
"Selesai... Balik kelas yuk, udah bel." Zha kemudian berdiri usai membereskan semua alat yang baru saja ia pakai. Ia meraih tasnya, dna bahkan memakai tas van dibahu sebelahnya. '
Akan tetapi, saat itu van meraih tangan zha dan mencegahnya pergi sejenak. "Om itu_" ucap van dengan tatapan datarnya pada zha.
"Kan zha udah bilang, bahwa sejak ayah meninggal, zha jadi tanggung jawab om edo sekarang. Kenapa sih?" tanya balik zha usai penjelasannya.
"Dinda, kau jangan terlalu dekat lagi dengannya."
"Kakak kenapa? Dari kemarin kan dinda yang temenan ama kita, kenapa malah zha suruh jauhin?" cicit zha padanya. Memang terasa aneh ketika mereka yang selalu bertiga, tapi saat ini van justru meminta zha menjauh darinya. Padahal yang ia lihat tak pernah ada masalah pada dinda, yang bahkan gadis itu selalu mendukung mereka meski harus berdiri dibelakang keduanya.
Van tak melanjutkan ucapannya. Ia segera berdiri dan meraih tasnya yang ada pada zha, kemudian memakainya sendiri. Ia kemudian menggandeng tangan zha untuk berjalan dan masuk ke kelas mereka masing-masing.
Pemuda itu masih ingin membuktikan pada zha mengenai dinda, karena zha saat ini masi begitu polos dan terlalu larut tenggelam dalam sebuah kata persahabatan diantara keduanya. Van tak ingin jika hanya karena dinda, justru zha yang akan menjauhinya nanti akibat prasangka yang belum terbukti olehnya. Ia masih harus melindungi zha bagaimanapun caranya.
Saat itu, semua siswa langsung memfokuskan pandangannya pada zha. Mungkin mereka masih bertanya-tanya, karena jawaban yang diberikan zha itu masih terasa sangat ambigu bagi mereka semua yang ada disana. Apalagi dengan semua bukti yang ada, menimbulkan begitu banyak pertanyaan dan prasangka difikiran mereka semua.
"Zha_"
"Aku kemarin temenin Om edo ketemuan sama klien, abis itu aku main dipantai. Jadi kan emang, aku jalan berdua sama om." Zha menjelaskan semua sesuai dengan keadaan, meski masih akan banyak spekulasi negative yang muncul nantinya.
"Bentar lagi mau ujian, ngga usah terlalu urusin masalah orang lain. Belajar dan perdalam ilmu masing-masing. Jangan Cuma ilmu julid yang digedein," tukas zha pada mereka semua.
"Ngomong aja pinter," sindir lidya dengan wajah penuh kebencian pada zha. Tapi bukan zha Namanya jika ia tak bisa cuek menanggapi gadis yang sejak awal membencinya itu.
Hari ini adalah jadwal mereka mengambil nilai untuk mata pelajaran olahraga. Zha dan dinda telah mengganti pakaian masing-masing diruangan ganti, dan tak lupa zha menaruh hp dilokernya agar aman.
"Ciiih... Simpenan om om kok hpnya jelek? Mita hp baru dong. Masa kalah sama aku," Lidya memamerkan hp barunya, bahkan mebandingkan dengan dinda yang kastanya paling rendah diantara mereka saja masih bisa menggunakan hp yang lebih canggih dari milik zha.
"Ngga papa, yang penting bisa buat nelpon. Ini kenangan dari ayahku, dan kalau mau yang bagus ada kok dibeliin om edo kemarin." Zha menjawab cibiran itu dengan santai, meski sebenarnya tengah amat menahan emosinya saat ini.
Ya, asal nama ayah dan kelemahannya tak disebut disana dan mereka hanya sebatas membuly zha. Gadis itu akan senantiasa diam dan hanya menghela napas dengan apa yang ia dengar ditelinga.
"Ayah loe semiskin itu ampe jual loe sama om om?" celetuk lidya. Padahal, baru saja zha menghela napas panjang menghindari perdebatan dengannya.
"Kalau gue bawa hp baru gue yang lebih canggih kesini, loe bisa diem?" tatap tajam zha padanya. Bahkan menantang lidya untuk beradu kecanggihan hp barunya dengan hp yang dya miliki saat ini. "Padahal gue udah diem loh, Lidya. Tapi masih terus aja meracau bawa-bawa dinda, bawa ayah yang udah meninggal. Mau loe apaan sih?"
"Gu-gue kan Cuma nanya. Masa sekelas loe, kalah sama anak sekretaris macam dinda. Terus, apa salahnya?" tatapan itu masih saja menantang zha, meski jawabannya sudah begitu gugup untuk berusaha mencari alasan yang tepat.
"Kok bawa-bawa aku? Aku diem loh," ucap dinda dengan wajah sedihnya. Selalu saja dilihat dari kasta dan status ayahnya yang biasa saja dan dibawah mereka semua.
Tim penilai sudah menunggu disana, mereka berbaris dan siap menunggu nama mereka dipanggil satu persatu untuk penilaian. Dinda terus ada didekat zha, saling menggenggam tangan satu sama lain untuk saling menguatkan dengan derita yang sama. Seperti itulah anggapa zha pada dinda saat ini, hingga tak mendengarkan ucapan dan peringatan van padanya.
Satu persatu dari mereka mulai dengan penilaiannya. Bergantian sesuai urutan absen nama mereka disebutkan, dan melakukan semua kegiatan yang diperintahkan. Hingga seorang siswa memanggil salah satu diantara mereka dan menjadi pusat perhatian semua orang.
"Apaan?"
"Ini hp siapa? Gue nemuin di got barusan." Pemuda itu menunjukkan sebuah hp yang sudah begitu basah dan mati layarnya.
"Zha?" colek dinda, dan saat itu zha segera memperhatikan bentuk hp yang persis seperti miliknya.
Zha segera berlari, kemudian merebut hp itu dari pemuda yang ada disana. Dengan tangan gemetar, zha mulai berusaha menghidupkan hp itu kembali, tapi tak kunjung bisa hidup lagi.
"Aaaarrrghhh!!!" Terikan zha begitu pilu terdengar oleh mereka semua. Airmatanya seketika keluar mambasahi pipi, begitu deras dan tak terkendali. "Ayaah!! Ayaah!!" pekik zha yang terus berusaha menyalakan hpnya.
Dinda dan beberapa teman lain berusaha menolong, bahkan ada yang nekat membongkar hp itu saat itu juga untuk mengeluarkan airnya. "Zha, basah semua. Sepertinya udah lama," ucapnya.
Sontak tangis zha semakin pilu, meraih hp itu lalu beberapa kali memasangnya kembali. "Engga, ngga boleh begini. Siapa yang jahat, siapa!!!" pekik zha lagi. Ia bersimpuh dilantai.
"Zha_" panggil dinda yang berusaha menenangkannya.
"Engga, Din... Ngga boleh rusak begini. Kenangan ayah, foto, bahkan pesan suara ayah yang terakhir ada didalem, Dinda. Kalau hilang gimana?" Zha sudah tak mampu lagi menghentikan air matanya. Ia bahkan meraung-raung seperti anak kecil yang tantrum dan akan begitu sulit untuk dikendalikan.
"Lidya!!" pekik dinda dan langsung tajam menatapnya.
"Apaa? Daritadi aku disini sama kalian. Kenapa nuduh aku? Enak aja..." kilah lidya padanya.
"Terus siapa? Kamu yang dari kemarin bully zha kok,"
"Ya tapi bukan aku!" tegas lidya padanya. Ia juga bingung, bahkan ia kasihan melihat zha yang begitu sakit saat ini.
Mereka semua berkerumun disana, semua orang berusaha membantu zha sebisanya. Tapi tak juga bisa dan mereka semua kebingungan disana dengan histerisnya Zhavira. Ia saat ini benar-benar frustasi, semua memori tentang ayahnya hilang dan mungkin tak akan pernah bisa kembali.
"Ayaaah!!!" Zha terus saja meneriakan nama ayahnya disana. Bahkan sangking syoknya, tubuh zha lemas dan lunglai nyaris jatuh jika dinda dan menyangganya. Tapi berat, dinda tak kuat hingga zha nyaris jatuh ke lantai.
"Zha!!!" Van datang, dan ia dengan cepat meraih tubuh dinda, memutar dan segera menggendongnya dibelakang.