
Zha dan lidya tiba di Rumah sakit. Disana mereka langsung masuk ke dalam ruangan papa sam untuk menjenguk, untung saja mama ana sedang tak ada disana hingga mereka aman sementara.
"Papa," sapa Zha yang langsung mendekat dan memeluknya erat. Lidya juga mendekat, tapi ia hanya menundukkan kepala memberi hormat pada calon ayah mertuanya itu.
"Ayah sudah mendingan?" tanya lidya padanya.
"Ya, seperti inilah keadaan ayah. Untung saja van begitu dapat diandalkan untuk semua pekerjaan yang ada," balas papa Sam mengusap bahu sang calon menantu.
Sebenarnya ingin sekali untuk segera menikahkan mereka berdua, tapi ia juga tak bisa untuk egois dengan pemikirannya kali ini. Biar bagaimanapun baik lidya dan van memiliki keputusannya masing-masing untuk masa depan mereka. Di usianya yang rawan seperti ini, rasanya ingin segera melihat anak bahagia dengan menggendong cucu ditangannya.
Perawat datang untuk memeriksa, kemungkinan hari ini ayah sam diizinkan untuk segera pulang ke rumah, dan itu tandanya van akan segera datang untuk menjemput.
"Kak van tahu ayah boleh pulang?" tanya lidya yang membantu untuk membereskan semua perlengkapannya, sementara zha diminta van untuk membantu mengurus administrasi sang papa sambung.
"Tahu, selesai rapat mungkin dia akan segera datang." Ayah sam berusaha duduk agar lebih santai dalam obrolannya. Banyak hal yang mereka obrolkan, termasuk rencana lidya dengan pendidikan yang baru saja ia tempuh dan lulus. Mereka berdua memang sudah begitu akrab, apalagi ayah sam memang slaah satu rekan kerja papa lidya dan om edo selama ini.
Kreeek! Pintu ruangan itu dibuka. Degup jantung lidya langsung tak karuan ketika nama van disebut oleh ayahnya barusan. Ia segera menoleh, gugup tapi masih melempar senyum menggigit bibir.
"Kau tak rindu padaku?" tanya van menrentangkan tangan dengan buket bunga yang ia pegang saat itu.
"Kangen," angguk lidya yang berlari mendekap tubuh kekasihnya, bahkan menenggelamkan wajah di dada bidang van saat itu karena jarangnya mereka bertemu. Van tersenyum lantas mengusap punggung lidya dan mengecup kepalanya.
"Zha mana?"
Hingga akhirnya zha datang dengan beberapa lembar berkas ditangannya. Ia tersenyum smirk melihat lidya yang masih bersemu malu meski hubungan mereka sudah mendapatkan restu kedua orang tua.
"Cieee, ketemuan," usil zha pada mereka berdua. Sontak wajah lidya semakin merah merona dibuatnya dan ia segera melepas pelukan dari van. Tak lupa meraih buket bunga yang van bawa untuknya saat itu juga.
"Ini buat Zha juga?" tanya lidya dan dijawab anggukan oleh van.
Lidya memberi satu buket kecil untuk zha, sementara yang besar adalah miliknya. Zha manyun, merasa van mulai tak adil pada adiknya saat ini.
"Apa? Minta yang gede sama suamimu. Dia bahkan lebih kaya dariku," ketus van pada tatapn zha. "Masih mending aku inget,"
"Iya, tauk, yang lagi kasmaran. Udah yuk, pulang, kasihan papa." Zha menghentikan ucapan dan menghampiri papa samnya, dan tepat saat itu juga om edo menelpon zha.
Ia menanyakan zha saat inu bersama lidya dan pasti ayah sam ada didekatnya. Ia bahkan sempat mengobrol sebentar karena biar bagaimanapun ayah sam ada mertua sambungnya meski enggan mengakui mama ana.
"Jangan pulang terlalu lama, ingat kesehatanmu,"
"Iya, Sayang. Yaudah, zha pamit lagi, ya? Bye, muuuaaah!" Zha mengecup suaminya dari kejauhan. Kini giliran van dan lidya kompak mentertawakannya.
"Haish.. Apaan?" tatap tajam zha pada mereka berdua.