I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Ngidam bau suami



“Bik, bibik!”


“Ya, Nyonya?” tanya bibik yang segera menghampiri zha ditempatnya, apalagi ia khawatir karena zha turun dari kamar tergesa-gesa seperti mencari sesuatu yang hilang dan begitu ia inginkan.


“Baju papi yang kemaren sore mana?”


“Lah, ya sudah bibik cuci, toh yo. Kenapa?”


Zha tampak menggaruki kepalanya kesal. Entah kenapa seperti ia tertekan hingga kepalanya sakit saat ini, bahkan berjongkok seperti ingin menangis.


“Nyonya kenapa?” bibik semakin cemas padanya.


“Bajunya, zha mau. Kenapa bibik cuci semuanya?” rengek zha.


“Kan kotor, makanya bibik cuci. Kirain Nyonya bakal mual cium baunya,”


“Engga, zha suka. Ini malah pusing kalau ngga cium bau sama peluk bajunya. Gimana? Mana papi pulangnya masih lama lagi.” Zha tampak lemas seolah kehilangan tenaganya. Wajah itu pucat, dan benar saja ia segera berlari menuju wastafel dan muntah sejadi-jadinya disana bahkan sampai perih di kerongkongannya.


Bibik merasa bersalah dengan itu semua, ia berusaha mencari cara agar zha sembuh dan tenang saat ini. Ia naik ke balkon dan mencari pakaian sang tuan yang menurutnya masih bau keringat, namun sudah tak ia temukan lagi. Semua sudah bersih dan wangi, bahkan nyaris kering.


“Bik…” panggil lemah zha padanya, dan kemudian bibik turun lagi menghampiri.


“Ya, Nyonya?”


Zha hanya meminta air hangat dan dibawa ke kamarnya saat itu juga. Dan agar terjaga tetap hangat, zha meminta bibik menaruh kedalam tumblet imut miliknya.


Saat ini kehamilan zha sudah menginjak 4bulan, dan ia masih mabuk jika tak mencium bau keringat suaminya sehari saja. Bahkan kadang ia menangis jika sang suami keluar kota dan tak mendapat apa yang ia inginkan saat itu juga.


Zha tak begitu banyak ngidam aneh dan merepotkan, hanya bau suami yang harus menemaninya setiap hari. Bahkan ia enggan terlalu banyak keluar dan memilih rebahan memeluk kemeja bekas yang om edo pakai. Rasanya begitu segar.


“Nyonya, ini air hangatnya,” ucap bibik yang masuk ke kamar Zha.


“Ya, terimakasih ya, Bik.”


Bibik langsung pergi dengan perasaan tak enak hati. Ia tahu beberapa kebiasaan aneh zha ketika hamil, dan ia merasa amat ceroboh dengan kejadian saat ini hingga membuat sang nyonya lesu dan seakan tak bertenaga sama sekali.


“Hallo, Papi!”


“Ya, Sayang, kau sedang apa? Kenapa lesu sekali?” tanya om edo yang cukup cemas melihat kondisi sang istri saat ini. Terbaring lemah di ranjang terkulai seperti kehabisan tenaga, padahal semalam mereka tak melakukan apa-apa.


Dan satu lagi yang aneh dari zha adalah, hormonnya yang semakin tinggu membuatnya semakin rajin memberi jatah suami. Entah, kenapa bisa seperti itu, tapi yang jelas menurut dokter itu aman. Hanya saja harus menjaga diri agar tak terlalu over dalam setiap permainan keduanya, karena takut janin yang akan terimbas nanti.


“Tidak, kenapa?”


“Pulang, bentar aja. Zha mohon,” rengeknya manja.


“Hey, tak bisa begitu. Jangan mentang mentang aku direktur, hingga aku bisa seenaknya pulang pergi sesuka hati.”


Namun seolah tak mendengar, zha saat itu menaruh hpnya didepan dan ia ganjal dengan bantal. Ia duduk bersila mengikat rambutnya yang berantakan hingga memperlihatkan lehernya yang jenjang. Saat itu juga zha membuka beberapa kancing daster yang ia pakai hingga memperlohatkan belahan dadanya yang indah.


“Syang, hey… Tak boleh begini. Aku janji nanti akan segera pulang dan langsung memelukkmu, okey?”


“Maunya sekarang!” paksa zha padanya. Bahkan ia meraih air hangat, meminum dan sedikit menumpahkannya hingga mengalir dari leher menuju dada.


Om edo langsung menelan saliva, dan serasa langsung meremang dibuatnya. Bahkan sesuatu langsung terasa sesak dan nyeri dibawah sana dan susah untuk mengendalikannya.


“Pulang ngga? Kalau engga, bahkan nanti malam ngga usah pulang.”Terdengar bernada ancaman hingga membuat om edo sedikit ngeri. Bukan masalah hormt, hanya saja zha memang butuh perhatian lebih saat ini.


“Oke… oke, aku pulang. Tunggu di rumah,”


“Okey sayangku, papinya baby.” Zha tersenyum bahagia mendengarnya, apalagi melihat wajah tampan sang suami yang hingga saat ini masih saja menggetarkan hati.


Zha langsung bersemangat dan bangun dari ranjangnya. Ia berdiri terus didepan jendela dengan air minumnya hingga sang suami tiba. Seperti ia tengah menunggu sesuatu yang amat ia inginkan. Tapi ini bukan perkara sesuatu.


Hingga tak berapa lama kemudian mobil sang suami datang dan masuk ke halaman rumah. Zha lantas tersenyum, lalu ia berlari turun untuk menyambutnya saat itu juga. “Papi!” sambut zha yang langsung melebarkan kedua tangannya.


Om edo langsung datang dan menjawab pelukan zha saat itu jugam bahka mengecupi kepalanya dengan begitu gemas. Apalagi tadi baru saja dipancing oleh sesuatu.


Zha melepaskan pelukan, menciumi aroma tubuh suaminya yang masih terbungkus oleh kemeja. Rasanya begitu tenang dan damai, tak seperti tadi yang bahkan kepalanya sampai nyeri. Dan zha dengan cepat membuka satu persatu kancing kemeja itu dengan tangannya.


“Hey, ini diluar. Malu dengan bibik,” bisik om edo pada istrinya yang tampak tergesa-gesa.


Tapi zha tak menghiraukan itu semua. Ia terus membuka jas dan kemeja itu hingga kemeja yang om edo pakai segera zha dapatkan. Puas, zha langsung semringah memeluk dan mencium aroma yang ada disana.


“Sudah, Papi boleh balik ke kantor lagi setelah ini.” Zha begitu santai mengucapnya seperti tak terjadi apa-apa.


“Hey!! HAissh.. Kau ini,” geram papi.


Tak hanya zha yang tertawa puas melihat ekspresi suaminya, melainkan bibik juga tersenyum sembari memberikan jas ganti untuk sang tuan.


“Menyebalkan!”