I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Papa Bear



Zhavira menarik napas panjang untuk menyeimbangkan tubuhnya yang mulai melengkung kebelakang. Tangan om edo masih menjaganya agar tak jatuh meski tubuh zha telah melengkung membusungkan dadanya, jemari lentik zha meraba belakang kepala om edo hingga ke tengkuknya tanpa sadar memperdalam beliitan lidah mereka berdua.


Cup!! Om edo menyudahi pangutaanya di bibir zha dengan menggigit kecil bibir bawahnya.


Tatapan zha tampak sayu, kemudian menurunkan tangannya perlahan menyusuri lengan kekar om edo yang biasanya ia tutup dengan kemeja atau kaos oblong lengan panjangnya. Jarang sekali om edo memakai kaos lengan pendek dan mengeksplor lengannya yang kekar itu, dan kali ini tampak jelas dimata zha.


“Kita jadi pergi?” tanya om edo pada zha saat itu.


“Om udah janji, ini kencan pertama kita berdua.” Zha segera turun dari meja itu dan berjalan pelan keluar dari sana. Kakinya lemas, gemetar, tapi ia tetap berusah berjalan dengan baik meninggalkan sang kekasih yang sejak tadi terus menatap dengan senyum miringnya.


“Kenapa begitu menggoda, zha? Kau juga tak pernah menolaknya,” gumam om edo mengecap rasa manis bibir zha yang tertinggal dibibirnya.


Zha berjalan seperti biasa keluar dan menuju kamarnya, ia takut wika akan melihat dan curiga dengan apa yang mereka lakukan didalam sana barusan. Meski mungkin bagi wika itu tak terlalu mengejutkan karena masih dalam batas wajar mengingat hubungan keduanya.


Braak!! Zha membanting pintu lalu menguncinya. Tubuhnya goyah, langsung mleyot terjatuh duduk dilantai dan rasanya begitu lemas gemetaran. Bahkan ia begitu sulit untuk bangun lagi sekedar hanya untuk berjalan ke kemar mandi.


“Astaga, astaga, aku kenapa?” tanya zha, yang akhirnya merangkak karena sangking lemas tubuhnya. Padahal itu belum apa-apa, bagaimana jika mereka sudah menikah dan menjalankan ritual malam pertama.


Entahlah, otor saja sulit membayangkannya nanti karena belum terfikir sama sekali.


Hingga akhirnya zha tiba dikamar mandi, ia merayap naik dan berdiri didepan wastafel dan menatap dirinya sendiri didepan kaca. Meraih bibirnya yang baru saja disentuh kembali oleh om edonya dalam waktu lama. Rasanya ingin jatuh lagi, tapi ia ingat jika akan ada kencan hari ini.


“Kyaaaa!!!” Zha mendadak berteriak sekuat tenaga menafsirkan segala rasa bahagia yang ada didalam hatinya. Hingga tenaganya kembali sempurna, dan zha berjalan menuju shower untuk mebersihkan dirinya, hingga bersih, wangi, dan berdandan ala dirinya sendiri agar lebih santai untuk kencan malam ini.


Sebuah rok daysi hitam bunga-bunga ia pakai, berpadu dengan sebuah kaos putih yang tak terlalu ketat ditubuhnya. Ia juga memakai sepatu kets putih senada dengan kaosnya saat itu. Tetap sopan di usianya karena ia sadar akan kencan dengan pria dewasa yang jauh usia dengannya.


“Siap,” ucap zha yang bahkan telah memoles wajahnya dengan natural sesuai usianya.


Zha turun, kebetulan om edonya juga sudah menunggu disana. Tapi jangan membayangkan bagaimana om edo karena sepertinya ia sudah tak bisa lagi berdandan ala anak muda usia 25an. Ia tetap berpakaian rapi, meski sedikit lebih santai dari biasanya.


“Hey,” sambut om edo full senyum di bibirnya, mungkin karena baru mencargernya tadi dengan zha. Dan ia langsung mengulur tangan agar zha menggandengnya.


Tampak wika diam menatap keduanya, ia sibuk dengan semua makanan yang ada diatas meja dan menikmati me timenya malam ini. Jika ketika kencan ia ingat zha hingga pulang, maka siapa yang akan ingat dia kecuali suaminya. “Ya, beginilah nasib,” gumam wika.


“Kemana?” tanya om edo yang mulai menjalankan mobilnya.


“Zha laper, makan dulu boleh?”


“Baiklah,” jawab om edo, dan mereka memulai kencan mereka sejak keluar dari rumah itu.


“Suka?” tanya om edo padanya.


“Suka banget, cantik pemandangannya.” Zha berjalan menuju balkon sembari menikmati pemandangan yang tampak dari sana. Om edo lantas menghampiri dan memeluknya dari belakang, saat itu zha menyandarkan kepala yang ada tepat di dada bidangnya.


“Aku tak bisa memberikan ini setiap waktu, Zha.”


“Iya, zha tahu. Zha udah paham kok,” jawab zha dengan santainya. Ia memang sudah terbiasa dengan semua keadaan mengenai om edo, hingga ia tak terlalu akan menuntut agar pria itu menjadi seperti keinginannya.


“Pemisi, Tuan.” Pelayan datang membawa pesanan mereka berdua di mejanya. Sebenarnya masih ingin bermesraan disana, tapi suara merdu dari perut zha sudah memanggil untuk segera menyantap makanan yang ada.


Mereka berdua begitu menikmati itu semua, apalagi zha yang saat ini selalu mendapat full senyum dan perhatian dari kekasihnya, walau tak bisa dibandingkan dengan pria bucin seusianya yang mungkin akan melakukan lebih dari itu semua. Romantis, merayu, dan memberikan semua kata-kata manis dari bibirnya,. Om edo bukan tipe seperti itu hingga zha sama sekali tak mendambakanya.


Usai dengan makan malam romantis itu om edo mempersilahkan zha membawana kemana saja, dan mall adalah tempat pilihan zha. Ia juga gadis kecil kurang pengalaman hingga hanya bingung jika ditanya soal kencan, apalagi ia takut jika selera mereka berdua akan bertabrakan.


“Aku akan menurutimu hari ini, santai saja.”


“Tapi kalau omnya ngga nyaman, jadinya ngga enak dong. Masa zha main sendiri,” manyun zha didepannya.


Akhirnya om edo meraih tangan itu dan membawanya masuk ke wahana permainan, membeli tiket dan menarik napas panjang seolah tengah memutuskan beberapa urat malunya demi zha. “Ayo main,” ajak om edo yang membawa zha kedepan mesin capit untuk mendapatkan boneka untuk menambah koleksi zhavira dikamarnya.


Zha langsung mengulurkan senyumnya, begitu lepas dan tampak amat bahagia dan memulai permainan mereka disana. Sesekali ia menoleh dan menatap om edo yang bermain dengan wajah seriusnya demi mendapat boneka baru untuk zha, padahal ia bisa membeli bahkan satu tokonya jika ia mau saat itu.


“Om edo mau seperti ini buat zha? Apakah zha bisa dengan cepat mendewasakan diri untuk dia juga? Karena jika kami menikah, pasti kedewasaan itu akan dituntut dalam diri zha agar sesuai dengan mereka semua.” Zha bergumam dalam hatina.


“Yeaaah!!” Om edo sedikit berteriak membuat zha kaget. Ia mendapatkan sebuah mini bear berwarna pink dan saat itu langsung ia berikan untuk zha.


“Waaah, makasih.” Zha semakin bahagia ketika koleksi bearnya bertambah disana.


“Makin banyak, ada big bear, ada mini bear dan temen-temennya. Sekarang zha juga punya Papa bear,”


“Papa bear?” tanya om edo mengerenyitkan dahinya. Zha mengangguk sembari menatap senyum pada sang kekasih yang mendapatkan julukan baru darinya.


“Ini, Papa bear.” Zha menunjuk perut om edo malu-malu. Bukan karena perutnya gendut, melainkan itu yang bisa zha raih dengan kepalanya yang tertunduk.


“Hhh, dasar…” lenguh om edo yang kemudian menyibakkan rambutnya.