I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Pertarungan dimulai.



"Astaga, Mama! Ini... bagaimana bisa begini?" tanya zha ketika melihat semua berita yang ada disana.


Manipulative mama ana yang membuat argument ketika ia lah yang dipisahkan dari zha selama ini oleh mantan suaminya, dan ia akan mengambil zha sebagai hak atas ibu yang telah melahirkan zha. Dan seperti mama ana tahu jika zha telah membacanya, saat itu ia menelpon zha.


"Hallo, ma?" jawab zha pada panggilannya.


"Gimana, zha udah lihat beritanya?"


"Zha ngga sangka mama bisa seperti ini," jawab zha, tapi mama ana justru tersenyum disana.


"Itu baru artikel, Sayang. Mama belum membuat sebuah wawancara dengan semua infotainment di dkota ini. Dan jika itu semua terjadi, bayangkan bagaimana om edo kamu dengan perusahaannya. Kamu mungkin ngga tahu apa-apa, Zha. Tapi, berita itu bisa saja mempengaruhi semuanya."


Mama ana bicara panjang lebar, apalagi ia membahas jika om edo memang bekerja sama dengan suami barunya dan van sebagai pewaris mereka nanti. Mama ana seolah mengancam dengan kerja sama mereka disana, ia bisa mempengaruhi ayah van untuk mencabut semua alat berat yang ada dari tambang hingga akan menimbulkan kerugian bagi perusahaan om edonya.


"Jangan nekat, Ma! Om edo ngga ada hubungannya dengan semua ini. Dia hanya jalankan amanat dari ayah karena mama sendiri ngga ada saat zha butuhkan!" emosi zha pada kelakuan sang mama.


"Ya... Dan saat ini bukankah mama sudah kembali, apa salahnya memberi hak atas seorang ibu pada putrinya yang bahkan masih dibawah umur." Mama ana terus mencecarnya dengan alasan yang sama, seperti it uterus hingga zha bosan mendengarnya.


"Mama tahu, Om edo kesayangan kamu itu pasti sudah melihat semua berita ini. Tinggal menunggu keputusan kamu, Zha. Mau ikut mama, atau bertahan disana tapi harus mempersulit hidupnya. Oh iya, mama sudah siapkan kamar yang cantik buat kamu. Dan bahkan kak van Sudah membelikan teddy bear seperti yang kamu sukai,"


Zha disana sampai tak bisa berkata apa-apa. Napasnya naik turun begitu berat dengan segala emosi yang merajai hatinya saat ini, bahkan ia mematikan hp itu sangking tak mau lagi mendengar suara sang mama ditelinganya.


"Aarrrghh!!!" Zha melempar hpnya ke ranjang, memang terpental ke lantai tapi untungnya takk hancur karena pelan.


"Zha, sabar sayang," pinta wika padanya. Ia sedih melihat zha seperti ini, padahal baru saja binar bahagia tampak dari wajah manisnya sejak peresmian hubungannya dengan sang tuan.


"Gimana mau sabar, kak wika? Masalahnya jadi rumit begini gara-gara dia. Maunya apa sih?" suara zha mulai serak dibuatnya, tampak ia tengah menahan airmata saat ini dengan apa yang tengah terjadi.


Akan tetapi, tak hanya zha yang tegang saat ini. Di kantor dan bahkan seluruh jajara direksi sudah membaca semua berita yang ada di media masa. Mereka terpaksa mengadakan sebuah rapat hanya untuk membahas ini semua, berusaha agar berita tak semakin menyebar dan simpang siur tak jelas keluar sana dan mempengaruhi kinejar perusahaan mereka.


"Dia ana?" tanya salah seorang pemegang saham disana.


"Wajahnya berbeda," sahut yang lainnya. Hingga akhirnya om edo menjawab sesuai apa yang ada mengenai operasi wajah yang ia lakukan sejak lama, maka dari itu mereka selama ini begitu sulit untuk melacaknya.


Mereka mengatakan itu semua bisa menjadi alasan jika mama ana melakukan sebuah tuntutan, belum lagi dengan semua bukti yang mereka miliki saat ini beserta wasiat dari seto pada om edo mengenai putrinya.


"Anda benar akan menikahi zha? bagaimana dengan zha sendiri? Kami tak mau ada yang terpaksa disini,"


Yang saat ini jadi masalah adalah, perputaran berita yang belum jelas namun akan bergitu cepat menyebar kemana saja, belum lagi jika nanti media lain akan datang untuk meliput mereka semua berkerumun mencoba mencari fakta.


"Ana istri dari Tuan Sambodo, pemilik perusahaan alat berat yang selama ini bekerja sama dengan kita semua." Om edo kembali membongkar fakta-fakta pada mereka.


"Apakah dia tahu mengenai ini? Tentang istrinya?" dan untuk yang satu itu om edo belum bisa menjawab semuanya. Ia hanya duduk dan terus berfikir bagaimana dengan zha yang ada di sana, dan tak mungkin belum mengetahui semua berita ini.


Rapat dadakan belum menghasilkan apapun. Mereka masih akan terus mengawasi semua pergerakan dari saham dan yang lainnya saat ini, yang begitu sensitive dan bisa naik turun kapan saja tanpa bisa diduga.


"Pulanglah, dia butuh kau saat ini." ucap seorang sahabatnya disana."Kami akan terus mengawasi disini dan akan terus memberitahumu setiap perkembangan yang terjadi."


Om edo hanya mengangguk mendengarnya, dan ia segera bersiap untuk segera pulang menemui zha yang pasti sudah menunggunya saat ini.


Mobilnya terpacu dengan begitu kuat, dan saat itu ia menyetir sendiri karena om jek ikut mengawasi semuanya. Om jek bahkan pasang badan ketika nantinya kolega mereka menghubungi dan mempertanyakan semua berita yang sudah terlanjur ada dan menyebar kemana-mana.


"Kau yang membuat ini semua?" tanya ayah sam pada istrinya.


"Mas, aku hanya ingin mendapatkan hak asuh atas putriku."


"Tapi ini bisa menghancurkan reputasi kami, Ana. Kerjasama antara aku dan Edo itu sudah berlangsung begitu lama, bahkan sejak ibu van masih hidup." Mama ana memasang wajah tetang didepan suaminya, saat itu hanya van yang santai mendengar obrolan mereka berdua sembari terus memainkan hp ditangannya.


Van hanya akan menunggu dan tak ingin terlibat terlalu jauh, karena semu berawal dari mama ana dan janjinya.


"Ayolah, Mas. Aku janji tak akan terjadi apapun diantara kalian, aku hanya ingin semua orang tahu aku memiliki seorang putri, dan aku ingin dia kembali. Bukankah, kita ingin adik untuk van? Dia juga menginginkan zha. Benar kan, sayang?" tatap mama ana pada putra kesayangannya.


Van hanya menatap mereka berdua disana dengan anggukan pelan dari kepalanya.


" Aku hanya tak ingin ada kehancuran dalam keluarga kita dan mereka. Kau tahu itu, Ana." Ayah sam memberi ultimatum pada istrinya saat itu, karena ia juga takut dengan resiko yang akan mereka hadapi setelahnya.


"Edo Lazuardo tak bisa diremehkan, Ana. Meski kita mendapatkannya, tapi kita harus bersiap dengan apa yang akan terjadi setelahnya." Mama ana tampak langsung gugup dan ngeri mendengarnya.


Tapi apa boleh buat, ia sudah terlanjur masuk ke dalam permainan itu dan tak akan mudah untuk keluar dari sana. Yang jelas ia harus mendapatkan zha, untuk van dan segala pengakuan dalam hidupnya..


"Dicap mandul itu menyakitkan. Bahkan meski mereka tahu bahwa aku pernah hamil tapi selalu gugur. Ini saatnya aku buktikan, jika aku tak seperti yang mereka fikirkan." gumam mama ana dalam hatinya.