I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Aku bukan orang tua Zha



"Om dimana? Udah makan siang?"


"Tumben menghubungiku?" tanya datar om edo padanya. Zha langsung memanyunkan bibirnya saat itu juga.


"Pemuda itu tak masuk sekolah hari ini?" tanya Om edo, yang saat itu tengah duduk dipinggir jendela kaca menatap pantai yang indah. Seketika ia ingat zha dan permainannya berlari dengan riang disana.


"Ih... Kok tahu?" Zha langsung menoleh kanan kiri, takut jika diam-diam ada orang om edo yang mengawasi.


Om edo hanya diam ketika menceritakan zavan yang memang tak masuk sekolah hari ini. Dan ia begitu kaget, ketika om edo mengatakan jika ia bertemu dengan zavan barusan. "Hah?" Zha seakan tak percaya. Tapi meski begitu, om edo tak pernah bohong padanya.


Tak banyak yang mereka obrolkan karena waktu yang singkat. Apalagi, zha harus menyelesaikan makan siangnya dan om edo harus melanjutkan semua pekerjaan. Dan jelas, ia harus melihat van lagi saat itu terjadi.


"Pak Edo..." Rupanya van lah yang menyapa om edo dalam perjalanan menuju ruang pertemuan iti.


"Kau?"


"Ya, saya zavan teman zhavira."


"Kau bolos?"


"Izin," jawab van dengan sopan padanya sebagai tanda hormat bahwa ia adalah wali dari zhavira.


"Kau tak perlu seramah itu padaku, aku bukan orang tua zha." Om edo merapikan diri lalu pergi meninggalkan zavan dengan tanda tanya pada ucapannya.


Acara mereka dimulai kembali. Om edo tampak begitu fokus dengan semua susunan acara yang ada disana, sementara mata van terus saja mencuri pandang terhadapnya


"Kau wali zha, tapi kau tak ingin menjadi orang tuanya." Van bergumam dalam hati, mencari inti dari ucapan tadi.


*


Zha kembali ke kelasnya. Hari ini ia ke kantin dan makan sendiri karena dinda ada urusan dengan wali kelas mereka. Zha tak tahu itu apa, dan dinda tak memberi tahu Zha tentang semuanya.


" Kok lemes?" tanya dinda yang baru datang menghampiri zha di bangkunya. Ia langsung tegap dan menoleh pada sang sahabat dan menyapa dengan senyumnya.


"Dinda darimana?"


"Kan udah bilang, ketemu miss lola. Masa ngga inget."


"Kok lama? Zha ngga enak makan sendirian di kantin tadi."


"Iya, maaf. Besok ngga lagi-lagi. Emang kak zavan ngga masuk?" tanya dinda, dan zha menggelengkan kepalanya. Tapi ia tak cerita, bahawa van ada ditempat yang sama dengan omnya.


Waktu demi waktu akhirnya berlalu. Bel berbunyi dan mereka bersiap keluar untuk pulang kerumah masing-masing. Zha sendiri, karena dinda buru-buru pergi dengan jemputan yang sudah menunggu didepan.


"Ya, Om?" sapa zha ketika om edo menghubunginya.


"Aku menjemputmu siang ini, dan kau ikut aku sebentar."


"Kemana?" tanya zha dengan begitu antusiasnya. Tapi om edo tak menjawab, dan ia hanya meminta zha menunggu karena mungkin akan sedikit lama. Zha mengangguk, dan bersedia menunggu omnya hingga sampai disekolah.


Usai mematikan telepon, zha bersandar di tiang yang ada disana. Ia bermain game dan sesekali membuka media sosialnya. Sayang sekali ia tak tahu apa nama facebook zavan atau media sosial miliknya yang lain. Andai ada, pasti ia akan meminta nomornya dengan segera.


Zha akhirnya bermain game. Ia bermain hingga sekolah itu benar-benar sepi dan sesekali berjalan keliling untukĀ  menghilangkan rasa bosan yang datang menghampiri. Sangat bosan, bahkan hingga zha naik ke pagar pembatas aula dan duduk disana dengan begitu santainya.


"Sudah ku bilang akan lama. Bukankah kau menunggu?"


"Iya, zha nunggu. Tapi ini lama banget. Zha ampe kesel, kaki zha pegel rasanya. Lihat, zha ampe bergelantungan disini," cicit gadis itu yang masih duduk santai diatas pagar sekolahnya. Untung tak diberi ujung tombak seperti pagar rumah om edo sejak ia kabur beberapa waktu lalu.


" Ngambek?" tatap om edo datar padanya.


" Ngga ngambek, tapi kesel. Tahu ngga sih, kesel!" Zha mengepalkan tangannya.


Om edo melirik jam, lalu ia mengulurkan tangan agar zha turun dari sana segera. "Waktuku tak banyak. Turun jika kau memang ingin ikut," imbuh om edo.


Tapi zha bersedekap. Ia mengunci mulutnya dan tak bicara lagi pada om edo saat itu.


Grepp! Om edo meraih pergelangan kaki zha yang menggantung. Sekali lagi ia meminta agar zha segera turun jika ingin pergi bersamanya."Ngga mau... Dindingnya tinggi, zha ngga berani loncat."


"Lalu kau mau apa?" Zha menggelengkan lagi kepalanya. .


"Ish, tak peka. Pantas aja jomblo begitu lama. Wania dewasa saja akan ngambek kalau punya pacar seperti dia," gerutu zha dengan terus mentap omnya.


Tapi siapa sangka, om edo melepas kaki zha dan mengulurkan tangan kekarnya saat itu, "Turunlah,"


"Emang om kuat? Nanti kalau jatuh gimana? Zha bisa geger otak terus amnesia."


Om edo hanya mengedip mata lalu mengangguk untuk menjawabnya. Zha mempersiapkan diri, perlahan tapi pasti ia mulai meloncat dan...


Buggghh! Tubuh kecil zha jatuh tepat ditangan om edo yang kemudian menggendongnya ala bridal. Zha saat itu spontan mengalungkan lengan di leher pria bertubuh tegap itu, yang memang sepertinya sama sekali tak merasa beban pada tubuh zha saat ini.


Om edo berjalan membawa tubuh zha menuju mobilnya, ia tak menurunkan zha sama sekali ketika sampai. "Eh, tas zha ketinggalan. Tolong Om, ambilin." bujuk zha dengan manis dan manja.


"Dimana?"


"Disana, diatas tangga," tunjuk zha dengan bibirnya.


Saat itu om edo seketika menoleh dan memberi tatapan yang begitu tajam pada zha. Tatapan dengan kemarahan, seolah ia akan bisa menerkam zha kapan saja sesuka hatinya.


Bagaimana tidak. Disana ada tangga dan zha bisa melewatinya, tapi ia justru meloncat dan memaksa agar ia menangkap tubuhnya dari atas sana.


Taakkk! Jemari kuat om edo menyentil dahi zha, hingga gadis itu merintih kesakitan mengelus jidatnya. "Aaaahhh, jahat!" lirih zha. Tapi om edo tetap menuruti permintaan zha untuk mengambilkan tasnya yang tertinggal disana.


Om edo memberikan tas itu pada zha dengan sedikit kasar dan wajah yang cemberut. Tapi zha justru tersenyum, bahkan memberikan finger kiss padanya meski om edo begitu cuek nyaris tak melihatnya.


"Apa itu?" Rupanya om edo penasaran dengan kelakuan zha.


"Ini? Finger kiss. Menyatakan kalau zha sayang om beku yang perhatian. Perbanyak senyum ya? Biar makin ganteng," bujuk zha, lalu menempelkan jari telunjuk tepat di lesung pipit om dinginnya.


Wajah, rahang dan bibir yang tadinya mengatup kaku itu bergerak gerak sendiri saat ini, sembari beberapa kali memainkan bibirnya sendiri. Mungkin om beku itu tengah berusaha menuruti permintaan zha untuk tersenyum padanya tapi ia harus tetap menjaga wibawa.


Bayangkan saja, zha menunggu bibir itu terlengkung sempurnya sudah seperti menunggu ibu-ibu menawar dagangan pada penjual sayuran keliling saja saat ini. Hingga zha gemas, lalu meraih wajah itu dan membentuk lengkungan senyum itu sendiri.


"Nah... Ini maunya zha daritadi."