
“Zha!” panggil lidyra yang langsung berlari menghampiri sahabatnya itu. Ia langsung meraih zha untuk segera masuk, tapi akhirnya menoleh ketika sadar jika tangan van tak mau sama sekali melepaskan zha darinya.
“Kak, ini kenapa?” tanya lidya, memicingkan mata. Van begitu posesif hari ini dan seperti sulit untuk ditangguhkan hatinya, yang bahkan ia tak bisa meminta agar zha sejenak bersamanya menikmati pesta yang ada.
“Maaf, Dya,” ucap zha merasa tak enak hati. Namun untungnya dya begitu mengerti hingga akhirnya meninggalkan mereka berdua untuk memulai semua acara yang ada.
Tamu berdatangan masuk ke rumah besar itu dan duduk di tempatnya masing-masing begitu juga van yang duduk terus menggandenga zha didekatnya. Rasanya zha mulai tak nyaman, dan telapak tangannya berkeringat karena ulang van saat ini.
“Mau kemana?” tanya van ketika zha berusaha melepaskan genggamannya.
“Kakak ngga rasain tangan zha keringetan? Ini ngga enak loh,” balas zha.
Akhirnya van melepaskan genggaman itu dari zha agar bisa meraih tisu untuk membersihkan telapak tangannya saat itu. Dan zha tetap disana duduk santai menemani van bersama para kolega lainnya untuk mengobrol bersama mama ana dan papa sam. Meski zha sama sekali tak nyambung dengan obrolan mereka, tapi zha berusaha untuk tetap slay dan tenang menikmati minuman yang ada.
“Dia tak meminta hpnya sama sekali?” gaumam van dalam hati. Padahal ia fikir zha akan gelisah dengan tindakan yang ia lakukan saat ini.
Hingga akhirnya seorang yang mereka semua tunggu datang, orang yang paling berpengaruh dalam kehidupan pemilik acara saat ini dan menjadi tamu kehormatan mereka semua disana.
“Selamat datang, Tuan Edo Lazuardo.” Mc acara menyambutnya dengan penuh hormat, bahkan beberapa orang rela berdiri dan membungkukkan badan demi menyambutnya.
Om edo berjalan santai dan tegap melewati semua, dan ia sadar ketika ada zha duduk santai lalu mengedipkan matanya untuk sang kekasih hati. Zha yang menyadari itu langsung tersenyum dan menggigit bibirnya sendiri. Papa bearnya memag begitu tampan dan berkharisma, hingga semua orang menghormatinya.
“Kau harus membuat dirimu kuat untuk menyesuaikan diri dengannya, Zha.”
“Bagaimana jika dia yang menyesuaikan diri dengan zha?”
“Untuk pria sekelas dia, itu nyaris tak mungkin. Aku hanya tak ingin kau sakit hati dengan semua wanita yang mungkin ada didekatnya dan membuatmu merana.”
“Jika yang mendekatinya wanita itu masih wajar. Justru bahaya jika yang mendekatinya adalah pria,” jawab zha dengan sgela spontanitasnya.
Acara demi acara dimulai, kata sambutan dan bahkan pemotongan kue di laksanakan dengan meriah diiringi tepuk tangan oleh mereka semua disana. Bahkan terasa haru ketika lidya naik ke panggung untuk memberi selamat pada kedua orang tua yang telah merawatnya selama ini dengan susah payah. Dan lidya juga meminta maaf atas kenakalan yang telah ia buat selama hidupnya yang masih minim dengan pengalaman itu.
“Harusnya zha disana, bukan?” tanya zha memanyunkan bibirnya. “Zha boleh ke kamar mandi?”
Zha tampak berlari kecil menuju kamar mandi, sepertinya memang ia Sudah tak tahan menahannya sejak tadi. Apalagi genggaman tangan van sama sekali tak ia lepaskan dari adiknya. Tatapan mata pria itu pun saat ini tertuju pada om edo yang tengah duduk disana dan mengawasi pergerakannya. Ia curiga jika akhirnya mereka akan bertemu diam-diam dibelakangnya.
“Ya, mereka tak akan saling memanggil karena hp zha ada ditanganku saat ini,” gumam van menggenggam hp zha yang ada disaku celananya, tapi memang tak bergetar atau bahkan berbunyi sama sekali disana.
Van justru heran ketika zha dengan cepat kembali dari kamar mandi dan langsung duduk kembali padanya. Ia menoleh dan menatap zha dengan penuh tanya,”Apa? Ih, nethink mulu deh. Yaudah nih, pegang lagi.” Zha kembali menelusupkan jemarinya ditangan van.
“Zha, dipanggil mama papa, katanya mau diajak foto bareng.” Lidya menghampirinya, dan saat itu zha yang memilih hemat bicara melirik van untuk meminta persetujuannya.
“Lepaskan, Van. Zha tak akan kemanapun dan dia tetap dalam pengawasan kita,” pinta papa sam pada sang putra. Dan akhirnya van mengalah membiarkan zha pergi dengan lidya tanpa memberikan hpnya.
Awalnya semua biasa, van masih bisa mengawasi zha terus dengan matanya. Ketika zha berfoto dengan keluarga lidya dan bahkan tak melibatkan om edo sama sekali disana. Hingga acara makan malam bersama tiba, para pelayan lalu lalang mempersiapkan makanan dimeja para tamu yang ada.
Zha berdiri dengan minumannya lagi mengobrol begitu akrab dengan mama lidya, hingga sebuah jemari mengusap telapak tangannya yang ia taruh dibelakang. Zha paham, ia menoleh kanan kiri dan segera mengikuti kemana arah aroma tubuh yang ia kenali itu. Berjalan di Lorong yang cukup panjang hingga benar-benar sepi, hingga sebuah tangan meraih zha untuk masuk kedalam sebuah ruangan.
Greeep!! Om edo menghempas dan meghimpit tubuh zha yang mungil itu ke dinding dengan tubuhnya yang besar. Tangan kanan om edo bertumpu pada dinding itu dan satu tangan lagi meraih pinggang ramping zha untuk mendekatkan mereka berdua. Zha tersipu, menggigit bibir bawahany sendiri dengan wajah yang merona.
“Sejak tadi dia mengekangmu, hingga kita begitu lambat untuk bertemu, Nduk. Kau tahu bagaimana aku sejak tadi?” tatap tajam om edo tepat dimata indah zha.
“Gimana, zha pengen tahu.” Zha justru tersenyum dan meraba dada bidang om edo dengan tangan mungilnya, terus merayap naik ke leher hingga menangkap wajah tegasnya disana.
Om edo meraih satu tangan zha dan kemudian mencium telapak tangannya dengan mesra. Beberapa kali, dan terus turun ke lengan hingga ke leher lalu telinga, membuat zha terkekeh kegelian karena ulahnya. “Hahaa… Ampun, Om… Jangan gitu,” tawa zha mengisi seluruh ruangan itu.
Om edo yang terlanjur gemas lalu membungkam mulut zha dengan bibirnya. “Emmpphh!!” Zha melenguh karena semua ia dapatkan secara tiba-tiba, tapi ia suka dengan semua sentuhan yang om edo berikan padanya.
Tangan zha meraih lengan kekar itu lalu mencengkramnya dengan kuat, satu tangannya lagi menekan kepala belakang om edo untuk memperdalam kecupan mereka yang singkat tapi nikmat.
Sementara itu van mulai kelimpungan disana. baru Lima belas menit zha tak nampak didepan mata dan ia mulai gelisah mencarinya. Lidya juga seolah menghilang entah kemana begitu juga dengan om edo yang sejak tadi ikut diawasinya.
“Aaahh… Sial!” Zha pergi tanpa hp dan aku tak bisa menghubunginya. Kenapa ini justru menjadi boomerang untukku” geram van dengan nasibnya saat ini. Ia kebingungan dan seakan kesepian diantara keramaian yang ada. Isi kepala van dipenuhi oleh zha. Dan andai ia mendapatakn gadis itu, ia akan membawanya pulang dengan segera.