I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Zha ingin bertemu mama.



Sebuah mobil mewah berhenti tepat didepan zha saat ini. Gadis itu segera berdiri dan mengulurkan tangan pada wika yang turun menghampirinya, "Maaf sayang, kelamaan." Wika langsung memeluk gadis zha denagn erat. Ia juga menjelaskan alasannya yang terjebak macet apalagi di jam pulang sekolah dan pulang kantor seperti saat ini.


"Ngga lama kok, Kak." Jawab zha padanya.


Wika menatap pria yang ada didekat zha sejak tadi. Pemuda tampan itu menatap wika dengan sedikit senyuman dari bibirnya yang manis. Ya, manis baginya karena selama ini ia dikelilingi oleh pria dewasa yang menjadi bos dan rekan kerjanya disana. "Dia teman baru zha? Kok cowok?" tanya wika padanya.


Zha hanya tersenyum malu-malu mendengar pertanyaan wika. Ia bingung menganggap Van sebagai apa, karena bertemanpun mereka belum, dan zha belum begitu mengenalinya. Hanya van yang sering datang dan menghampiri zha ketika sendirian.


"Kak Van, zha pulang dulu ya?" pamit zha yang kemudia mengalihkan perhatian.


"Baiklah, sampai bertemu besok zha," ucap van padanya. Ia tampak begitu ramah pada zha, tapi sepertinya tidak dengan yang lain. Terbukti ketika beberapa teman Wanita menyapanya dikantin, yang bahkan ia tak merespon sama sekali meski hanya melengkungkan senyumnya.


Zha berjalan masuk kedalam mobil ketika om jek membukakan pintu untuknya. Wika ikut masuk, dan ia menundukkan kepala pada van yang masih terus memperhatikan zha hingga benar-benar hilang dari pandangan matanya.


"Bagaimana hari pertama sekolah zha? Menyenangkan?" tanya wika yang penasaran mendengar cerita zha.


"Menyenangkan. Tapi zha tadi sempet dibully karena bawa bekel kesekolah. Mungkin dikira zha orang miskin, padahal bener sih miskin." Jawab zha jujur dan apa adanya. Bahwa selama hidup zha memang begitu sederhana, karena gaji sang ayah selalu terasa pas-pasan untuk mereka berdua. Tapi zha tak tahu, jika selama ini gaji sang ayah ditabung untuk masa depan zha agar lebih baik. Dan ayah zha hanya ingin mengajarkan sebuah kesederhanaan pada putri semata wayangnya.


"Zha ngga miskin, hanya hidup sederhana dan ngga mau memaksakan keadaan. Itu saja," balas wika. Mereka hanya tak tahu siapa orang yang ada dibelakang zha saat ini, yang bahkan berada dilevel atas mereka semua yang menghinanya barusan.


Tak berapa lama mereka berjalan, zha meminta mereka mampir ke sebuah minimarket untuk membeli sebuah cemilan untuk belajar nanti. Dan kebiasaan memang seperti itu dirumah terdahulu, karena zha selalu mengerjakan semuanya sendiri dan ayahnya selalu sibuk. "Udah, itu aja?" tanya wika pada belanjaan zha.


Menurutnya itu sedikit, dan padahal uang yang ada ditangan zha mampu untuk membeli lebih banyak dari apa yang ia pengang saat ini. Dan zha hanya menganggukkan kepala, beralasan jika semua itu cukup baginya. Ia ingin menabung, dan ia ingin sesuatu dengan uang yang ia tabung itu. Berharap cukup untuk melakukan apa yang ia rencanakan ketika sudah tiba waktunya nanti.


Keduanya pulang, dan telah tiba dirumah saat ini. Zha yang mengaku masih kenyang, lantas pergi ke kamar untuk mengerjakan beberapa tugas dari sekolah barunya. Dan saat itu wika menelpon om edo mengenai aktifitas zha yang telah diam dikamarnya, untungnya wika tak menceritakan pasal pembullian yang ia terima karena pasti akan membuat om edo segera mencari tahu siapa pelakunya.


"Sebentar lagi aku pulang," lapor om edo padanya. Wika mengangguk, ia sudah mulai mempersiapkan rancangan menu makan malam untuk mereka semua apalagi om yang akan pulang kesana mala mini. Pasti sedikit ramai, tapi ramai ceria karena zha dekat om yan yang supel padanya.


Zha yang telah mengganti pakaian itu benar-benar menuju meja belajarnya saat ini. Ia mulai membuka beberapa buku dan mengerjakan tugas yang ada, mengejar materi yang sempat tertinggal selama beberapa hari. Rupanya kurikulum antara sekolah lama dan sekolah baru itu tak berbeda terlalu jauh dan pelajaran juga kebanyakan sama hingga zha bisa lebih mudah mengejarnya.


**


"Hay sayang," sapa om yan yang ternyata lebih cepat pulang hari ini.


"Om sengaja biar cepet ketemu zha. Om penasaran bagaimana zha disekolah barunya hari ini, dengan teman baru atau bahkan disana ada cowok yang suka sama keponakan cantik om yang satu ini," goda om yan yang seketika membuat zha tersipu malu.


"Iiih, Om yan gitu. Zha kan ngga boleh pacarana sama ayah sebelum lulus sekolah,"


"Ya, kalau sekedar suka itu wajar kan?"


"Idiiiih... Om edo sama Om yan duluan sana, masa zha yang masih kecil. Om kan udah berumur," ledek zha dengan manja menjulurkan lidah pada omnya.


"Eh, malah ngeledek omnya. Udah bisa nakal sekarang ya?" Om yan meraih pinggang kecil zha dan dengan jahil mulai menggelitikinya hingga tertawa.


Mereka terkekeh bersama, sembari terus saling lempar ledekan antar keduanya. Seakan tak kehabisan bahan, hingga akhinya zha dia sejenak untuk bertanya dengan wajah seriusnya.


"Om, kenal ayah zha udah lama kan ya? Sejak ayah masih bujang?" tanya zha tiba-tiba.


"Ya, kenal sekali. Kami bekerja sama-sama , sekolah, dan bahkan kuliah. Tapi ayah zha memilih berhneti dan fokus untuk mengurus zha saat itu." Karena memang ayah zha kuliah sambari bekerja, dan yang tertua diantara mereka. Dan mungkin, fikirannya sudah lain lagi dari para adik-adiknya disana.


"Mengenai mama?" tanya zha. Dan saat itu, om yan diam menunduikkan kepalanya karena sebenarnya ia tak mau membahas Wanita itu seumur hidupnya.


"Zha kenapa tanya mama? Dia bahkan tak perduli sama zha dan tega meninggalkan zha begitu saja." Tegas om yan padanya.


Mama zha memang meninggalkan gadis kecil itu di usia Tiga tahun. Sekian lama tak berkabar dan keduanya mulai hidup dengan tenang, tapi entah bagaimana caranya hingga suatu hari mama zha menjual nama ayahnya sebagai jaminan hutang. Seperti Wanita itu tahu, jika hidup mantan suami dan anaknya saat itu tengah begitu baik dan masih saja ingin memanfaatkannya.


Kabar burung mengatakan, jika uang yang ia dapat saat itu digunakan guna memperbaiki dirinya sendiri. Ya, dia merombak diri dengan modal yang cukup besar agar bisa menggaet pria kaya agar mau menikahinya. Entah operasi plastik atau apa, yang jelas mama zha sudah menjadi orang yang berbeda saat ini.


"Om edo sudah mau membantu ayah zha melunasi hutang itu, tapi ayah zha menolak. Seperti itulah ayah zha, yang tak pernah mau merepotkan orang lain untuk dirinya sendiri."


Om yang sedikit berkaca-kaca ketika menceritakan hal itu padanya, "Dan sejak tahu hal itu, kami sama sekali tak pernah membahas hal itu lagi dengan ayah zha. Dia benar-benar hanya ingin fokus pada zha dan memberikan zha yang terbaik untuk putri semata wayangnya.


"Ingatan zha belum ada sama sekali tentang mama. Apakah salah, jika suatu hari zha ingin mencarinya? Zha hanya penasaran, itu saja." ujar seorang gadis yang tak memiliki kenangan sama sekali dengan sang mama.