I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Van dan Janji mama ana



“Van, Sayang. Mau kemana?” tanya mama ana pada sang putra yang telah rapi hendak keluar dari rumahnya.


“Kenapa?”


“Engga, mama Cuma nanya. Van bosan di rumah?”


“Hmmm… Tak akan bosan jika mama berhasil membawa zha kemari.” Van kembali membahas itu dan membuat mamanya tegang saat ini.


“Sabar, Sayang, sebentar lagi mama akan bawa zha kemari. Mama sudah tahu bagaimana caranya agar zha ikut kita,”


“Buktikan,” ucap van datar, kemudian meninggalkan sang mama yang masih berdiri ditempatnya.


Van berjalan menggunakan motor kesayangannya. Ia terus menelusuri jalanan dengan semua keramaian yang ada, entah kemana arahnya ia pun takt ahu. Hingga akhirnya ia tiba disebuah mall, ia kesana karena ingat pada zha dan bear kesayangan yang sering ia ceritakan padanya.


“Aku akan membelikan yang lebih besar jika kau mau, Zha. Aku akan menuruti semua keinhinanmu, apapun itu.” Van dengan mata sendunya menatap sebuah bear besar berwarna ungu yang terpajang indah ditoko boneka. Hingga akhirnya ia melihat bayangan zha dari kaca toko itu, ia menoleh dan memastikan zha benar-benar ada disana meski bersama omnya.


Kecewa, tapi van tak ingin mengganggu mereka jika harus meneteskan air mata zha dan membuatnya semakin kecewa. Apalagi zha seakan tak bisa lepas dari genggaman pria yang saat itu ada didekatnya.


Seperti seorang detektiv, Van terus memperhatikan mereka dari kejauhan. Terlebih pada zha yang terus melengkungkan senyum indah yang sejak kemarin ia rindukan. Ia juga ingin senyum itu hadir ketika mereka bersama, dan ia akan terus menagih janji mamanya.


Permainan berakhir hanya dengan satu boneka dalam pelukan zha. Tapi tak apa, zha cukup bahagia mengingat usaha om edo mendapatkan itu untuknya. Zha kemudian mengajak om edo untuk istirahat dan memesan minuman paforitnya disana, duduk dengan santai menikmati semua keramaia yang ada.


“Om ngga pesan minum? Zha Cuma pesen satu,”


“Tidak, aku tak terlalu suka. Nanti aku minta saja jika ingin,” jawab om edo padanya. Keduanya duduk berdampingan, bahkan zha makin lama makin menggelendot manja pada papa bearnya menambah kemesraan diantara mereka berdua.


Dalam diam, om edo sesekali menatap layar hpnya memastikan pemberitahuan yang ada disana. ia juga tengah menunggu sebuah email mengenai dokumen dari pekejaannya saat ini.


“Permisi, ini minumannya.” Seorang pelayan mengantarkan pesanan zha ke mejanya.


“Boba red velvet,” ucap zha yang menyeruputnya dengan penuh dahaga, bahkan tedengar meggiurkan oleh om edo yang memperhatikannya.


“Apa?”


“Hmmm, mau?” tawar zha padanya, dan om edo ikut meminumnya. Rasa yang lumayan bagi seorang pecinta kopi, apalagi diminum berdua dengan sang kekasih hati dan menciptakan sensasi sendiri diantara keduanya.


“Om sayang ngga, sama zha?” Sebuah pertanyaan klaksik yang akhirnya muncul dari bibir gadis itu. Om edo haya menghela napas seakan malas untuk menjawab karena tak akan pernah ada penyelesaiannya.


“Ooom, zha nanya.”


“Sesuatu yang tak perlu terlalu banyak dipertanyakan, Zha. Hanya perlu dibuktikan.” Tegas om edo dalam mode datarnya.


Zha hanya mengatupkan bibir lalu tak menjawab lagi setelahnya. “Om, zha mau pipis.” Gadis itu segera berdiri dan pergi meninggalkan hpnya disana. Tinggalah om edo sendirian berkutat dengan segala email dan pekerjaannya tanpa zha.


Gadis itu setengah berlari, rasanya sudah tak tahan lagi untuk menuntaskan keinginannya saat ini. Apalagi di toilet sedang antri dan memaksanya menunggu lagi sebentar.


“Mas,” panggil seorang Wanita yang menghampiri om edo ditempatnya.


“Vina, ada apa?” tatap tajam om edo padanya dengan mode datar tanpa ekspresi.


“Vina, kau lebih baik duduk disana karena disini ada yang menempati,” titah om edo ketika vina sudah akan duduk disampingnya, dan tempat itu adalah milik zha.


Mau tak mau vina menurut kali ini, asal ia masih bisa bicara pada mantan calon suaminya itu. Ia kembali membahas hubungan mereka, bahkan mengingatkan kenangan manis mereka berdua yang tengah begitu hangatnya bersama. Menyesal pun ia ucapkan ketika hubungan harus kandas nyaris diujung jalan hanya karena kesalahan keluarga vina memanfaatkan semua kondisi dengan cara yang tak baik selama mereka bersama.


“Mas, maafin aku.”


“Aku sudah memaafkanmu,”


“Tapi aku ingin kembali, aku masih cinta sama kamu, Mas. Aku udah jelasin ratusan kali jika aku taj pernah terlibat dalam semua urusan mereka,”


“Tempat ini sudah ada yang memiliki.” Ucapan singkat tapi benar-benar mengena dihati vina hingga menusuk relung jantungnya.


“Anak kecil itu?” tanya vina, menerka pada zha yang memang sudah sempat bertemu dengannya.


“Dia calon istriku,”


“Kamu gila, Mas! Dia saja masih kecil, mana bisa_”


“Dia bahkan siap untuk pernikahan kami,”


“Dia masih labil, Mas. Tak bisakah kamu berfikir jernih dengan apa yang_”


“Kau sudah cukup bicara, maka pergilah.” Om edo memintanya, ia tahu zha akan segera kembali dan tak ingin ada salah paham diantara keduanya nanti.


Tapi vina bebal. Ia memilih tetap ada disana dan terus bersikap seolah tak ada apapun diantara mereka. Wanita berusia 26 tahun itu memang sempat menjadi tambatan hati om edo, namun rasa itu sudah benar-benar tak ada meski tersisa sedikit untuknya.


“Mas, akum au minuman itu. Aku haus,” sahut Vina pada segelas boba yang ada disana. ia menyeruputnya sebelum sempat om edo menghalangi tangan itu meraih minuman miliknya dan zha.


“Segar, rasa yang kamu pilih enak.” Via mengembalikannya lagi, berharap om edo ikut bertukar bekas mulut disana. Tapi, om edo membuangnya seketika pada tong sampah yang ada didekatnya. Sontak saja wajah vina berubah amat kecewa dan marah padanya.


Sementara itu zha baru keluar dari kamar mandi, ia segera berjalan untuk menemui papa bearnya lagi dan melanjutkan kencan keduanya. Namun seseorang yang berpostur tinggi besar menghalangi tubuhnya hingga kesulitan melanjutkan perjalanan.


“Kak Van,” panggil zha yang kemudian mendongakkan kepala menatap wajahnya. Van tersenyum, ia bahagia karena zha masih mengenali meski belum sama sekali melihat wajahnya. Senyum yang ramah, yang tak sembarang orang bisa melihatnya.


“Kau ingat aku? Kau baik-baik saja?” tanya van, dan zha mengangguk menjawabnya. Tapi zha tak ingin terlalu menanggapinya, dan memilih cepat pergi untuk menghampiri om edo yang ada disana menunggu sejak tadi.


“Zha, aku hanya ingin bicara sebentar, Zha.” Van terus mengiring zha dan mengejarnya saat itu.


“Ngga bisa, Kak, Zha ditungguin sama_” Langkah zha terhenti ketika melihat om edo duduk berhadapan bersama seorang Wanita disana, ia juga tahu jika Wanita itu adalah mantan kekasih yang sempat akan dinikahinya.


“Dia yang kau bilang menunggumu, Zha.” Van menoleh dan melihat ekspresi zha saat itu, tampak sekali mengandung makna sebuah kecemburuan dari raut wajahnya.


Van mendekat, ia meraih wajah zha dan memutar tubuhnya untuk membelakangi mereka berdua disana. “Kau sakit?” tanya van, dan ia merasakan hembusan napas zha begitu berat didekatnya.


“Tak ada yang melebihi rasa sakit zha ketika mengetahui kenyataan tentang mama. Tolong, lepasin zha sekarang.”