm!” Zha mendesaah dan ia tersenyum menikmati semuanya.
Netra om edo mentap wajah cantik sang istri yang tampaknya juga sudah begitu ingin. Tangannya Mulai membuka croptop yang zha pakai, dan zha tak mau kalah membuka satu persatu kancing kemeja om edo hingga tubuh kekarnya terpampang didepan matanya. Bahkan, zha tak segan mengecupi setiap guratan otot yang tercetak disana.
Om edo mulai lagi, ia menyambar bibir indah itu hingga ia hisap sekuat tenaga sangking gemasnya. Sementara zha sendiri sudah berkali-kali menggeliat merasakan sentuhan yang lagi-lagi merang sang tubuh mungilnya.
“Apa kau bahagia?” tanya om edo yang sejenak menghentikan aktifitasnya. Napas zha yang masih tersengal, ia kebingungan harus menjawab apa selain hanya menganggukkan kepala.
“Lidya dan van mungkin akan dijodohkan setelah ini,” imbuh om edo membelai lembut wajah mulus zha dengan jemarinya.
Zha menangkap tangan besar itu dan mengecup telapaknya dengan begitu mesra dan lembut penuh cinta.
“Zha yakin, jika mereka berdua memang ditakdirkan seperti kita yang akhirnya bersama mesti begitu banyak tintangan yang ada.”
“Kau disini, dan kau aman dari mamamu kecuali_”
“Zha ngga aman dari om edo,” tawa zha pada suaminya. Om edo yang gemas seketika menatapnya smirk, ia lantas menegakkan tubuhnya untuk segera membuka gesper dan celananya yang sudah tampak begitu sesak disana. Zha mengatupkan bibir, membayangkan apa yang terjadi padanya setelah ini.
“Kenapa? Takut menangis lagi?” goda om edo yang mendekatkan dahi mereka berdua.
Zha menggelengkan kepala, mendesaah hebat ketika om mulai menenggelamkan wajah diantara kedua pahanya. “Aaaaaaagghhh!!” Zha menjerit sekuat tenaga mendapatkan sengatan luar biasa disekujur tubuhnya.
Penyatuan keduanya dimulai. Zha dibuat melayang tak karuan rasa dengan semua yang om edo lakukan padanya. Kecapan, hentakan lembut maupun kasar sudah sangat terbiasa ia terima dan mengoyak seluruh inti tubuhnya saat itu.
Desaaahan panas dan liar mengiringi penyatuan keduanya, mengisi seluruh ruangan besar itu meski mereka hanya berdua disana. Keringat dan peluh membasahi tubuh keduanya saat ini, bahkan sepray ikut basah akibat tumpahnya milik zha yang tiada terkira.
Bagaimana tidak, bahkan ia dibuat squirting oleh om edo dengan begitu dahsyatnya hingga membuatnya menjadi lemah dan tak berdaya. Tapi ia harus terus menerima gempuran yang mengunci setiap otot di tubuhnya.
“EErrrrgghh!!” Tak hanya zha, tapi om edo juga merasakan sensasi luar biasa dengan segala permainan yang ada.
Keduanya menyudahi permainan itu, kemudian berbaring mesra menikmati pemandangan yang ada dengan jendela yang terbuka. Napas masih terengah-engah dengan wajah yang masih bersemu merah saling melempar kecupan dibibir masing-masing. Zha tersenyum meraih wajah maskulin nan tegas itu seolah tak ingin melepasnya sama sekali.
Zha mengenakan kemeja om edo alakadarnya untuk membalut tubuh saat itu, segera duduk dan mengusap rambut om edo yang berbaring dipahanya. Meski ia tak terpejam, ia hanya menikmati setiap sentuhan zha dii tubuh besarnya itu dengan tetap waspada pada anaconda yang mungkin akan bangun lagi karenanya.
***
“Kenapa, hmm?” raih om edo pada tubuh zha kemudian memangkunya.
“Harus pulang sekarang?” Zha menayunkan bibirnya dan tampak begitu lesu.
“Kau tak mau?”
“Bukan engga, tapi belum. Bahkan belum ajak zha jalan-jalan disekitar sini, menikmati semua pemandangan yang ada. Zha dari kemarin terkurung dikamar,” keluhnya manja. Tak hanya itu, bahkan ia belum jadi menikmati berendam dikolam renang yang ada disana dan berendam bersama suaminya, padahal ia amat ingin itu semua.
Om edo hanya membelai rambut istri kecilnya itu. “Aku kan membawamu seperti ini sebulan sekali, bagaimana?” tanya om edo yang beberapa kali ikut menyerang bibir indahnya.
“Di rumah juga ada kolam renang, bukan?”
“Serius?” tanya zha dengan begitu antusias mengenai janjinya itu. Om edo menganggukkan kepala menjawab pertanyaan sang istri, karena itu Sudah menjadi janjinya untuk membahagiakan zha.
Ia beralih dari pangkuan, kemudian berjalan untuk ikut merapikan kembali semua barang yang ada hingga menggangi pakaiannya dengan dress yang ia miliki. Semua telah siap, dan seorang roomboy membantu keduanya membawa barang menuju mobil yang sejak tadi telah ia persiapkan.
***
“Siap?” tanya lidya pada van yang duduk disampingnya saat ini. Menurut kesepakatan, mereka kan bertemu zha di rumahnya karena zha akan pulang hari ini.
Wajah van tampak sedikit tegang dan pias, ia beberapa kali tampak menghela napas kemudian mengangguk pada lidya yang terpaksa harus menyetir mobil untuk membawanya kesana karena ia mereka masih takut dengan emosi van yang masih naik turun.
Dengan anggukan itu, lidya mulai menjalankan mobil untuk pergi bersama menuju rumah om edo. Lidya dengan janjinya akan terus mengawasi van agar bisa mengontrol emosinya saat ini. Perjalanan tak lambat dan juga tak begitu cepat, ia berharap ketika sampai zha juga sudah tiba hingga tak perlu menunggu lama. Pasti akan tegang disana, terutama jika om edo ikut bicara mewakili istrinya.
Keduanya tiba di rumah mewah itu, van dan lidya turun bersama mengetuk pintu dan disambut oleh wika yang kaget akan kedatangan mereka berdua. “Mau apa kamu kesini?” tanya wika menatap van dengan mata tajamnya.
“Kak wika, zha belum pulang?” tanya lidya berusaha mengalihkan perhatian wika. Tapi sulit, karena wika sudah terlanjur fokus pada pria yang ada didepan matanya.
“Belum, LIdya. Dan sepertinya kakak akan menghubungi mereka untuk menunda kepulangannya karena ada dia,”
“Kak… Maaf,” ucap van menundukkan kepala dengan segala rasa bersalahnya. Ia bahkan bersedia bersujud jika wika masih berkeras hati tak mengizinkannya bertemu dengan zha, meski ia tak diperbolehkan masuk kedalam sana.
“Aku akan menunggu disini hingga zha datang. Aku… Aku hanya ingin meminta maaf padanya atas semua kesalahan yang sempat aku lakukan,”
Wika menyipitkan mata. Ia berusaha meyakinkan diri dengan ucapan yang diberikan oleh van padanya saat ini. Masih diambang rasa tak percaya, tapi lidya tampak berusaha untuk terus menyakinkannya.