
“Apakah kau selalu seperti ini jika aku tak ada di rumah?” tegas ayah sam lagi, tapi mama ana menggeleng lesu menjawabnya.
“Itu watak asli yang kau sembunyikan selama 15tahun bersamaku?”
“Mas?!” Mama ana akhirnya buka mulut ketika terus dicecar oleh berbagai pertanyaan dari suaminya. Napasnya tak beraturan, seperti masih ingin mencari alasan dari apa yang dituduhkan sang suami padanya.
“Mana ada mama yang diam ketika gadisnya yang masih belia dimanfaatkan oleh bujang tua seperti dia? Zha yang ngga tahu apa-apa itu terus dicecar dan di goda dengan kata cinta dan rayuan manja. Aku ngga bisa diem seperti itu,” sergah mama ana menggigiti kukunya. Dengan seperti itu ayah sam justru amat paham ketika istrinya tengah berkilah membela diri dari segala alasan yang tengah ia tutupi.
“Kamu kenapa ngga percaya sama aku? Aku hanya refleks sebagai seorang ibu dengan putrinya yang susah diatur, Mas. Andai aku bersama zha lebih lama, pasti semua tak akan seperti ini. Sukses mereka meyembunyikan zha dariku dan mengotori fikirannya dengan_”
“Anastasya! Meski aku diam, bukan berarti aku takt ahu bagaimana masa lalumu!” Mama ana sontak diam dengan kerasnya suara sang suami. Seumur bersamanya, baru kali ini ayah sam begitu keras dengannya, apalagi hanya karena zha.
Mama ana langsung mengeluarkan jurus airmatanya, ia lantas turun mengusap telapak tangan dan bersimpuh memohon maaf pada ayah sam atas kekhilafan yang telah ia lakukan. “Maaf, Mas, aku minta maaf atas semuanya. Aku janji ngga akan lakuin itu lagi, Mas. Mulai sekarang, aku akan biarkan zha dan kita fokus pada masa depa putra kita.” Mama ana menaruh kepala dipaha ayah sam.
“Dimana dia sekarang?”
“Aku belum tahu, Mas. Semlaam mereka menahanku agar tak bisa keluar dan menhubungi siapapun. Tapi, sepertinya ia tengah terpuruk saat ini karena di tinggal menikah oleh zha yang kabur darinya. Kita cari yuk, Mas?” ajak mama ana pada suaminya itu.
Ayah sam memejamkan mata dan meraup kasar wajahnya saat ini. Ia tak menyangka segala perhatian van pada zha itu memiliki arti yang sangat berbeda, padahal selama ini ayah sam mengira van benar-benar tulus pada zha sebagai adik kesayangannya.
“Aku seperti sudah kehilangan mula berhadapan dengan Tuan edo,” lirihnya penuh sesal, bahwa ia telah mendukung istrinya memaksa zha ikut dengan merea disana.
“Mas, jangan fikirkan dia yang sedang bahagia disana. Kita cari dulu zavan kemana, Mas.”
“Bahkan itu anak kandungmu, Ana!”
“Iya, Mas, tapi setidaknya dia bahagia bersama suami dan keluarganya yang lain. Aku bahkan ditahan disini oleh mereka agar tak mengacaukan semuanya,”
“Itu karena kau sebagai dalang dari semua kekacauan ini,” balas ayah sam dengan suaranya yang mulai berat. Tak hanya saura, tapi juga kepalanya begitu berat saat ini tapi mama terus memaksa ayah sam untuk mencari putra mereka yang tengah ada dimana.
Ayah sam akhirnya menuruti istrinya, bersama supir yang mengambil alih perjalanan itu mereka menyusuri tempat dimana terakhir van berada. Mereka mencari ke bandara, bahkan bertanya ke semua teman sekolah van hingga akhirnya mama ana menemukan nomor lidya dari salah seorang sahabat yang merupakan orang tua teman sekolah van.
Mama ana berusaha menghubungi lidya saat itu, terus beberapa kali meski lidya sendiri tak menjawab bahkan mematikan panggilan itu secara sepihak. “Kak, dya tahu ini dari mama ana. Pasti mereka cemas cari kakak dimana,”
“Sudah ku bilang jangan, LIdya! Jika kau tak mau menemaniku, pergi saja pulang kerumahmu. Orang tuamu pasti juga tengah panik mecarimu saat ini,” titah van, dan lidya langsung menggaruk keningnya bingung.
Ia harus apa? Ia juga cemas jika van terus seperti ini padahal ia sendiri sudah berjanji menjadi perantara untuk van bertemu dengan zha nanti. Hingga akhirnya lidya mematikan panggilan itu untuk yang kesekian kali, tapi menyalakan GPS agar mama ana mengatahui keberadaannya saat ini.
“Ini… Ini maksudnya apa? Maksudnya dia mengajak atau bahkan menyembunyikan van di hotel, begitu?” Mama ana mulai berfikiran buruk antara mereka berdua disana. Isi kepalanya sudah berputar kemana-mana dan tak jelas arahnya.
“Datangi dulu, yang penting van ketemu. Urusan lain, nanti kita bicarakan bersama mereka atau bahkan keluarga lidya.”
“I-iya, Mas.” Mama ana menunjukkan arah pada sang supir agar membawanya ke hotel dimana keduanya berada. Meski awalnya keberadaan mereka adalah informasi rahasia hotel , tapi dengan permohonan mama ana dan ayah sam akhirnya petugas memberikan informasi kamar mereka berada.
Keduanya berjalan menuju kamar itu ditemani roomboy yang tengah bertugas, hingga mengetuk pintu hingga lidya membukanya.
“Iya, ada apa?” tanya lidya yang hanya sedikit melongokkan kepala pada mereka yang ada disana. Dan ketika melihat mama dan ayah dihadapannya, lidya segera membuka pintu membiarkan mereka masuk kedalam menemui van yang tengah duduk diam menghadap jendela kamar dengan hamparan kota yang luas menjadi pemandangannya.
“Van?” panggil mama yang kembali berlinangan air mata.
“Kenapa kau biarkan mereka kemari?” tanya van yang justru menyalahkan lidya atas kedatangan mereka.
“Van, kami datang memang atas petunjuk petugas bandara yang mengurusmu semalam. Jangan salahkan lidya atas kebodohan yang telah kamu lakukan, Van.” Sergah ayah sam padanya. Van disana hanya bisa menarik napas panjang dan mengeluarkannya dengan kasar.
“Van jangan begini, Sayang. Van harus bangkit dari zha, karena diluar sana banyak pengganti zha yang bisa membahagiakan kamu,”
“Seperti mama yang mencari pria lain dan meninggalkan keluarga demi bahagia? Bagaimana rasanya?”
“Kak van,” tegur lidya padanya. Tapi van hanya tersenyum getir, ia bahkan tak menoleh sama sekali pada mama dan ayah yang ada disana meski mama ana berkali-kali merayunya untuk pulang bersama mereka.
Semua janji diucapkan agar van pulang, dan bahkan berjanji untuk mencarikan jodoh lain dari keluarga yang baik untuk van nanti. Padahal mama ana sendiri yang membuat asal usul zha tampak tak baik didepan mereka semua.
“Dan, kalian berdua disini semalaman?” tanya ayah sam pada keduanya. Mau tak mau lidya mengangguk karena memang itu kenyataannya, dan ia memang menemani van semalaman demi menenangkan dirinya dengan segala kegalauan yang ada.
“Ayah… Ingin bertemu dengan orang tuamu secepatnya,” ucap ayah sam, yang membuat mata lidya langsung membulat sempurna mendengarnya, bahkan van yang sejak tadi datar akhirnya menoleh menatap ayahnya dengan penuh tanya.
“Ta-tapi, Om, kami disini ngga melakukan apa-apa. Lidya hanya menenangkan kak van yang semalam memang tak bisa tidur karena terus memikirkan zha.” Dan lidya menceritakan semua kejadian yang ada, dimana ia juga yang menukar diri dengan zha agar sahabatnya itu bisa pergi dari van dan menikah dengan kekasihnya disana.
“Tetap, kami harus bertemu dengan orang tuamu karena kalian sudah tinggal bersama disini semalaman. Tak mungkin tak terjadi apapun karena kalian sama-sama dewasa,” balas ayah sam padanya.
Lidya hanya menarik napasnya kasar, ia menepuk jidatnya karena tak menyangka semua akan separah ini jadinya. Ia memang cinta van, tapi ia tak ingi dengan cara seperti ini apalagi ia tahu jika van masih belum membuka hatinya.
Tapi bukan itu. Mama ana justru seperti tak suka jika van dengan lidya, dan ia memasang wajah kesal dengan keputusan suaminya.