I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Demit!



Pulang dari Rumah sakit Zha pamit pada mereka berdua. Ia entah kenapa ingin sekali menghampiri sang suami untuk mengajaknya makan siang bersama. Toh, lidya bersama van dan ia ingin membberi kesempatan untuk mengeratkan hubungan mereka berdua meski bolak balik cemas mengingat mamanya disana.


“Ah, pasti bisa kalau lidya mah.” Zha berusaha menyingkirkan perasaan khawatir dihatinya.


Sementara itu van dan lidya sudah tiba dirumah mereka. Disambut mama, lidya tampak begitu tenang mendorong kursi roda ayah sam untuk masuk kedalam bahkan menuju kamarnya. Ia menidurkan ayah sam disana lalu meninggalkannya sejenak untuk mengambil air putih untuk obat yang harus segera ia konsumsi saat itu juga.


“Rajinnya yang lagi cari muka,” sindir mama ana ketika menghampiri lidya di dapurnya.


“Cari muka? Bua tapa, wong muka lidya ada dan masih cantik begini. Muka mama tuh, sesekali periksain lagi takut efek oplasnya mulai pudar.”


“Berani kamu ngelawan saya? Belum saya restuin jadi istri van aja udah begini,” sinis mama ana, dan lidya hanya mengedikkan bahuya.


“Cuma ingetin, jangan sok nilai muka orang lain jika muka sendiri aja dipermak abis. Setidaknya muka lidya ini muka asli, untung mama ngga punya anak lagi. Kalau iya, pasti orang akan banyak tanya.” Lidya berlalu pergi meninggalkan sang mama yang tampak mengepalkan tangannya.


Lidya tampak begitu telaten mengurus calon ayah iparnya itu, karena memang ia terbiasa mengurus sang mama yang sempat lemah karena terancam kebangkrutan papanya.


“Minum obat sudah, tadi sempet makan siang, sekarang tidur lagi, ya?” pinta lidya yang merebahkan tubuh ayah sam di ranjangnya. Mama ana justru tak melihat mereka disana, ia entah sedang sibuk apa dibelakang dengan urusannya sendiri.


“Mama ngapain? Lidya mana?” tanya van yang turun dari kamarnya melihat mama ana diam seribu Bahasa tanpa gerak di dapur mereka.


“Dia lagi cari muka sama ayah kamu, ampe mama tanya aja malah disinisin sama dia. Belum jadi mantua ja udah gitu. Kebiasaan jadi kang bully,”


“Ma_”


“Emang bener kah? Kamu harus hati-hati sama dia, Van. Orang-orang begitu itu suka manipulative, bisa-bisa kita hanya dimanfaatin dia nanti.”


“Demit,” gumam mama ana dalam hati.


Lidya melihat rumah yang berantakan itu lantas segera membereskannya padahal bibik sudah melarang. Memang hanya bibik yang bertahan disana hingga saat ini, karena semua ART mereka memilih mundur karena tak tahan dengan sikap mama ana. Bibik saja karena memikirkan van, dan karena tak tega meninggalkan van ditangan mama tirinya.


“Kamu masih seperti ini dengan lidya?”


“Aku bilang aku ngga suka dia, Mas. Dia itu pembangkang, ngga bisa hormatin aku sebagai mamanya van,” tukas mama ana pada suaminya.


“Atau hanya kamu yang merasa seperti itu, Ana? Aku sudah matang, jangan lagi kau pertemukan van dengan siapapun, terutama untuk menjodohkannya. Aku mengawasimu,” tegas ayah sam pada istrinya. Yang meski bukan pertama, ini serasa begitu perih menusuk ulu hatinya.


Mama ana yang perih saat itu lantas meraih selimut dan berbaring menutupi tubuh membelakangi suaminya. Entah apa racauan yang ada dihati dan kepalanya saat ini, yang jelas mama ana pasti sedang tak bisa mengendalikan fikirannya sendiri.


"Kakak sibuk kah?" tanya lidya yang menghampiri lidya di ruang kerjanya. Van langsung menghentikan aktivitas dan menatap lidya yang langsung mendekat dan meraih pinggang lidya yang berdiri tepat disampingnya. Ia sempat menawarkan paha agar lidya duduk disana tapi lidya menolak dan memilih berdiri saja disana.


"Ada apa?" tanya lembut van sembari meraih rambutnya yang terurai indah.


"Padahal katanya kangen, malah ditinggal kerja. Ngga asyik ih," omel lidya dan van hanya tertawa.Lidya rupanya sudah bisa protes dengan segala kesibukan dan mulai mencari perhatiannya saat ini.


"Kau tahu, jika seperti ini kau semakin menggemaskan," colek van dihidung lidya, turun ke dagu dan meraihya untuk mendekat. Namun seketika lidya menutup bibir dengan telapak tangan dan menggelengkan kepalanya pada van.


"Ya... Ditolak lagi," keluh van yang melepas dekapan dan menggaruki kepalanya.