
"Pagi_" sapa zha dengan cerianya pagi ini. Dengan senyumnya yang merekah, dan wajahnya yang tak lagi bengkak di area mata karena semalam wika mengompresnya. Itu karena zha nekat akan sekolah dan sayang jika harus libur karena sudah mepet waktu untuk ujian akhir sekolah.
Apalagi hari ini zha sudah memakai hp barunya, yang jelas lebih canggih dari mereka semua dan keluaran terbaru dari yang paling baru dibandingkan milik teman yang membullynya kemarin. Saat itu juga wika mengingatkan agar menjaga hp itu dengan baik. "Kau tahu harganya mahal, bahkan bisa untuk membeli motor baru cash." Sambung om edo dengan ucapan wika.
"Bahkan zha minta motor seken ngga dibeliin,"
"Segera makan, taximu menunggu diluar. Jangankan motor baru, menjaga diri dibully saja belum bisa." Om edo kembali menyindir hingga membuat zha memanyunkan bibir.
"Udah ih, berantem mulu. Kapan akurnya, heran deh..." tegur wika pada keduanya.
Om edo dna zha kemudian kompak untuk segera mengahbiskan sarapan mereka yang sejak tadi terhidang diatas meja. Zha begitu lahap, baginya ia harus memiliki energi yang cukup untuk menghadapi hari yang menurutnya keras itu. Ia harus bisa melawan, apalagi om edo sudah memberikan akses dan mengizinkan perlawanan itu jika memang harus terjadi.
"Aaahh, kenyang. Om Salim." Zha megulurkan tangan dan om edo memberikannya. Zha cium, lalu ia berdiri untuk pergi menuju sekolah dengan riang gembira bersama taxi pertamanya.
Ya, sesuai dengan apa yang telah disepakati jika zha memiliki taxi pribadi saat ini yang akan mengatarnya kemana saja. Mungkin sesekali om edo, Om yan atau om jek akan mengantar atau menjemputnya. Dan saat ini zha telah tiba disekolah dan berjalan masuk kekelasnya.
"Zha, masuk?" sapa dinda yang sudah duduk dibangku mereka berdua.
Zha mengangguk, lalu dinda menarik kursi untuk zha duduki saat itu. Zha hanya tersenyum, menceritakan alasannya untuk tetap masuk hari ini hanya karena bosan dirumah dan sayang dengan mata pelajaran yang ada.
"Rumah segede selengkap itu kamu bosen?" tanya heran dinda padanya.
"Ya, ngga ada temen. Yang ada kak wika sama asisten rumah tangga lainnya. Mau keluar aja ngga bisa, malah dicariin taxi pribadi demi ngga minta motor." Zha merapikan meja dan saat itu membuka hpnya untuk mengabari om edo jika ia telah masuk kedalam kelas itu.
Dinda tak berkata apa-apa. Dia hanya melirik hp zha dan berkedip sesekali mengaguminya, dan ia tahu harga hp itu begitu mahal dab bahkan jauh lebih mahal dari hp siswa lidya dan teman-temannya. Dia bahkan hanya menelan saliva dan tak membayangkan jika ia juga menginginkan hp itu pada papanya.
"Zha?"
"Ya, Din... Ada apa?" Zha sedikit memutar badan dan memperhatikan sahabatnya yang akan bicara. Sepertinya serius, hingga ia akan mendengarkannya dengan seksama.
"Mengenai kak Van. Sebaiknya kamu jangan terlalu deket sama dia deh,"
"Lah, kenapa? Dia baik sama aku dan kamu. Perhatian, dan_"
"Perhatiannya Cuma sama kamu aja, zha. Sama aku engga," kilah Dinda dengan ucapannya. Dinda menceritakan mengenai van pada zha, mengenai van yang dikenal nakal, tak patuh dan usianya yang sudah jauh lebih dewasa diantara mereka. "Dia itu tukang php sama cewek. Aku takutnya abis ini kamu yang kena sama dia, karena dia ketara banget lagi deketin kamu sekarang," imbuh dinda padanya.
Zha hanya bengong dan terus mencerna semua ucapan yang dikeluarkan oleh dinda. Seakan tak percaya, dan dia sama sekali tak menangkap gerak gerik van itu seperti yang di utarakan oleh dinda saat ini. Insting zha menyatakan semua Tindakan van tulus padanya. Meski, van juga justru sempat meminta zha agar tak terlalu dekat dengan dinda.
Dan saat itu juga van belum datang padanya. Padahal mereka berdua selalu bertemu di gerbang dan masuk kelas bersama. Apa yang terjadi pada van, dan itu sangat membuat zha penasaran. Apakah yang dikatakan dinda benar, apalagi kenyataan jika memang lidya begitu mengejarnya. Dinda bilang itu semua karena sudah terlanjur diberi harapan oleh van..
Pelajaran berlangsung. Dan hingga istirahat tiba, zha belum juga melihat sosok van menyapanya. Padahal biasanya ia ada di balkon, setidakya ia tidur walau tak mengikuti pelajaran seperti seharusnya.
"Cari kak van?" tanya dinda yang menghampiri dengan nampan berisi makanan.
"Seharian belum lihat. Dia kemana? Aku juga belum kasih nomor hp baru, dan ngga hapal nomor dia."
"Sayangnya aku ngga pernah simpen nomor kak van dihpku. Aku ngga pernah ada berhubunga sama dia," balas Dinda yang menunjukkan daftar nomor di hpnya agar zha percaya.
"Hp jelek dipamerin. Kasihan noh, yang hpnya_"
"Ini?" tanya zha ketik mengeluarkan hp barunya. Lidya and the geng langsung tercengang diam dengan apa yang dimiliki zha saat ini.
"Lebih bagus dari punya kamu ngga sih? Itu keluaran terbaru," bisik sahabat dya bersahutan.
"Diem! Iiiih..." Dya kesal, menghentakkan kaki lalu pergi meninggalkan mereka yang ada disana.
"Zha, hati-hati loh. Nanti_"
"Udah, ngga ada yang iri. Hp ini punya pelacak, jadi ngga akan gampang dicuri sama orang," ucap zha yang kemudian melanjutkan makan siang mereka. Memang sepi, tanpa kehadiran van yang selalu menemani hampir setiap hari.
Sementara itu disebuah hotel, beberapa orang penting tengah mengadakan sebuah pertemuan. Hotel mewah sudah di design dengan begitu mewah, dan undangan mulai berdatangan disana termasuk om edo bersama sekretarisnya. Mereka membicarakan mengani penanaman modal, dan pengembangan usaha yang akan dilakukan keluar negara.
"Selamat siang, Tuan Lazuardo. Senang bertemu dengan anda disini," sapa direktur hotel itu padanya. Begitu ramah, tapi om edo tahu jika pria itu begitu obsessif dengan apa yang ia inginkan. Ia akan berusaha sekuat tenaga mencapai apa yang ingin ia raih.
"Tuan Raka, saya juga senang bisa bertemu dengan anda." Om edo berusaha membalasnya dan kalah ramah. Ia kemudian dipersilahkan duduk, bahkan di kursi paling depan dengan bangku VVIP yang telah disediakan berikut beberapa pengusah besar lain disana.
"Dia?" Om edo menangkap seseorang yang sempat ia lihat, bahkan ia amat ingat ketika pemuda itu berani didepan matanya menggenggam tangan zha.
"Itu putra tunggal keluarga Sambodo. Yang pasti akan menjadi pewaris perusahaan alat berat mereka nanti. Bahkan, kita juga bekerja sama dengan ayahnya di anak cabang yang ada di luar kota." Rania menerangkan apa yang ia ketahui tentang pemuda itu, yang tak lain ada Van_Zavan Patria Sambodo.
" Tapi, kenapa dia satu angkatan dengan zha? Memang aku curiga ketika dia terlihat lebih dewasa dari seharusnya. " Om edo mengerenyitkan dahi, dan ia meminta Rania terus mencari semua info mengenai van secepatnya.