I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Tak mau mendengarkan penjelasan



Zha tenggelam. Ia masih bisa membuka mata dan menatap buliran air, menggambarkan sudah berapa dalam ia jatuh. Ia ingin berteriak, namun menghembuskan napas saja sudah tak bisa saat itu. Ia ingin berenang, tapi gaun yang ia pakai justru membawanya untuk lebih dalam bahkan hingga nyaris ke dasar.


"Om beku," panggil zha dalam hatinya saat itu.


Hingga sebuah tangan meraih dan menggenngam tangan zha. Semakin dekat, lalu meraih pinggang zha untuk membawanya keatas.


"Aaaahh! Haaah! Haaah! Siapapun, tolong zha!" pekik van yang memanggil semua orang disana. Tapi mereka tak mau basah, hanya dinda yang kemudian meraih tangan zha untuk ia naikkan ke tepi kolam.


"Terimakasih," ucap van yang kemudian juga naik. Ia melepaskan jas yang ia pakai, lalu mencoba menyadarkan zha yang pingsan saat itu juga.


"Uhuk! Uhuk... Uhukk! Kak van?" panggil zha lemah. Tapi hanya sebentar, karena setelah itu ia pingsan lagi..


"Pesankan kamar untuk ku," ucap van pada dinda. Yang saat itu juga mengikutinya ketika membawa zha pergi dari sana.


Dinda berlari, mengukuti langkah panjang van. Ia menuju receceptionits untuk memesankan kamar, lalu kembali pada van yang sudah menunggu di liftnya. Bahkan van meminta dinda mengambilkan pakaian yang ada dimobil, untuk ia kenakan dan untuk ganti zha meski alakadarnya. Nanti van akan menghubungi om edo atau siapapun, bahkan mungkin mamanya mengantarkan pakaian yang pantas untuk zha.


Dinda menurutinya. Ia kembali keluar dari lift dan menerima kunci mobil van dan mencari pakaian untutknya. Kemudian ia naik lagi menuju kamar van dan zha yang masih ia ingat nomornya.


Van menjatuhkan tubuh zha di ranjang. Ia menunggu dinda yang akan mengganti pakaian zha, meski ia takut jika zha akan hipotermia saat ini. Ia duduk, menghembuskan napas ke telapak tangannya kemudian mengusapnya pada zha agar ia sedikit hangat. Hingga akhirnya dinda datang mengetuk pintu dan masuk.


"Hanya ketemu ini," ucap dinda memberikan kemeja putih pada van.


"Pakaian pada zha. Dia kedinginan, bisa?"


"Ya," angguk dinda padanya. Van kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya sendiri, sedangkan dinda perlahan mengganti pakaian zha meski hanya dengan kemeja kebesaran milik van padanya. Setidaknya zha tak kedinginan, lalu dinda menutup tubuh zha secara penuh menggunakan selimut yang ada disana.


"Kak Van, dinda balik ke pesta ya?" panggil dinda untuk pamitan.


"Ya, terima kasih." Van menjawab sebisanya karena ia sendiri tengah sibuk saat itu.


Dinda keluar dari kamar itu dan kembali pada pestanya dibawah sana. Bergabung dengan teman yang lain dan menikmati semua sajian yang ada.


Van keluar dari kamar mandi. Ia hanya mengenakan celana panjang tanpa atasan, dan ia duduk di dekat zha yang masih terbaring disana. Punggung tangan menyentuh dahi zha, memastikan ia tak kedinginan lagi saat ini.


Hingga ia mendengar pintu kamarnya saat itu tengah dibuka dari luar. Terdengar jelas, hingga ia memastikan itu bukan pembobolan orang asing melainkan petugas hotel itu sendiri.


Kreek! Pintu terbuka tepat ketika van didepannya. Yang tampak pertama kali adalah om edo yang menghampiri.


Tanpa suara om edo melempar tubuh itu ke hingga membentur dinding lalu terjatuh ke lantai dengan begitu kuatnya.


"Aaarrrkkh!" Van memekik memegangi bahunya.


Bahkan van belum sempat bertanya ada apa ketika om edo meraih zha. Ia membungkus tubuh zha dengan selimut tebalnya kemudian melangkah cepat keluar dari kamar itu tanpa sepatah katapun terucap dari bibirnya. Bahkan tatapannya sama sekali tak menoleh pada van yang meringis kesakitan disana.


"Tuan?" panggil om jek, yang menunggunya di luar. Saat itu om edo tetap diam dan ia mengikuti langkah bosnya itu dari belakang hingga turun kembali menuju mobilnya.


Hingga tiba dirumah, zha belum sadar dari tidurnya. Ia diturunkan di ranjang hingga wika yang mengganti pakaian zha dengan yang lebih bersih saat itu.


"Periksa, ada apa saja ditubuhnya." Om edo memerintah dengan penuh curiga kemudian keluar dari sana.


Wika hanya menelengkan kepalanya. Tapi ia tetap melakukan perintah sang tuan dengan baik untuk memeriksa tubuh zha, dan ia tak menemukan apapun disana. Dan wika segera melaporkan semua pada om edo saat itu juga.


"Ada apa?" tanya wika melihat kegalauan bosnya.


"Seseorang menelponku, jika zha mengalami sesuatu dipesta. Ia tenggelam, dan pemuda itu menyelamatkannya. Tapi_"


"Tapi apa? Bukankah dia baik karena telah menyelamatkan zha? Kenapa berfikiran buruk?" tanya wika, tapi masih dengan nada lembutnya.


Om edo hanya diam, menatap keluar kaca dari kamarnya. Entah apa yang ia bayangkan, dan entah mendapat laporan apa dia dengan mereka berdua.


"Tuan curiga mereka berbuat apa? Zha tak akan mungkin melakukan itu semua. Saat ini saja zha masih belum bangun," bela wika pada gadisnya.


"Entah... Tapi laporan itu membuatku gundah saat ini, Wika. Apa mungkin, jika zha tak merasakan ketika_"


"Saya sendiri merasa kecewa dengan pemikiran Tuan saat ini." Wika justru mengungkapkan rasa kecewanya. Bahkan ia pergi tanpa pamit dengan segala amarah yang ada dalan hatinya.


Wika berusaha bagaimana caranya agar zha bangun secepatnya, karena jika pingsanpun itu sudah terlalu lama. Bahkan seperti orang yang tidur begitu pulas saat ini.


Tak hanya om edo, saat itu van juga bertanya-tanya atas apa yang ia terima. Meski tak terluka, tapi tubuhnya sakit semua karena ulah om edo padanya.


Van bertanya, bagaimana om edo bisa datang dan bahkan menatapnya penuh kemarahan? Apalagi menghajarnya hanya dengan cengkraman tangan. Hanya pria marah yang bisa seperti itu, tapi ia tak pernah merasa bersalah apapun padanya.


"Hanya melihat zha, apakah bisa semarah itu? Padahal aku belum sama sekali memberi penjelasan padanya."