
Pagi datang. Zha dengan wajah kesalnya turun untuk sarapan bersama mereka semua disana. Tapi ia diam, tak seperti biasa yang aktif mengomentari makanan atau mengajak bicara siapapun yang ada disana.
"Zha hari ini les?" tanya wika dengan ramahnya.
"Ya, zha les. Pulang sore," jawabnya datar. Ia menikmati sandwichnya dengan begitu lahap dan nikmat, sembari terus mendiamkan om edo dan sama sekali tak menoleh padanya..
Om edo juga diam. Ia tak membujuk atau membuka percakapan pada gadis kecilnya yang ada disana. Ia tak merasa bersalah, karena sejak awal zha yang membuat masalah dan entah apa masalahnya. Ia makan dengan tenang, sembari menikmati segelas jus yang ada di depan matanya.
Ia memperhatikan zha sejenak, meraih tissue dan mengusap wajah zha yang sedikit berantakan lagi. Zha tak menepis, hanya terus menikmati makanan yang ada hingga habis semuanya lalu mengulurkan tangan pada om edo untuk pamit pergi.
Om edo juga beranjak. Ia juga akan pergi meski mereka tak bersama karena tujuannya sangat jauh berbeda. "Kenapa ikutin zha?"
"Hmmm?"
"Itu?" tunjuk zha pada om edo yang ad disampingnya...
"Kerja," jawab om edo tak kalah singkatnya.
"Kenapa bareng? Tunggu zha pergi harusnya," omel zha, yang membuat om edo seketika menelengkan kepalanya..
Om edo menggeleng. Ia meraih kunci mobil dan kemudian pergi meninggalkan zha yang jauh dibelakangya.
"Om!"
"Apalagi? Belum puas ngomelnya? Ini masih pagi dan_"
Zha mendekat. Ia membawa jas yang belum om edo pakai dan membantunya memasang jas itu segera. Zha juga tak lupa merapikan dasi om edo yang miring dari pandangan matanya. Ia tak paham, karena ayahnya tak pernah memakai jas atau dasi karena bekerja di lapangan. Tapi, ketika merasa terganggu maka ia akan segera membenarkan.
"Nah, rapi..." ucap zha dengan wajah datarnya. Ia lantas berjalan, meninggalkan om edo yang masih diam ditempatnya.
"Terkesima? Dia meski diam dan ngambek, tapi masih bisa memberi perhatian." Wika datang mendadak mengagetkan om edo yang masih menatap zha menaiki taxinya.
"Dia cerita apa?"
"Kesal, ngga diajak makan malam bareng."
"Hhh... Hanya itu saja," tawa kecil om edo pada kelakuan gadis kecilnya itu.
"Mungkin, baginya hal kecil seperti itu adalah hal yang paling_".
"Alah emboh_" Om edo memotong ucapan wika dengan jarcon zha. Ia pergi, dan wika hanya membulatkan mata mendengarnya.
Taxi tiba disekolah. Zha langsung disambut zavan saat itu juga dengan senyuman ramahnya. Seakan senyuman van meredam segala kekesalan zha pada om edo yang ada dirumah. Begitu menyejukkan dan menenangkan jiwa hingga zha seperti ingin memeluknya saat itu juga.
"Tumben udah sampai?" tanya zha yang menggenggam jari kelingking van.
"Bahkan jika bisa, aku kerumahmu semlam. Tapi, itu tak ku lakukan."
"Mau ngapain?" tanya zha dengan wajah merona. Saat itu van tertunduk menyejajarkan wajah mereka, menatap lekat pada mata indah zha dan memberi senyum penuh perhatian padanya.
"Kak Van... Iiiih!" Zha meraup wajah tampan itu dengan telapak tangannya. Bukan marah atau kecewa, Van justru tertawa dengan tingkah zha yang menggemaskan baginya.
"Kau sudah beli hp baru? Kenapa tak menghubungiku?" Van kembali menegakkan tubuhnya.
"Ini, hp baru. Tapi zha ngga ada nomor kakak. Tanya dinda juga ngga ada," jawabnya jujur. Van tampak mengerenyitkan dahi, tapi ia tak bicara apapun setelahnya karena fokus menyalin nomornya di hp zha.
"Kak_" panggil zha ditengah fokusnya van saat itu.
"Ya, ada apa?"
Sebenarnya zha ingin menceritakan pasal ucapan dinda mengenai van saat itu. Tapi, ia tak ingin jika nantinya van dan dinda akan berseteru hanya karena dirinya. Dan saat itu dinda pasti akan bingung menjadi penengah untuk mereka berdua. Hingga zha memilih kembali diam dan menyimpan semuanya demi persahabatan mereka.
"Zha?"
"Ya, Kak? Ehm... Ngga jadi deh, bentar lagi masuk. Dinda mana ya?" Mata zha mencari sahabatnya itu disekeliling aula. Tapi van segera mengajaknya masuk ke kelas dan mereka berpisah disana setelahnya.
Tulisan ada ada lagi. Simpanan om om, dengan tulisan yang sangat besar denganĀ spidol. Zha tahu itu tak permanen. Ia meraih tissue di dalam saku tas dan mengambil air untuk membersihkan mejanya. Ia hanya menggelengkan kepala, dan semua teman sekelas memperhatikannya.
"Loe ngga marah dikata begitu?" tanya akmal, salah seorang teman menghampirinya..
"Zha bukan simpenn om om yang seperti itu. Zha memang di asuh sama Om zha, jadi ya memang bareng dia terus. Terserah kalian mau anggap apa," jawab zha yang kemudian membuang sampahnya.
Sebenarnya bukan baru sekali zha bicara seperti itu. Setiap orang bertanya, zha pasti konsisten dengan jawaban yang sama. Tapi masih saja terus terjadi, hingga membuatnya begitu terbiasa dan hanya diam menerimanya.
"Ya, emang ngga ada sakit hati. Apaan sih? Justru penasaran sama yang tulis ini siapa. Tulisannya selalu sama dan tak berubah sama sekali." gumam zha dalam hati.
"Zha!" panggil dinda yang berhenti didepan pintu dengan napas terengah engah. Seperti baru saja dikejar satpam karena telat, tapi dia juga belum teat karena bel belum berbunyi.
"Dinda, kok larian?" tanya zha sembari memberikan air minum pada sahabatnya itu. "Telat mulu sekarang."
"Iya, biasalah... Punya adek yang super butuh perhatian," jawab dinda yang akhirnya menarik napas lega. Mereka duduk bersama tanpa basa basi atau kata sambutan lain. Hanya fokus duduk untuk memulai pelajaran mereka, dan mengulang pelajaran lain hingga saat ujian tiba.
" Kita mau adain prom night loh. Kalian ikut kan?" tanya rika sekeretaris kelas mereka.
"Prom night?"
"Idih katrok. Itu, pesta perpisahan kelas." Lidya menyahutnya dari depan dengan nada cibiran.
"Tahu, tapi harus malem? Terus, pestanya gimana?" tanya zha dengan segala rasa penasaran yang ada.
Saat itu rika menceritakan pada zha mengenai rancangan pestanya. Ia mengingat itu dari pengalaman kakak kelasnya terdahulu, yang mampu merancang pesta dengan begitu indah dan megah di sebuah hotel bintang Lima.
" Di hotel?"
"Iya, kenapa? Kita cuma pakai gedungnya aja, ngga kemana-mana. Kalau mau nginep, ya silahkan bayar pribadi. Nanti kita kontrol, dan dewan guru juga akan kontrol semuanya." ujar rika dengan segala penjelasan yang ada.
Bukan masalah biaya atau apa. Hanya saya tentang izin dari om edo padanya yang pasti akan sulit ia dapatkan.
" Kenapa? Loe ngga bisa keluar malem? Sibuk sama om loe? Eh, jangan om lah, sugar dady aja." Lidya kembali menyahut dengan ledekannya, bahkan semua anggotanya tertawa terbahak-bahak didepan zha.
Akan tetapi seperti biasa, jika zha tak pernah ambil pusing dengan ucapan lidya padanya. Ia hanya diam memikirkan bagaimana izin om edo akan ia dapatkan. Ia ingin datang dalam acara indah dan meriah itu, karena perpisahan dari sekolah lama saja ia tak datang kala itu.
Plaaakk! Suara pertemuan kulit tangan dan pipi seketika membangunkan lamunan zha. Ia melotot, ketika lidya dengan wajah marah dan merah itu melotot memegangi pipinya. "Loe berani nampar gue?!" pekik dya dengan tatapan nyalangnya.