
Harusnya wika ikut suami setelah menikah, setidaknya beberapa minggu sekaligus menjalani bulan madu mereka berdua disana. Namun demi menjaga zha, om yan dan wika bersedia menundanya. Mereka khawatir jika mama ana kembali datang dan memaksa zha untuk ikut bersamanya.
"Maaf, gara-gara zha kalian_"
"Ngga papa, Sayang. Kami ada untuk menjaga kamu sekarang. Itu amanat ayah, yang sepertinya merasa jika semua akan terjadi." Wika mengusap rambut gadisnya.
Saat itu mereka tengah mempersiapkan perlengkapan om yan untuk kembali ke tambang karena memang disana juga tak bisa ditinggalkan. Sedangkan di kantor om edo juga sibuk dengan segala pekerjaan yang ada.
Usai membereskan semuanya, zha dan wika turun memberikan koper itu pada om yan yang sudah menunggu disana. Kedua pria itu tengah berdiskusi mengenai zha, yang mungkin akan ditahan di rumah untuk sementara.
"Kuliahnya bisa menyusul. Atau kita daftarnya secara online saja, tapi menunda untuk ujian yang lain." Om edo menjawab sembari terus berfikir.
"Om yan," panggil zha yang langsung menghampirinya. Ia duduk disamping om yan lalu menggenggam tangannya, menyesal karena memisahkannya dengan wika. Om yan mengatakan hal yang sama dengan istrinya, jika itu semua demi zha.
"Tapi kalian harus menghargai pengorbanan kami yang sudah seperti ini," ucap om yan melirik zha dan om edo bergantian.
"Maksudnya?" Om edo memicingkan mata.
"Jangan pernah ingin berpisah hanya karena hal kecil, karena kami sedang memperjuangkan kalian untuk bersatu. Apalagi zha, jangan mudah terpengaruh oleh apapun." Om yan mencolek hidung bangir zha dengan jarinya. Memang zha lebih rentan saat ini dengan perasaannya yang masih sangat sensitif.
Sekarang sudah seperti ini. Mama ana seperti tak gampang menyerah untuk mendapatkan zha, dan segala cara akan ia lakukan cepat atau lambat. Mereka harus siap dalam hal itu.
Jujur zha sedikit ngeri dengan ucapan om yan menggambarkan sang mama didepan matanya. Sengeri itukah? Tapi nyatanya ia sendiri bisa membuat wajahnya berubah dan memotong beberapa bagian tubuhnya hanya untuk obesesi. Bagaimana hanya untuk zha yang jelas-jelas darah dagingnya.
Om edo dan om yan kompak berdiri, dan mereka akan berangkat bersama. Om edi mengantar om yan ke bandara pagi ini karena wika tak bisa menemani.
Zha memeluk kekasihnya dan menenggelamkan wajah di dada bidangnya cukup lama. Kemesraan mereka seolah mengalahkan pengantin baru yang ada didepan mata yang juga melihat keduanya.
"Kenapa?" tanya om edo, kemudian zha mendongakkan kepalanya.
"Bisakah waktu bergerak cepat menjadi Tiga bulan kemudian? Zha ingin semua segera selesai." Ia seakan tak ingin melewati peristiwa rumit yang mungkin akan terjadi. Apalagi jika harus membayangkan sebuah perpisahan, ia langsung menggelengkan kepala menepis bayangan perihnya.
Om edo meraih wajah itu dan mengusap air mata yang hampir menetes, berkata agar jangan ada lagi air mata turun membasahi pipi zha saat ini, esok dan seterusnya. Tak lupa mengecup sekali bibir zha dengan begitu hangat seakan tak ada orang lain diantara mereka berdua.
"Ehmmm!" Om yan mengagetkan, hingga zha terlonjak melepas dekapannya.
"Sebentar lagi pesawat akan terbang. Ayolah," ajak om yan, berusaha tak merusak moment keduanya.
Mereka pergi, meninggalkan kedua wanita itu disana.
"Zha, masuk yuk," ajak wika. Ia tak suka dengan keadaan tegang seperti ini, terutama karena zha selau ceria. Ia berusaha mengajak zha bicara dan bercanda untuk meluluhkan suasana yang ada.
*
"Kenapa bertanya? Aku tak pernah main-main tentang apapun dalam hidupku,"
"Aku tahu, sangat paham tentang dirrimu, dan aku tahu betapa kau menggenggam tanggung jawab untuk zha selama ini. Hanya_”
“Takut jika aku menikahinya hanya untuk tanggung jawab? Setidaknya aku tak pernah memaksa zha untuk itu semua.” Om edo meraih hp kemudian menatap foto zha yang saat ini bahkan menjadi wallpaper di hpnya. Ia tak terfikir seperti itu, melainkan zha sendiri yang meraih memainkan hpnya kemudian berfoto dan memajangnya disana.
Om edo mengusap wajah zha yang ada difotonya sembari tersenyum simpul, mengingat gadis yang ia ambil saat itu tampak sudah begitu berbeda sejak pertama mereka bertemu. Dia yang nakal dan selalu membangkang, sejak saat ini berjanji untuk menuruti apapun perintah sang calon suami.
“Janji tak bertengkar lagi dengannya?” goda om yan.
“Tidak, aku juga jarang melawannya. Bibirku hanya akan ku gunakan untuk mengecup bibirnya jika ia mengomel, agar ia diam.”
“Hey! Haissh, kau ini, Andai tak perlu menunggu, aku sudah menikahkan kalian berdua sejak kemarin. Aku takut kalian kebablasan,” geram om yan pada keduanya, meski juga perasaan bahagia menyelimuti hatinya. Ia sendiri yang akan menjadi wali zha setelah ini untuk pernikahan mereka berdua.
“Ana,” ucap om edo mendadak menyebut Namanya.
“Ada apa lagi dengan dia?”
“Yakunkah dia meminta zha untuk dirinya? Jika iya, seharusnya sejak lama ia melakukan semuanya. Aku lupa menjelaskan semua padamu, atau wika sudah bercerita?” tanya om edo, tapi om yan menggelengkan kepala mendengarnya dengan tatapan penuh tanya.
Akhirnya om edo menceritakan Kembali, tapi hanya detail mengenai keluarga Sambodo yang saat ini menjadi keluarga baru mama ana, serta sambung mama ana yang Bernama Zavan yang diketahui memang meyukai zha selama ini.
Om yan membulatkan mata, seakan tak percaya namun semua itu nyata. Dunia ini sempit baginya, karena ternyata orang yang diselidiki selama ini sebenarnya dekat dengan mereka. Tapi wajar mengingat ia sudah merubah wajahnya. Demi menjaga hal yang tak diinginkan, om yan harus berfikir sejak awal untuk mencari pengganti dari operator alat berat yang mereka sewa dari kelaurga itu selama ini.
“Ya, aku akan melakukannya meski itu seperti mustahil. Tuan sam, apakah mengetahui pergulatan ini?” tanya om yan.
“Aku takt ahu, tapi bisa jadi ana akan memanfaatkan semuanya. Aku bahkan belum tahu motifnya menginginkan zhaviraku saat ini,” balas om edo. Tapi diam-diam ia sudah mengerahkan beberapa anak buah dari kantor pusat untuk mengawasi mereka semua yang ada disana. Meski kadang ia merasa perlu ada sebuah permainan untuk mereka.
“Aku yakin, Tuan sam bukan orang yang gampang memanfaatkan keadaan. Beliau begitu professional, dan bukan hanya sebentar bekerjasama.” Om edo mengedikkan bahu mendengar ucapan om yan padanya, ia tak ingin menerka-nerka saat ini, dan ia hanya ingin fokus pada zha.
Hingga mereka benar-benar tiba di Bandara, dan om yan bersiap untuk pergi meninggalkan sehabatnya. “Hubungi aku jika ada sesuatu. Zha masih tanggung jawab kita bersama,” ucap om yan.
Om edo memutar badan untuk Kembali ke mobil dan menuju kantornya, harus tetap fokus dengan segala pekerjaan yang menuntutnya selalu sempurna.
“Mas edo!” Suara itu memanggil lagi. Om edo berhenti meski tak menoleh sama sekali padanya, namun ia tetap datang mendekati.
“Mas, tolong tatap aku sebentar saja, Mas. Apakah rasa itu benar-benar sudah hilang dari hati kmu? Lantas kenapa hingga sekarang kamu belum bisa dapat penggantiku?”
Wanita itu terus meracau dengan berbagai pertanyaan dibibirnya, tapi om edo tak menajawab satupun pertanyaan yang ada dan mengganggu telinganya. Ia berlalu, terus berjalan hingga masuk kedalam mobilnya lalu pergi.