I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Insiden disekolah



"Zha kenapa minta motor?" tanya Om yan mengawali pembicaraan keduanya.


"Pasti Om beku udah cerita juga alasannya,"


"Om mau zha sendiri yang cerita," tatap om yan padanya.


Seketika itu zha terdiam dan tertunduk sejenak. Ia mengulang lagi apa yang ia ucapkan pada om edo kemarin, dengan segala alasan dan perhitungan yang matang. Zha tahu semua orang sibuk, dan ia tak ingin semua repot hanya karena sedikit masalah yang akan zha hadapi nanti.


"Zha tak memperhitungkan kemungkinan masalah baru yang akan datang?"


"Masalah... Apa?" tanya zha memicingkan mata.


Om yan dengan lembut menjelaskan semuanya, apa yang mereka khawatirkan ketika zha mulai aktif dijalanan. Meski itu hanya kekhawatiran, tapi om yan begitu jujur pada perasaan trauma yang masih ada untuk ayah zha. Terutama pada om edo saat ini.


Seakan tak percaya, jika om bekunya memiliki trauma yang begitu besar terhadap ayah zha yang bahkan bisa kambuh kapan saja. "Maaf," sesal zha yang sempat memaksa. Dan andai om edo bisa menjelaskan semuanya seperti ini, pasti mereka berdua tak akan bertengkar hanya karena masalah sepela.


"Sebagai gantinya, bagaimana jika zha mulai sekarang bisa pergi tapi dengan taxi online langganan?  Zha bisa pergi kemana saja, tapi tetap dengan pengawasan kami. Biaya akan masuk ke om edo, dan om yan sudah berunding dengannya semalam."


"Ehmmm... Iya deh, ngga papa." Zha mengangguk pada tawaran omnya. Setidaknya saat ini masih longgar dibandingkan sebelumnya, dan zha memiliki kesempatan untuk melihat dunia luar tanpa harus menunggu mereka semua.


Zha tiba disekolahnya. Ia lantas meraih tangan om yan dan ia kecup dengan mesra, sekaligus om yan pamit lagi pada keponakan tersayangnya itu. Zha melambaikan tangan, hingga om yan benar-benar menghilang dari pandangan.


"Zha!" pekik dinda yang menghampirinya.


"Telat lagi?"


"Kan barengan, ngga telat lah. Aku bantuin adik aku buat tugas semaleman. Gila, susah banget ampe perih mata."


"Bersyukur punya adek. Aku, ngga punya siapa-siapa." Zha menunjukkan wajah sedih, lalu dengan sigap dinda mengusap air matanya yang hampir keluar.


"Cup cupp! Jan nangis, kan omnya banyak. Aku sama kak van juga ada. Eh, mana dia? Kok belum dateng?" Dinda menoleh kesana kemari mencari sosok pemuda tampan itu. Pemuda yang selalu bisa membuat hatinya berdebar. Meski ia harus terus menyimpan perasaan itu rapat-rapat didalam hatinya.


"Itu," tunjuk zha dengan bibirnya.


Saat itu van turun dari motor KLXnya, dan tatapan mata tajam itu dengan seketika langsung tertuju pada zha yang ada diujung sana. Ya, diujung tapi benar-benar menjadi titik fokua pandangannya seolah tak ada manusia lain disana yang bisa ia lihat.


"Kau menangis?" tanya van dengan segala perhatiannya pada zha.


"Cuma terharu saat dinda bahas adeknya. Sedangkan Zha sebatang kara," jawabnya berusaha tegar dengan kenyataan yang ada. "Tapi ngga papa, kan ada kak van sama dinda yang jadi saudara zha."


"Saudara? Apa aku kau anggap saudara?" Pertanyaan van entah menjurus kemana, dan zha sama sekali belum paham apa maksudnya. Hanya dinda, yang terdiam seketika mendengar ucapan van padanya.


"Eh... Masuk yuk, hampir telat." Dinda berusaha mengalihkan obrolan mereka berdua.


Saat ini zha berjalan disamping van sembari menceritakan hari kemarin padanya ketika ia bermain diwahana. Ia yang bahagia meski terus diawasi om beku disana, yang bahkan tak mau hanya sekedar diajak bermain permainan sederhana dan lebih memilih duduk menunggu hingga zha selesai dengan permainannya.


Sementara dinda ada dibelakang mereka, memperhatikan keduanya yang begitu akrab berjalan didepannya. Bukan tak pernah zha menggandeng tangannya untuk berjalan bersama, tapi dinda menolak dan memilih untuk tetap berjalan dibelakang keduanya.


"Kirain om ngga mau, jadi_" Ucapan zha terhenti ketika mereka melewati papan buletin disekolahnya. Disana cukup ramai, dan tersebut nama zha sebagai topik utamanya.


Zha yang penasaran lantas maju ke barisan paling depan, dan ia memperhatikan semua foto yang ada disana. Yang tak lain adalah fotonya bersama om edo ketika dipanti bersama, bahkan saat itu om edo tengah menggenggam tangannya.


Tulisan itu terpampang jelas lagi seprti tulisan beberapa waktu lalu "Simpenan Om Om" tapi lebih besar dan begitu jelaa terbaca meski dari jarak kejauhan. Zha diam membatu. Justru dinda yang heboh terkejut dan berusaha membuka papan buletin yang tertutup kaca itu.


"Siapa saja, tolong buka pintu ini? Siapa yang beraninya_"


"Dinda, awas." Van maju dengan santai dan sejenak memperhatikan semuanya. Tatapan van semakin tajam, mengepalkan tangan penuh amarah tak tertahankan. Hingga akhirnya....


Pyaaarrrr! Kepalan tangan itu menyerang pembatas kaca yang ada disaana, tak perduli jika buku-buku jarinya terluka akibat pecahan kaca yang ada. Untung saja tak mengenai mereka yang ada disana.


"Kak van luka!" pekik dinda yang cemas karenanya. Sedangkan disana zha hanya diam seribu bahasa, tak meng'iyakan atau juga tak membantah dengan semua berita yang ada.


Zha segera meraih foto itu, lalu tersenyum menatap foto yang menurutnya indah. Karena saat itu ia melihat ketika om edo tengah menoleh dan menatapnya dengan senyum yang meski tipis sekali.


"Ya, zha kemarin memang jalan sama om edo. Kalian mau tahu siapa dia?" tanya zha dengan tenangnya. Semua mengangguk, dan bahkan beberapa memasang wajah geli dan jijik padanya akibat semua prasangka yang ada


"Dia om edo namanya. Orang yang bertanggung jawab atas zha setelah ayah meninggal."


"Apa hubungan kalian? Om dan keponakan?" celetuk salah seorang diantara mereka. Tapi zha hanya melengkungkan senyumnya diantara segala rasa penasaran yang ada.


"Siapa yang menempel foto itu disana?" tanya van dengan suara baritonnya. Untuk sekelas anak SMA, suara itu memang terdengar sangat dewasa.


Mereka semua menggelengkan kepala ketika van mulai bersuara. Mereka tertunduk takut, hingga lidya datang dengan segala perhatian yang ia tujukan pada sang pujaan hati.


Lidya heboh sendiri melihat luka van yang menurutnya menyakitkan, dan ya berusaha membujuk van ke UKS agar ia dapat segera membalut lukanya. Dan disela bujukan itu lidya terus saja tanpa henti mencerca dan menyalahkan zha dengan keadaan yang ada.


"Kembali ke kelasmu, Dya."


"Tapi kak_ kakak luka loh, dya mau bantuin..."


"Biar zha yang melakukannya." Van segera meraih tangan gadis itu dan membawanya ke Uks yang ada, seakan tak ada orang lain disana yang bisa mengambil alih semua darinya, dan hanya zha yang ada di fikirannya.


"Kenapa harus zha?"


"Kau yang membuatku memecahkan kaca itu,"


"Zha ngga minta. Kakak aja yang ngga sabaran pecahin kaca, kan dinda lagi tanya kuncinya."


"Dia hanya bertanya, tapi tak berusaha mencari seperti seharusnya." Zha tak menjawab lagi, dan saat itu ia fokus membalut semua luka van dengan segala peralatan yang ada. YAng bahkan van bahkan tak mau orang petugas lain menyentuhnya selain zha. 


Untung saja zha bukan gadis yang takut hanya dengan darah, dan ia sempat menjadi petigas UKS disekolahnya yang lama hingga dapat mengobati semua luka van dengan begitu baik.