I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Kenapa sih?



Acara demi acara dimulai setelah van dan keluarganya datang. Dan benar saja, disana tak tampak sama sekali sosok mama ana mengiring sang putra tercinta. Zha hanya tampak menghela napas, dan membuang jauh semua pemikiran untuk bertanya akan wanita itu.


Sesi lamaran berjalan dengan begitu mengharukan, bahkan air mata zha berderai ketika melihat kakak dan sahabatnya itu saling bertukar cincin disana. Apalagi ia tak pernah merasakan semua hal macam itu. Ia mendadak menikah, bahkan tanpa sebuah acara lamaran dari suaminya.


"Jangan bilang ingin yang seperti ini juga," bisik om edo yang mengusap kepala istrinya.


"Engga, zha ngga pengen kok, cuma terharu aja." Zha mengusap air mata dengan sapu tangan disaku jas suaminya. Om edo mengusap bahu zha dan mengecup kening zha saat itu untuk menenangkannya. Ia tahu, betapa sayang zha pada mereka begitu juga sebaliknya.


Hingga acara resmi selesai, mereka melakukan foto bersama dengan wajah yang begitu bahagia. Tak lupa, van dan lidya berfoto sembari memamerkan cincin baru mereka berdua..


Zha ikut disana, bahkan mengajak sang suami dan ikut memamerkan cincin serta kemesraan mereka berdua. Bahkan lidya memberi mereka kesempatan untuk berfoto berdua ala mereka.


Ya, mau tak mau om edo menuruti kehendak sang istri tercinta dengan berusaha untuk tersenyum mesra disana. Tak terhingga jika dilukiskan betapa sayangnya om edo pada zha.


Ting! Ayah Sam mengirimkan foto itu pada istrinya yang  entah dimana. Ia berharap sang istri masih bisa luluh melihat kebahagiaan anak-anaknya dari sana.. Karena biarbagaimanapun, zha adalah anak kandungnya sementara van adalah anak sambung yang ia urus lebih dari 15tahun olehnya.


"Aaaaaarrrghhhh!" Mama ana justru mengamuk bukannya luluh. Hatinya begitu rengam, kemarahannya juga membuncah saat itu dengan segala rasa sakit yang ada dihatinya. "Aku ngga rela!"


Tapi siapa yang mendengarnya saat ini? Ia tak memiliki siapapun disana yang bahkan sekedar mendukung obsesinya. Ia bahkan pergi tanpa harta yang pernah ia bayangkan selama ini ketika menikahi duda kaya raya itu. Hanya beberapa pemberian van, yang ia beri saebagai ucapan terimakasih karena telah mengurusnya selama ini.


Meninggalkan mama ana, mereka semua disana tengah menikmati semua hidangan yang ada. Duduk di kursi masing-masing dengan piring berisi makanan.


"Sayang, bisa ambilin zha makanan lagi ngga?"


"Lah, masih laper?" heran om edo pada istrinya. Ini juga belum terlalu siang, sementara pagi mereka masih sempat sarapan.


"Laper, masakannya enak, jadi zha mau lagi. Tolong dong, boleh?" bujuk zha dengan tatapan manjanya.


"Boleh, apa yang tak boleh untukmu. Wait," ucap om edo yang beranjak dan kembali ketempat makanan. Sebenarnya sungkan, tapi demi zha ia seolah memotong urat malunya saat itu juga.


"Tuan?" sapa mama lidya yang bernama  dina itu.


"Ya, Bu dina, ada apa?"


"Iya, kenapa? Maaf jika merepotkan, karena_"


"Oh, tidak, sama sekali tak merepotkan. Justru saya sangat senang melihat zha yang suka dengan menu yang kami sediakan. Tapi_" Bu dina menoleh kesana kemari melihat sekelilingnya, seperti ingin membicarakan sesuatu yang sensiitf pada bos suaminya itu.


"Apakah Tuan tak merasa, jika zha sedikit berisi saat ini?" Om edo yang mendengar ucapan itu lantas menoleh dan memperhatikan istrinya disana. Memang ia sadar jika zha sedikit lebih berisi saat ini, apalagi terbaca jika hasraatnya juga sedikit lebih tinggi dibanding biasanya.


"Jadi?" tanya om edo yang mengerutkan dahi. Tapi ia kembali menatap bu dina, membulatkan mata lalu mendapat jawaban anggukan dari wanita itu. Seperti keduanya tengah bicara dalam bahasa isyarat saat ini.


Om edo tersenyum, ia mengambil makanan lebih banyak lagi dan segera memberikannya pada sang istri.


"Kok lama?" cicit zha yang tampak kehilangan sabarnya.


"Ada yang mengajak bicara barusan. Ayo makan lagi," bujuk om edo yang bahkan langsung menyuapi dan melayani sang istri. Ia tak perduli jika disana banyak orang yang melihat mereka berdua, bahkan dengan segala kekuasaan dan rasa hormat dari mereka. Tak perduli jika nanti dianggap terlalu bucin atau lemah pada istrinya.


"Sayang kenapa?" tatap zha memicingkan mata.


"Kenapa_apanya?"


"Kok jadi mesra gini? Ngga ada sesuatu kan?" tatap zha semakin curiga..


"Yasudah jika tak mau_" Om edo menyingkir sedikit menjauh dari zha, tapi saat itu juga zha kembali menarik agar mendekat padanya.


"Eeeh... Mau, jangan gitu." Zha manja, dan ia kembali membuka mulut agar sang suami kembali menyuapinya. Ia sesekali tersenyum, kebahagiaannya bertambah saat ini dengan perlakuan mesra sang suami.


Bahkan om edo terasa semakin protektif pada zha setelannya. Ia mendadak begitu perhatian dan bahkan senssitif dengan apa yang zha lakukan. Seperti saat ini, ketika zha dan om edo sama-sama berdiri dan mengobrol dengan beberapa teman mereka.


Zha yang berbalik hendak meraih minuman, tapi om edo segera menutup ujung meja agar zha tak menabraknya. Meski pria itu tak berbalik sama sekali atau memalingkan wajah dari mereka semua. Ia seperti begitu peka, apalagi ujung meja itu tepat didepan perut zha.


"Ini kenapa sih?" gumam zha dalam hati..