I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
I Love You Om edo



Van menyetir dengan kekuatan yang cukup tinggi membelah jalanan kota yang padat merayap di siang hari ini. Meski sedikit lega karena telah membongkar siapa dinda pada zha, tapi masih ada saja yang mengganjal dalam fikirannya saat ini.


“Aku yang mengajaknya perg, mengajaknya masuk dan bahkan menjelaskan semuanya. Tapi dia tak memelukku sama sekali dan bertahan untuk tak menangis meski matanya berkaca-kaca. Tapi kenapa langsung memeluk om edo dan menangis sejadi-jadinya ketika ia datang?”


Pertanyaan itu terus meggelanyut di dalam fikiran van saat ini. Hatinya cukup sesak ketika membayangkan kejadian barusan, ketika ia hanya bisa menoleh dan melihat zha menangis dalam pelukan om edo, padahal van ada tepat di sebelahnya. Ia cemburu, itu jelas terlihat dari pandangan matanya. Rahangnya yang tegas itu seketika mengeras, dan bahkan ia mengepalkan tangan ketika semua itu terjadi.


Hingga mobil van berhenti dan ia masuk ke garasi rumahnya. Ia berdiam sendiri sejenak di dalam mobil sembari meletakkan kepalanya di setir. Ia memejamkan mata, berusaha menenangkan ahtinya yang begitu gundah gulana.


“Sayang, Van… kamu sudah pulang? Kenapa tak langsung masuk?” sapa mama ana yang tanpa izin membuka pintu untuk putranya.


“Van kenapa?” tanya mama ana yang melihat kesedihan van disana. Tapi van hanya diam, mengangkat kepala dan kemudian keluar dari mobil tanpa memperdulikannya.


“Seharusnya sudah sekian lama bersama, Mama tahu kapan momentku tak ingin diganggu oleh siapapun.” Van terus meracau sembari berjalan meninggalkan monbilnya.


Mama ana mengikuti, dan ia terus bertanya ada apa dengan van saat ini. Apalagi van keluar dengan penuh semangat dan antusias, tapi pulang dengan wajah yang muram seperti tengah kesal atau jengah pada sebuah keadaan.


“Mama nanya, Nak. Van kena_” Ucapan terhenti ketika van menutup pintu kamarnya dengan kasar. Untung saja wajah mama ana tak terluka akibat terbentur pintu saat itu.


Van segera membuka kemeja yang ia pakai, dan langsung memperlihatkan otot tubuhnya yang tercetak dengan cukup sempurna. Ia langsung merabahkan diri di ranjang dan mengadahkan kepala kembali memikirkan zha. Seandainya zha masih memberinya kesempatan bicara, pasti tak akan mengganjal seperti ini rasanya. Van hanya ingin mengungkapkan perasaannya pada zha, yang selama ini ia pendam dalam hati.


Pemuda itu bahkan tak ingin hanya sekedar berpacaran kali ini. Bersama zha ia ingin serius dan bahkan ingin terus bersama saling menemani hingga ke jenjang yang lebih indah nantinya. Ia menjalankan perusahaan ayahnya, dan zha menjadi perawat seperti cita-citanya. Seperti sebuah perpaduan sempurna dari mimpi mereka, dan bahkan sempat membayangkan akan membuat sebuah Yayasan bersama.


“Bukankah itu indah, zha?” gumam van memejamkan mata.


Rupanya saat itu mama ana tahu dan dengar gumaman van didalam kamarnya. Ia membuka sedikit pintu kamar van, untung saja sang putra tak mendengarnya saat itu hingga kembali menimbulkan masalah diatara keduanya.


“Zha? Sejak kemarin selalu zha. Siapa gadis itu sebenarnya?” lirih mama begitu penasaran akan siapa yang disukai putranya. Bahkan ia mungkin akan berusaha mempersatukan mereka, asal itu bisa memperbaiki hubungan keduanya. Ya, mama akan cari tahu siapa gadis bernama zha itu dengan usahanya sendiri.


Sementara yang van khayalkan saat ini masih asyik bersama omnya. Mereka tengah menikmati hari libur bersama yang amat jarang mereka berdua dapatkan.


“Kenapa om belum menikah? Om menunggu seseorang? Apa itu zha?” Gadis itu terus memberondong pada om edonya. Ia berjalan mundur mengiringi om edo yang berjalan maju dan masih berada dibibir pantai yang indah tadi. Di iringin suara deburan ombak merdu dan hembusan angin yang menerpa tubuh mereka.


“Kenapa kau bertanya? Kau mau ku nikahi? Bahkan kau sendiri belum dewasa, kenapa beraninya bertanya mengenai pernikahan?” jawab om edo yang berjalan santai mengantongi tangannya di saku celana bahan hitam yang ia pakai.


Penampilannya memang agak santai tak seperti biasa yang selalu memakai jas, dan saat ini hanya mengenakan kemeja meski masih terlihat formal. Namun sesuai dengan usianya yang matang.


“Zha udah dewasa, udah punya KTP juga.”


“Mcckk! Selalu saja meremehkan,” decak kesal zha mendengarkan ucapan omnya.


Mereka terus seperti itu, berjalan terus tanpa tujuan dipinggiran pantai yang panjang tanpa ujung. Zha membolak balik tubuhnya saat itu, sesekali maju dan sesekali mundur lagi agar dapat terus menatap omnya. Ia masih mengincar senyum yang muncul sesekali itu, ia masih penasaran bagaimana senyum itu bisa terukir indah dalam waktu yang cukup lama untuknya.


“Arrrkkhh!” Zha memekik. Tungkainya mendadak tersandung oleh tumpukan batu yang entah darimana, padahal disana hanya ada hamparan pasir yang luas.


Tubuhnya terjatuh kebelakang, untung saja dengan sigap om edo segera menangkap, memegangi lengan dan pinggangnya. Hingga seketika tatapan mereka bertemu, mata bertemu mata terutama om edo dengan tatapan khawatirnya.


“Om?”


“Kau tak apa?”


“I Love You Om edo,” ucap zha padanya.


Dan benar saja usaha zha. Ucapan itu melengkungkan senyuman indah om edo untuknya, begitu manis seperti sirup segar di bulan puasa yang penuh dengan pesona. Om edo segera menarik zha agar berdiri kembali dengan tegap, lalu berhadapan dengannya.


Tukk!! Jemari besar om edo menyentil dahi zha saat itu juga hingga membuat zha meringis kesakitan.


“Aaah… Kenapa malah disentil? Kejamnya!”


“Kau… Beraninya main-main denganku. Ayo pulang,” ajak om edo, yang lalu membalik badan dan meninggalkan zha ditempatnya.


“Om! Itu tadi gimana? Balesin dulu, masa gitu?” Zha sampai berlari untuk menyeimbangkan Langkah cepat omnya.


“Ayo pulang, nanti pengasuhmu cemas mencari. Bahkan dia bisa menangis hanya karena taka da kabar darimu.”


“Tapi… Yang itu… Om!!”


“Zhavira!!!”


“Iya,” jawab gadis itu yang kemudian menggandeng lengan besar om edonya. Pria itu meraih kepala zha dan beberapa kali mengusap rambutnya.


Andai ada wika, pasti ia sudah mengabadikan semua moment yang ada dan mengirimkan semua pada mamas yan nya.