I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Izin ke prom night.



Zha tiba di rumah. Yang bahkan ia segera turun dan berlari masuk ke dalam tanpa menawarakan van mampir atau sekedar berterimakasih sejenak. Namun ketika sudah naik tangga, ia menepuk dahi dan kembali turun karena ingat van yang pasti masih menunggunya disana.


"Astaga, lupa!" Zha berbalik lalu kembali pada van di mobilnya. "Kak maaf, zha lupa. Terimakasih udah antar zha, maaf kalau_"


"Ya, udah ngga papa. Zha istirahat dan belajar setelahnya, okey," balas van dengan senyu manisnya. Bahkan zha mengulurkan tangan untuk mencium tangan van, membuat pemuda itu seketika jantungnya berdebar tak karuan. Entah, om edo akan tahu atau tidak yang satu ini dan bagaimana responnya nanti.


Zha kembali masuk setelah van benar-benar pergi. Ia segera naik tangga dan tak menghiraukan wika yang sejak tadi melihatnya, hingga wika ikut naik keatas dan melihat keadaan zha disana. Tergesa-gesa, seperti orang dikejar sesuatu yang begitu menakutkan baginya.


"Menakutkan, Kak wika. Masa iya om ancem mau rontokin bulunya bear, janganlah. Kejam sekali," cicit zha yang saat ini memeluk bearnya usai mengganti pakaian. Ia juga menceritakan jika tadi zha memang mampir sebentar makan dengan van, tapi darimana om edo tahu jika ia disana saat itu. Apalagi dengan segala kondisi zha bersama siapa dan sedang apa.


"Apakah mata-mata om beku banyak? Dia mengawasi zha dari segala sisi dimanapun zha berada, dan seperti mafia yang tak pernah ingin gadisnya disentuh orang lain?" tanya zha yang mulai lebay mendramatisir keadaan.


Wika hanya bisa tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Ia merapikan kamar yang tampak berantkan itu, untung saja zha sudah makan siang hingga ia tak perlu naik turun untuk mengambilkan makan siangnya. Dan usai meracau tak jelas, zha tiba-tiba sudah memejamkan mata memeluk bearnya.


"Anak ini... Kapan dewasanya? Dia masih begitu butuh ayahnya untuk mendampingi setiap proses pendewasaan yang seharusnya oleh mama. Tapi, memang hanya ayah yang ada. Beruntungnya, aku bisa ikut andil dalam mendidiknya saat ini. Belajar bagaimana caranya mengurus anakku nanti," ucap wika yang kemudian membelai wajah mulus zha dengan tangannya.


Wika Wanita yang memang sudah cukup dewasa. Dengan usia yang sudah cukup matang 25tahunan, apalagi mendapatkan om yan yang lebih dewasa dan membimbingnya selama ini. Wika memang datang sejak usianya belia seperti zha, ikut ibunya menjadi asisten rumah tangga disana. Tapi, ibu wika hanya bertahan beberapa tahun karena sakit dan akhirnya meninggal. Bersyukur semua keahliannya diturunkan pada wika. Dan wika bertahan disana dengan posisinya meski meski pendidikannya sudah tinggi saat ini.


Wanita itu turun membiarkan zha dengan istirahatnya. Ia duduk sejenak mengistirahatkan diri dan sesekali berbalas pesan pada sang kekasih. Om yan memang begitu hangat hingga membuat siapapun yang ada disekelilingnya nyaman, tapi om edo sebenarnya sama meski lebih banyaj dinginnya.


Wika sama sekali tak pernah menuntut kapan ia akan dinikahi. Asal mereka masih bersama dan o yan setia padanya itu sudah cukup. Mereka hanya tinggal menunggu waktu untuk Bersatu, dan pasti itu tak akan lama lagi.


"Kau sedang apa? Zha sudah sampai?" tanya om edo yang mendadak juga mengirim pesan padanya. Mungkin ia menelpon zha, tapi tak sempat dijawab hingga mempertanyakan semua padanya. Untung saja wika masih sadar dan tak terlena hingga tak salah mengirimkan balasan chat antara keduanya.


"Zha sedang tidur. Dia nyaris ketakutan tadi karena ancaman yang Anda berikan," lapor wika.


"Aku sebentar lagi pulang," balas om edo, dan setelah itu tak ada kata lain lagi yang ia ucapkan dan wika melanjutkan obrolannya pada sang kekasih yang ada di sebrang sana.


**


"Van, gimana ujiannya? Lancar?" tanya mama ana yang mendatangi van di kamarnya. Ia mengantarkan makan siang tanpa van minta, karena itu sudah menjadi kebiasaannya selama ini untuk mendekatkan diri pada sang putra.


"Van sudah makan siang. Jadi bawa itu kembali," titahnya dengan terus membaca buku yang ada didepan mata. Mama ana sangat senang melihat semua perubahan van saat ini, perkambangan begitu pesat terutama semangat untuk belajar dan menjadi lebih baik. Bahkan ia amat penasaran dengan gadis yang di dekati van saat ini.


"Van, kapan mau ajak dia kesini? Mama penasaran pengen_"


"Kami sedang ujian, dan dia bukan gadis yang dengan mudah dibawa kemana saja," jawabnya datar.


"Wah, berarti keluarganya bagus. Bisa menjaga anak gadis mereka dengan baik hingga tak mudah_"


"Yatim piatu?" tatap mama ana yang mimic wajahnya seketika berubah membayangkan gadis itu.


"Ibunya pergi meninggalkan dia sejak bayi," jawab van.


"Aaah, begitu_" obrolan keduanya memang begitu dingin, dan jarang sekali hangat seperti ibu dan anak sungguhan. Van yang masih amat sulit menerima mama ana sebagai mamanya. Tapi mama ana akui, untuk menjawab semua pertanyaan mama ana saja itu sudah sangat luar biasa untuknya.


Mama ana tak melanjutkan lagi obrolan mereka karena tak ingin mengganggu fokus van saat ini. Ia ingin van lulus dan segera menempuh Pendidikan di luar negri seperti cita-cita ayahnya, dan ia akan segera menjalankan perusahaan mereka sebagai pengganti sang ayah yang sebenarnya sudah ingin pension sejak lama.


Van adalah satu-satunya pewaris mereka, karena mama ana tak bisa memiliki anak lagi sejak rahimnya diangkat sepuluh tahun lalu. Pernah beberapa kali hamil, bahkan sampai usia Delapan bulan dan sudah begitu siap menyambut kelahiran, namun ada saja yang membuatnya kehilangan bayi yang ia kandung saat itu. Hingga yang terparah adalah ketika rahimnya harus diangkat dan ia tak akan bisa hamil lagi selamanya. Dan untuk adopsi, ayah van tak mau karena menurutnya anak panti itu tak jelas asal usulnya.


Hari demi hari terus berganti diantara mereka. Ujian bahkan sudah akan selesai, dan zha kan menjalani libur panjang seteahnya. Tapi ia tak minta kemana-mana, ia janji akan dirumah dan fokus untuk masuk ke Universitas negri sesuai janjinya pada om edo. Namun, hanya satu yang ia minta saat itu, yaitu ia di izinkan datang ke prom night bersama para sahabatnya yang lain.


"Ayolah, Om... Zha janji ngga macem-macem disana. Zha duduk dan hanya pengen ikut acaranya aja, maren kan udah om larang untuk perpisahan sama temen lama zha. Masa, sekarang juga ngga boleh," tunduk zha dengan terus menggenggam erat tangan omnya.


"Kau sama sekali tak tahu bagaimana disana, Zha."


"Iya, karena ngga tahu makanya zha penasaran. Zha janji jaga diri. Lagian disana ada dinda sama_"


"Siapa? Berandal itu?" tanya om edo dengan wajah datar, seakan begitu segan hanya untuk menyebut nama van dari mulutnya.


"Om jangan gitu, Jangan asal menilai orang sembarangan loh. Om juga, pasti pernah berandal pada masanya." Zha membela van didepan om edo, dan itu sontak membuat om edo menghela napas berat mendengarnya. Seberandal apapun ia dahulu, ia selalu sekolah dan lulus tepat waktu sesuai usia yang ditentukan sekolah. Sedangkan van?


Tapi om edo hanya diam dan tak mau berdebat saat ini. Ia kesal jika zha akan selalu membela pria itu tanpa henti di depan matanya dan itu akan menimbulkan emosi.


"Kapan acaranya? Perhatikan apa saja yang harus digunakan, dan beli gaunnya dengan wika."


"Hah!! Serius? Om beneran bolehin zha ikut acara itu?"


"Jika tak mau tak apa. Aku masih bisa menarik izinku,"


"Jangan!! Please jangan. Terimakasih, Om..." ucap zha yang seketika berlari meninggalkannya diruang kerja untuk mencari wika. Namun, hanya beberapa menit zha kembali lagi dan menatapnya dengan senyum bahagia.


"Apa?" tanya om edo mengerenyitkan dahinya, apalagi ketika zha mendekat.


Cup!! Sebuah kiss manis mendarat di pipi om edo saat itu. Kecupan manis yang pertama kali zha berikan padanya entah sebagai apa. Membuat jantungnya berdebar dengan begitu kuat bahkan ia merasakan sakit karenanya.


Setelah itu, dengan wajah merah merona zha berlari lagi meninggalkannya.