
Hari berlalu sejak semua kejadian itu. Semua kekhawatiran mereka belum ada yang terbukti, mama ana tak sama sekali tampak atau melakukan apapun yang mungkin membahayakan zha atau lidya. Padahal para pria sudah seprotektif itu pada wanitanya.
“Kamu juga lebay,” tukas zha pada sahabat. Saat ini keduanya tengah berada disalon untuk merawat diri bersama, terutama lidya yang harus menjaga penampilan dengan pekerjaannya saat ini.
“Ya namanya firasat, Zha. Wajar aja kan kalau kita harus waspada, namanya juga sayang sama kamu.” Lidya mengomel sembari menikmati setiap pijatan ditubuhnya saat itu. Zha justru tertawa mendengar kekonyolan sahabatnya.
Hingga kedua pria mereka masing-masing menelpon disaat yang sama. “Ya, sayang?” panggil mereka berdua kompak. Kedua pria itu memberi kabar jika ada undangan malam nanti dan pasangan mereka harus ikut datang bersama. Apalagi zha yang tak pernah tinggal ketika ada acara bersama suaminya. Yang bahkan mereka selalu mendapat kursi istimewa dengan julukan pasangan paling romantis setiap harinya.
“Iya, ini kami lagi nyalon bareng sekarang. Paling bentar lagi pulang, atau cari gaun dulu sebentar,” jawab lidya pada calon suaminya.
“Ya, Sayang, nanti zha pulang.” Zha menyahut dengan obrolan bersama suaminya. Keduanya juga begitu kompak untuk menutup telepon bersama.
“Yaaah, acara lagi.” Zha melenguh mendengar semua ucapan suaminya.
“Kenapa, ngga mau dateng? Capek?” tanya lidya yang dibalas anggukan oleh zha. dan jujur memang ia sedikit lelah dan bosan berada di dalam pertemuan dan terus berjumpa dengan orang yang sama. Apalagi orang itu juga termasuk orang yang kenal dengan mama ana, seperti mereka akan terus mengawasi zha untuk melaporkan sesuatu padanya.
“Bua tapa mikir gitu? Katanya aku cemas, lebay. Kok sekarang kamu sendiri yang OVT sama orang-orang itu?”
“Gimana, namanya juga perasaan.” Zha hanya menghembuskan napas panjang menjawab semua ucapan lidya padanya.
Tak perlu waktu lama untuk mereka selesai melakukan semua perawatan itu. Lidya dan zha membersihkan diri dan bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing agar fres menuju pestanya nanti.
“Udah aku aja yang bayarin,” ucap lidya yang menepis tangan zha ketika mengeluarkan dompetnya.
“IIh, kok baik sekali loh wey? Sering-seringa aja kek begini,” tatap riang zha padanya.
“Ngga papa sesekali bayarin adek ipar nyalon, lagipula ini duit dari kakaknya.” Lidya membalasnya dengan tawa yang menggema. Ia merasa bangga ketika van sudah mulai mempercayakan kebutuhan rumah utama pada calon istri dan memberikan lidya semua Atm miliknya.
“Akulah yang akan menguasai istana itu nanti, menjadi ratu dan akan melahirkan pangeran tampan yang akan mewarisi kerajaan keluarga besar. Hahahaha!!” Lidya berusaha tertawa bak seorang antagonis dalam drama, namun zha justru tertawa lucu dengan ekspresinya saat itu. Ia bahkan menggelengkan kepala melihat tingkah kakak iparnya.
Lidya mengantar zha pulang, ia tak mampir karena lebih nyaman istirahat di rumahnya sendiri saat ini.”Sampai ketemu nanti malem. Dandan yang cantik ya,” lambai lidya padanya.
Zha membalas lambaian tangan itu lalu masuk kedalam rumah. Tak ada yang mencurigakan sama sekali, dan semua berjalan dengan semestinya tampak baik-baik saja. Hingga zha mengganti pakaian dengan sweater yang sering dipakai om edo dan hanya menggunakan celana pendek dibawahnya. Sweater itu menjelma seperti sebuah daster untuk zha.
Masih ada waktu beberapa jam lagi menuju pesta yang akan dihadiri. Zha duduk santai memainkan hp kemudian tak sadar tidur dengan begitu lelap di ranjangnya.
“Bik, Zha mana?” tanya om edo ketika pulang tanpa sambutan dari sang istri. Padahal zha biasanya segera turun dan menyambut ketika mobil om edo terdengar pulang.
Om edo hanya mengangguk, ia menaruh tas di sofa dan segera naik keatas menemui istrinya. Dan benar saja jika zha masih begitu lelap terbaring disana tanpa mendengar kedatangannyya.
Pria itu segera melepas jas, kemeja dan semua acesoris yang ada ditubuhnya. Bahkan terdengar dentinggan gesper yang jatuh ke lantai pertanda ia membuka celana bahan yang ia pakai dan segera menggantinya dengan celana yang lebih santai.
Ia yang lelah kemudian merangkak naik keatas ranjang dan menyusul zha tidur disebelahnya. Ia mulai memejamkan mata, namun yang ada malah zha terbangun ketika mencium aroma segar dari tubuh suaminya.
Cup! Zha jsutru mengecup om edo saat mulai akan memejamkan mata. bahkan tak hanya pipi, melainkan bibir juga ia kecupi beberapa kali dengan begitu gemasnya.
“Zha, aku lelah,” ucap om edo tanpa membuka matanya.
“Lah, zha justru akan menambah tenaga. Bukankah begitu?” goda zha menggelitik dada sang suami dengan jemari lentiknya.
Bugghhh!! Om edo mmebalik tubuh zha dan kini berada dalam kungkungannya. Kini tubuh pria itu berada diatas tubuh zha dengan posisi yang seakan bersiap untuk push up.
Zha menelan salivanya dalam-dalam.
“Kau sudah memancingku, padahal aku baru saja akan memberimu waktu istirahat.” Om edo membungkuk dan langsung merendah untuk bisa mengecuup leher zha.
Napas zha langsung membesar dan berusaha ia tahan ketika lidah suaminya ikut berperan dalam setiap kecupannya yang basah disana. Kecupan itu sangat lekat, bahkan tak hanya sekali dan berulang begitu intens.
“Aaaah!!” Zha mulai mendesaah, ia tak tahan dengan semua rasa geli yang tercipta disekujur tubuhnya. Apalagi ketika om edo menggigit kecil daun telinganya.
“Boleh?” Om edo masih sempat bertanya, dan mendapat anggukan dari zha yang bahkan begitu siap mengalungkan tangan di lehernyya.
Om edo tersenyum. Ia membelai kembali pipi cuby itu dan mencium bibirnya yang begitu candu, hingga tak tahan lagi tangan besar itu mulai menelusup ke dalam baju yang zha pakai untuk meraba bongkahan indah yang ada didalam sana. Langsung tepat sasaran karena saat itu memang zha tengah tak memakai bra sebagai penyangganya. “Nakal,” gemas om edo yang menempelkan hidung mereka berdua lalu menggesekannya.
Tangan besar itu meraba dan memelintir apapun yang ada disana, sedangkan zhha mulai terbuai dengan sentuhan itu hanya bisa memejamkan mata menikmati semuanya. Bahkan hanya bisa mendesaah lagi untuk mengungkapkan kenikmatan yang makin lama makin terasa disekujur tubuhnya.
Tubuhnya menggelinjang, menggeliat sampai mulut om edo saat ini mulai mendarat didadanya. Dengan lembut pria itu mulai mengecap benda indah itu hingga terdengar suaranya ditelinga zha.
Zha tak tahan lagi. Ia langsung menyingkap sweater yang ia pakai agar tubuhnya semakin bebas menantan oleh kecupan suaminya yang semakin membuatnya terbang melayang.
Tak sampai disitu saja, bahkan entah sejak kapan om edo mulai menurunkan celana pendek yang zha pakai hingga kini polos tanpa sisa balutan di tubuh indahnya. “Indah sekali.” Om edo berdiri memprhatikan seluruh tubuh itu hingga membuat tersipu malu pemiliknya.
Masih saja seperti itu. Zha mmebuang muka, menggigit bibir dengan wajah bersemu merah ketika om edo memperhatikan tubuh indannya.