I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Zha menjadi sandera mama



"Zha!" panggil lidya ketika mereka berdua dipisahkan arahnya. Lidya dibawa keluar lewat pintu awal tujuan dan zha dibawa kembali kebelakang sana dan entah bagaimana.


"Kamu diem kalau ngga mau sahabatmu celaka!" ancam vina padanya.


Jujur saja, melihat tatapan vina barusan sama sekali tak membuat dya takut padanya. Ia hanya mencemaskan zha ditangan nekat mama ana yang mungkin bisa melakukan apa saja pada putrinya.


Dengan ancaman itu lidya sama sekali tak berteriak, ia menurut pada vina bahkan hingga masuk kedalam mobilnya. Vina masuk dan mobil itu ia kunci rapat dan mulai menyalakannya saat itu juga.


Van yang mendengar nyala mobil itu langsung menoleh kearahnya. Kaca yang tak terlalu hitam membuatnya bisa melihat sosok lidya didalamnya.


"Ay!!" Van langsung menghampiri dan berusaha mengejar mobil itu dengan cepat, apalagi vina megetahui keberadaan van dibelakangnya.


"Brengsek!" Vina terus berusaha mencari celah agar dapat segera kabur dari sana meski mulai banyak polisi yang ikut mengejar dan mengarahkan senjatanya. "Aku ngga boleh lengah, bisa sia-sia semuanya kalau begini." Vina bahkan nekat menabrak apapun yang ada dihadapannya saat itu.


Van mulai geram. Ia melihat laju kendaraan yang ada, lalu memperhatikan rute yang bisa ia gunakan untuk memotongnya. Ia bahkan meraih pistol milik polisi saat itu, berlari sekuat tenaga, kearah berlawanan kemudian meloncati bagian depan mobil yang terparkir.


Braaak! Hingga ia sekarang ada dibagian depan mobil vina, berlutut dengan satu kaki dengan pistol tepat ia arahkan ke mata wanita itu yang dengan spontan mengerem mobilnya. Lidya sampai terantuk dashboard saat itu.


"Lepaskan dia, atau peluru ini mendarat di kepalamu?" ancam van padanya. Yang meski tak terlalu jelas di dengar oleh vina.


Vina awalnya tersenyum remeh, lantas membulatkan mata ketika van benar-benar menembakkan pistol itu kearahnya. Untung meleset meski hanya beberapa centi, dan jelas van segaja melakukannya. Dan wajah mulus vina tergores pecahan kaca, untung lidya segera menundukkan kepalanya.


Tubuh vina lantas gemetaran, ia meraih wajahnya yang terluka dan melihat darah ditangannya. "Aarrrggghhh!" Vina langsung berteriak sejadi-jadinya dan meraih tisu yang ada disana.


Kesempatan itu dipakai lidya untuk segera membuka pintunya dan keluar. Van langsung turun dan mendekapnya saat itu juga. Sementara polisi yang ada langsung menyergapnya. Dan saat itu lah vina histeris, berteriak sejadi-jadinya seperti orang kesurupan.


"Mama dengar itu? Dia sudah tertangkap," senyum zha puas ia perlihatkan pada sang mama.


Awalnya mereka sudah naik mobil dan akan mengikuti jejak vina, tapi sepertinya mama ana urung karena tak ingin mengalami nasib yang sama.


Mama ana mendadak membuka pintu dan menarik zha keluar lagi dari mobilnya. Ia menyeret sang putri untuk naik keatas, menaiki beberapa anak tangga hingga dirinya sendiri kelelahan saat itu.


Hari sudah larut malam. Apakah ia berfikir jika semua orang akan menghentikan pencarian sementara waktu dan membiarkan mereka kabur setelah ini?


Zha dibawa duduk dan diikat kembali disebuah kursi, sementara mama ana merebahkan diri di lantai yang ia duduki saat itu. Tampak sekali jika ia sebenarnya kelelahan saat ini.


"Andai kau menurut sejak awal, pasti semua ini tak akan terjadi. Kau akan mewarisi harta papa sam, dan kita akan hidup bahagia bersama. Apalagi kau mneurut ketika ku jodohkan dengan salah satu pria itu."


"Dan kak van menurut mama jodohkan dengan wanita pilihan mama?" tanya santai zha sembari kembali tersenyum padanya.


Pada saat seperti ini saja ia masih licik, tak merasa bersalah sama sekali meski ia tahi bisa ditangkap kapan saja.


Memang sejak tadi om edo tak tampak, entah apa yang tengah ia rencanakan saat ini pada mereka berdua. Tapi zha yakin, jika sang suami akan menyelamatkannya sebentar lagi.


"Kau mencariku?" tanya om edo yang mendadak muncul, membuat mama ana tersentak kaget dan melihat sekelilingnya. Padahal pintu utama menuju tempat itu sudah ia kunci dan yakin tak akan ada yang bisa masuk kesana.


Ia bahkan berjalan dengan begitu santai menghampiri mereka berdua dengan satu tangan didalam sakunya. Sementara mama ana mulai tampak cemas dan meraih zha untuk menngancamnya. Kebetulan ia memiliki sebuah jepit kuku dengan pisau kecil didalamnya.


"Aaakkhh!" Zha memekik ketika benda itu mengenai lehernya.


"Mundur, atau ku lukai istri kesayanganmu!" ancam mama ana pada menantunya.


Dan om edo mundur selangkah, ia kemudian justru duduk santai bersila memperhatikan gelagat mama ada dari tempatnya. Ia tak akan mungkin tega untuk melukai, karena om edo tahu jika. Ama ana takut melihat darah.


"Hingga kapan kau bisa bertahan dengan apa yang kau lakukan, Ana. Kau tak lelah seperti ini? Padahal kau mendapat keluarga yang baik dan begitu mencintaimu."


"Cinta? Kau tahu apa soal cinta? Kau saja menikahi anak sahabatmu yang masih belia. Seakan kau tak mampu mencari wanita yang seusia dan sesuai denganmu. Kau tahu apa tentang cinta?!" keras mama ana padanya. Tapi om edo hanya kembali tertawa.


"Mama, lepasin zha, Ma. Mama akan dapat maaf dari zha, dan zha ngga akan_"


"Diam kamu! Tahu apa kamu tentang ini semua? Kamu hanya tahu tanpa merasakan bagaimana berjuang hanya untuk mendapatkan hidup yang layak!"


"Kau sudah dapat, tapi kau terlalu serakah hingga ingin selalu lebih dari apa yang kau dapatkan." Om edo begitu santai dengan semua perkataannya saat itu.


Mama ana memekik. Ia seperti mulai tertekan dan frustasi dengan semua tekanan yang ia hadapi saat ini. Ia berlutut, tertunduk dan menjambaki rambutnya sendiri.


Kesempatan itu lantas dipakai zha untuk berusaha lari darinya. Tapi, mama ana meraih kaki zha hingga jatuh dihadapannya.


"Aaaakkhh!" pekik zha, yang tersungkur dengan hentakan keras saat itu.


Melihat zha memegangi perutnya, om edo lantas berdiri dengan tingkat kecemasan tinggi. Apalagi dengan kasar mama ana menyeret kaki zha untuk kembali dekat padanya.


"ANA!" Pekik om edo yang mulai marah padanya.


"Kau mau dia? Ambil, Edo.... Ambil dia dariku jika kau bisa?" tantang gila mama ana yang semakin mendekati ujung lantai yang tinggi.


Hanya zha sempat melirik kebawah, dan menghela napas lega dengan segala persiapan yang ada. "Ma, lepasin zha, Ma. Kita akan mati kalau jatuh." Zha tengah membujuk sang mama sebisanya.


"Kau takut mati? Padahal ini kesempatan menunjukkan baktimu pada mama." santainya membelai pipi zha. Apalagi. Kalau bukan harta dan uang yang mereka minta.


"Kau tak akan rugi hanya dengan memberi mama sebanyak itu." pintanya dengan penuh ancamam.